
Malam hari, Di Mansion Abi
Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari. Terlihat Abi sedang duduk di atas ranjang king sizenya. Menyandarkan kepalanya di headboard. Tangannya sedari tadi tidak henti-hentinya menyalakan dan mematikan tombol lampu tidur di atas nakas sebelah kanannya.
Abi termenung, pikirannya berkelana memikirkan ucapan dari Roni. Disandarkannya kepalanya, di kepala ranjang menatap langit-langit kamarnya.
Apakah menikah adalah penyelesaian masalahnya? Apakah ia harus membalas perbuatan ayahnya pada putri yang tidak tahu apa-apa tentang perbuatan ayahnya? Entahlah ia sendiri juga tidak tahu jawabannya.
Huh…! Abi menghela nafasnya berat. Memikirkan masalah ini membuatnya sangat pusing. Seketika matanya perlahan menutup, bersiap untuk menjelajah alam mimpi.
*
*
*
Di perusahaan Abi yang sedang rapat sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Ia hanya menangkap beberapa poin pentingnya saja selain itu ia tidak mendengarnya lagi.
"Rapat hari ini cukup sampai disini" Titah Abi kepada semua orang di ruang rapat. Setelah itu, ia beranjak lalu berjalan kembali ke ruangannya.
*
Sesampainya di ruangannya Abi duduk di kursi kerjanya sembari membolak-balikkan dokumen membacanya sekilas atau mungin tidak membacanya sama sekali. Roy yang sekarang berada di belakang bosnya pun hanya bisa menghela nafasnya melihat kelakuan sahabat sekaligus bosnya itu. Ia tahu pasti bosnya itu sedang kepikiran tentang perkataan saudaranya kemarin.
"Huh… bos, sebaiknya tenangkan pikiran anda agar bisa fokus bekerja. Jangan pikirkan perkataan si Roni" saran Roy, agar Abi bisa berkonsentrasi.
Abi hanya diam seribu bahasa, tidak menimpali perkataan Roy.
Namun, tak lama Abi bertanya pada Roy mengenai masalah kemarin. "Roy apakah masalah kemarin sudah selesai? Laporannya sudah diperbaiki bukan?"
__ADS_1
"Sudah bos, ini laporannya. Anda hanya tinggal menandatanganinya" ucap Roy sambil menyerahkan dokumen yang dibawanya.
Abi pun melihat dokumen tersebut dan tersenyum puas.
Disaat Abi selesai membaca dokumen itu, ia teringat bahwa hari ini ia berencana menghukum Thika.
"Roy!" Panggil Abi, yang membuat Roy sedikit tersentak.
"Ya bos, ada apa?"
"Aku ada tugas untukmu. Secepatnya panggil Avanthika kemari" titahnya.
"Baik". Roy hanya bisa diam, ia pun menjalankan perintah bosnya. Sebenarnya ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Abi kepada Avanthika.
*
"Maaf pak, ada perlu apa?" Tanya Thika sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Duduklah!" Titah Abi. Mendengarnya, Thika hanya bisa menuruti keinginan bosnya itu. Thika mengernyit heran, ia hanya bisa menerka-nerka apa yang akan dilakukan oleh bos menyebalkannya itu kali ini?
Setelah Thika duduk di kursi depan mejanya, Abi menyodorkan sebuah dokumen berwarna biru. "Bukalah!" Ucap Abi. Dibukanya lah perlahan dokumen tersebut. Mata Thika terbelalak, betapa terkejutnya ia ketika membaca beberapa kertas yang ada di genggaman tangannya.
"Apa maksudnya ini pak?!" Tanya Thika dengan nada tinggi. Sorot matanya tajam tatkala melihat Abi. Ingin rasanya ia menenggelamkan bos menyebalkannya ke laut.
"Yah… kamu bisa baca itu sendiri kan, itu surat perjanjian nikah antara kamu dan juga saya" jawabnya tanpa rasa bersalah.
"Apa!!!!" Teriak Roy yang sedari tadi setia berada di belakang bosnya. Ia pun tak kalah kaget mendengar penuturan sang bos. Seketika sorot mata tajam Abi menatap tak suka ke arah Roy.
"Roy, jika kau masih bersuara keluarlah!" Ucap Abi, geram akan kelakuan Roy. Seketika Roy diam membisu, ia masih ingin melihat kelakuan bosnya.
__ADS_1
"Pak, apa-apaan ini! Apakah bapak menganggap sepele sebuah pernikahan?! Memangnya apa alasan bapak yang dengan entengnya ingin menikahi saya?!." Seru Thika, menggebrak meja Abi. Bisa dilihat raut wajahnya mengeluarkan emosi marah yang meluap-luap.
"Alasan ya?" ucapnya Abi dengan senyum yang tidak dapat diartikan. Abi pun kembali melanjutkan perkataannya. "Alasan saya menikahi kamu yang pertama, adalah hukuman buat kamu karena melakukan kesalahan kemarin. Yang kedua, hmm…itu terserah saya." Ucap Abi lagi. Dia tidak bisa mengatakan alasan keduanya karena ingin balas dendam atas kejadian di masa lalu.
Mendengar penjelasan Abi, membuatnya kehilangan kata-kata. Bahkan itu menyulut kemarahan Thika yang saat ini bagai gunung api yang akan meletus dan mengeluarkan lahar panas. Bagaimana bisa sang bos memikirkan alasan yang tidak logis seperti itu?
Melihat reaksi Thika, Abi pun melanjutkan kalimatnya. "Jika kamu tidak mau menikah dengan saya, maka kamu bisa membayar kerugian yang hampir kamu sebabkan, sekitar 20 Milyar".
Terkejut? Pasti! Bagaimana mungkin Thika yang hanya bekerja sebagai sekretaris membayar uang ganti rugi itu? Thika pun tampak berfikir, ia memutuskan bekerja karena ingin hidup mandiri dan lepas dari bayang-bayang ayah dan kakaknya. Ia sama sekali tidak ingin bergantung kepada ayahnya, walau bisa dibilang ayahnya termasuk orang kaya. Jika dia kalah sampai disini maka perjuangannya akan sia-sia.
Thika menghembuskan nafasnya berat. "Baiklah pak, saya setuju menikah dengan bapak. Tapi… saya ingin mengajukan syarat" tawar Thika.
Abi tampak mengulum senyum, senyum kemenangan. Tapi senyum itu bagai senyum iblis dimata Thika.
"Tulislah syaratnya" ucap Abi. Ia pun menyodorkan secarik kertas beserta bolpoin kepada Thika.
Thika pun menulis syarat yang akan ia berikan kepada bosnya atau bisa dibilang calon suaminya. Setelah menulis syarat, Thika pun menyerahkannya kepada Abi.
Abi pun membaca syarat yang tertulis di kertas tersebut. "Yang pertama saat sudah menikah segala hutang piutang akan dihapuskan dan posisi serta gaji tetap jalan.
Kedua, Selama menikah tidak diperkenankan dekat serta membawa gadis tidak dikenal ke rumah. Ketiga,Dilarang menyentuh tanpa izin." Abi pun melirik Thika setelah membaca syarat tersebut.
Abi pun menambahkan satu poin penting lagi di surat persyaratan tersebut. Yaitu dilarang jatuh cinta selama perjanjian nikah berlangsung.
Thika pun membaca kembali surat itu, dirasa sudah pas Thika pun tanda tangan sebagai pihak B. Sedangkan Abi tanda tangan sebagai pihak A. Dengan Roy sebagai saksi ditandatanganinya surat perjanjian nikah tersebut.
Setelah tanda tangan surat, mereka pun saling tukar senyum. Tapi bukan senyum bahagia. Abi dengan senyum kemenangan, Thika dengan senyum menahan amarah sekaligus kesal dan Roy dengan senyum profesional nya.
Bersambung….
__ADS_1