
Matahari terbit dari ufuk timur, membiarkan sinar keemasannya menyinari dunia. Kicauan burung saling bersahutan membuat sepasang anak manusia yang masih merengkuh indahnya dunia mimpi terbangun.
Thika menggeliat pelan dikala merasa ada yang menoel-noel pipinya. Dengan berat hati dia menekan kesadarannya lalu membuka matanya perlahan.
Sayup-sayup dia mendengar seseorang memanggilnya. "Sayang, ini sudah pagi. Tidak mau bangun?" Tanya Abi yang tangan usilnya menoel-noel pipi Thika dan sesekali menciumnya
Dengan cepat dia membuka matanya. "Kamu!" Ucap Thika terkejut.
"Ada apa sayang?" Tanya Abi, khawatir melihat istrinya yang tiba-tiba terkejut.
Thika memukul kepalanya pelan. 'Bod*h! Bukankah kamu sudah memutuskan kembali dengan Abi.' Batinnya. Merutuki dirinya yang tiba-tiba lupa ingatan.
"Ah…. Tidak, aku hanya sedikit terkejut. Karena ada kamu disampingku." Sahut Thika dengan senyuman kikuk.
Abi mendekatkan dirinya mencium sekilas bibir mungil istrinya. "Mulai sekarang kamu harus terbiasa." Ucapnya. "Sekarang mandilah, sudah jam tujuh pagi." Lanjutnya lagi, memberitahu Thika.
"Apa?!!" Pekik Thika. Dengan cepat menuju kamar mandi. Guna membersihkan dirinya. Bergegas untuk membangunkan putranya.
Sementara Abi terkekeh melihat tingkah istrinya, yang masih kekanak-kanakan walaupun sudah memiliki anak.
*
Di meja makan, sudah terlihat Aska dan Agastya yang sedang menunggunya. "Morning boys." Sapa Thika yang sudah berada di meja makan.
"Morning too mom, you're late." Kesal Agastya yang harus menunda sarapannya karena sang mommy yang belum bangun.
"Maafkan mommy ya, sekarang kalian mau makan apa?" Tanya Thika.
Agastya tampak berfikir. "Aku mau nasi goreng saja mom." Ucapnya. Lalu dengan telaten Thika mengambilkannya.
Setelah mengambil makanan untuk Agastya dia pun bertanya kepada si sulung. "Aska mau makan apa?"
__ADS_1
Aska menggeleng. "Aska bisa mengambilnya sendiri mom." Ucapnya menolak bantuan sang mommy. Thika tersenyum karena Aska yang sudah mandiri sedari kecil.
Tak lama, Abi menuruni anak tangga dengan tampilan memukau. Seperti biasa bapak dua anak tersebut memakai jas dan celana hitam dengan kemeja berwarna coklat. Jam tangan mahal yang melingkari pergelangan tangannya, jangan lupakan juga wangi parfum mahalnya. Sempurna, satu kata yang cocok mendeskripsikan Abi saat ini.
Dengan langkah cepat Abi menuju meja makan. Saat tiba di sana, dia menuju istrinya mencium kening istrinya lembut lalu beralih mencium anak-anaknya.
"Selamat pagi boys." Sapa Abi.
"Too dad!" Jawab mereka serentak.
Thika pun mengambilkan makanan yang disukai Abi ke piringnya lalu menuangkan segelas air putih. Abi pun menerimanya dengan senyuman.
"Kak Abi, aku akan pergi ke rumah kakak sebentar lagi tapi aku tidak bisa bersama dengan anak-anak." Ucap Thika memulai pembicaraan.
Abi menoleh menatap istrinya. "Pergilah, urusan anak-anak serahkan padaku. Aku akan mengajak mereka berkeliling nanti." Sahutnya.
Thika tersenyum, nyatanya Abi bisa diajak kerja sama dalam mengurus kedua anak-anak. Karena ada kalanya seorang pria terlihat enggan mengurus anaknya sendiri karena merasa mereka berisik dan sangat mengganggu.
*
*
"Bos! Hari ini anda ada rapat penting dengan para pemimpin anak perusahaan." Ucap Roy yang datang-datang sudah membacakan jadwal bosnya.
"Hemm" Abi hanya menjawabnya dengan deheman. Lalu meraih tangan mungil Aska dan Agastya menggenggam nya dengan kedua tangannya.
Lalu masuk menuju mobil mewahnya dengan Abi yang duduk di kursi belakang bersama kedua anaknya sementara Roy yang akan menyetir.
*
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di perusahaan. Abi dan kedua anaknya bergandengan tangan masuk menuju perusahaan.
__ADS_1
Mengabaikan tatapan para karyawan yang melihat sang atasan yang membawa dua orang anak kecil yang sangat mirip dengannya.
"Apakah itu anaknya bos?" Tanya salah satu karyawan.
"Bisa jadi, lihatlah mereka begitu mirip." Sahut karyawan lainnya.
Setelah menaiki lift beberapa menit, mereka bertiga pun sudah sampai di ruangan khusus milik Abi. "Nak, diamlah disini ya. Daddy ada rapat sebentar. Nanti akan ada bawahan Daddy bernama Sherry menemani kalian." Titah Abi.
Aska dan Agastya mengangguk tanda mengerti. Membiarkan sang Daddy bekerja. Aska sendiri sudah fokus menatap tablet Android yang dibawanya sementara Agastya sedari tadi mencari sebuah buku yang mungkin menarik baginya.
Tak lama bawahan yang dibilang Daddy nya pun datang. "Halo tuan muda, nama saya Sherry. Saya yang akan mengawasi tuan muda. Jika butuh sesuatu silahkan beritahu saya." Ucapnya memberitahu.
"Kak, bisa ajak aku berkeliling perusahaan? Aku merasa sedikit bosan berada di sini." Pinta Agastya.
Aska melirik ke arah mereka. "Kalian pergilah, aku akan tetap disini." Ucap Aska.
Agastya pun menarik Sherry untuk mengajaknya berkeliling melihat perusahaan milik sang Daddy.
Satu jam kemudian, Abi masuk ke ruangannya dilihatnya Aska yang masih berkutat dengan tabletnya. Sementara dia tidak melihat kehadiran Agastya.
"Dimana adikmu?" Tanya Abi, kepada Aska.
"Dia bersama kak Sherry, berkeliling perusahaan." Sahut Aska.
Abi pun menghempaskan bok*ngnya ke kursi sofa. "Bagaimana dengan perusahaan Daddy?" Tanya Abi yang bangga dengan perusahaannya.
Aska memutar bola matanya jengah. "Memang besar tapi tidak sebesar perusahaan milikku." Sahut Aska menohok.
Membuat Abi seketika menjadi kesal. "Kamu…."
Ucapan Abi seketika berhenti tatkala melihat seseorang membuka pintu ruangannya.
__ADS_1
Bersambung……