
Beberapa saat setelah kepergian Thika. Masih di restoran.
Vino masih betah berada di restoran. Lebih tepatnya ia merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa menyatakan perasaannya. Bahkan dulu ketika SMA ia memiliki banyak kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya namun, karena sifat pesimis yang dimilikinya membuatnya terus menunda waktu. Bahkan ia menunda waktu sampai ia dan Thika lulus SMA.
POV Vino
Disaat pertama kali menginjakkan kaki ke SMA, aku sudah tidak mempunyai kepercayaan diri. Itu karena penampilanku. Aku kerap diejek karena penampilanku itu, bahkan aku ada sangat membenci penampilanku itu.
Aku akui dulu aku memiliki badan yang gempal, pipi chubby dan kacamata tebal yang selalu Aku pakai. Membuatku menjadi bahan bully satu angkatan.
Disaat pelajaran olahraga Aku akan diejek karena selalu lamban ketika berlari. Tak sampai disitu bahkan tidak ada seorangpun yang mau berteman denganku. Namun, di bidang akademik aku memiliki nilai yang lumayan unggul, bahkan para guru memujiku karena nilaiku yang bagus di semua mata pelajaran.
Dari sejak Sekolah Dasar aku sudah belajar dengan giat karena ingin mendapatkan beasiswa untuk sekolah di sekolah impianku. Karena keadaan ekonomi keluargaku yang tidak stabil. Ini juga salah satu kenapa aku dijauhi, karena Aku berasal dari keluarga kelas menengah.
Suatu hari Aku dihadang oleh tiga orang siswa yang suka membully ku. Mereka pun menindasku dan naasnya aku sama sekali tidak melawan karena aku tahu mereka adalah anak-anak orang kaya. Disaat aku akan dilempari dengan air mineral, seseorang menghadangnya.
"Hei! Mau apa kalian hah?!" Teriak seorang gadis yang diikuti oleh dua temannya di belakang.
"Mau apa Lo! Gak usah belain ni orang." Ucap seorang siswa yang melakukan perundungan.
__ADS_1
"Ka, mereka lagi berantem pasti. Udah laporkan ke BK yuk!" Ucap Nisha kepada Thika.
"Si*l mentang-mentang bokap lo Jenderal." Ucap siswa itu lagi sambil menunjuk ke arah Thika dan Nisha. Lalu mereka pun pergi karena takut dilaporkan ke BK.
Seorang gadis menghampiriku, mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Sambil berkata "Kamu baik-baik saja kan?" Aku pun menerima uluran tangannya. Kami pun saling berkenalan dan dari situ aku tahu namanya, Avanthika nama yang sangat cantik, secantik orangnya.
Mulai saat itu Aku pun sudah menyukainya. Ya, cinta pada pandangan pertama. Lama kelamaan Aku semakin dekat dengan Thika, karena hanya Thika, Nisha dan Sarah yang mau berteman denganku. Mereka bertiga tidak memandangku dari penampilan dan latar belakangku.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Saat Aku kelas tiga SMA, perasaanku kepada Thika semakin dalam. Aku bahkan tidak suka bila Thika dekat-dekat dengan laki-laki lain. Namun, apa dayaku, siapa aku baginya.
Pada saat hari kelulusan, Aku pun membawa setangkai bunga mawar yang akan kuberikan kepada Thika. Entahlah tapi hatiku masih ragu-ragu, Aku takut nantinya akan ditolak olehnya. Aku pun mencari keberadaan Thika di dalam kelas. Hanya ada Thika, Nisha dan Sarah didalam, mereka larut dalam kesedihan. Ku dengar Thika akan memulai kuliahnya di luar negeri. Aku pun terkejut, itu artinya aku tidak bisa bertemu dengannya lagi.
Beberapa tahun kemudian, aku bertemu lagi dengannya. Aku dengar suara gaduh di dekat pantry perusahaan tempat aku bekerja. Dengan cepat aku mendekat, Aku melihat seorang wanita tergeletak di lantai, tangannya terlihat melepuh bahkan kakinya terluka terkena serpihan gelas. Aku pun membantunya.
Aku dibuat terkejut, pasalnya wanita yang kutolong merupakan pujaan hatiku yang selama ini ku tunggu. Tidak ada yang berubah dalam dirinya, hanya sedikit lebih tinggi dan dewasa. Aku pun membantunya membersihkan luka. Lalu memberitahunya tentang Aku yang merupakan temannya sewaktu Sekolah Menengah Atas.
Beberapa Minggu kemudian, Aku menyakinkan diriku untuk menyatakan perasaanku padanya. Aku pun mengajaknya dinner di sebuah restoran. Namun, akhirnya batal karena aku yang takut menerima penolakan. Sampai akhirnya Thika pergi dari restoran karena di telepon oleh seseorang. Aku pun menatap kepergiannya dengan tatapan sendu.
POV Vino End.
__ADS_1
Vino pun pergi dari restoran setelah membayar tagihan. Lalu menuju apartemennya.
*
*
Di sisi lain, diwaktu yang sama. Di sebuah rumah kecil yang berada di tepian kota. Rumah itu terlihat lusuh bahkan tidak berpenghuni. Terlihat seorang pria memasuki rumah tersebut. Menatap setiap inchi sudut-sudut ruangan, berharap akan mendapatkan sebuah petunjuk disana. Pria itu memasuki setiap ruangan dengan berhati-hati.
Tiba di suatu ruangan, dia pun menggeledah lemari, laci bahkan brankas yang masih ada di sana. Mencari bukti kejahatan dari seseorang dimasa lalu. Pandangannya seketika tertuju pada lantai di bawah ranjang yang kelihatannya sudah rusak. Dia pun memindahkan ubin keramik tersebut, bisa dilihat sebuah kotak berada dibawahnya.
Pria itu ingin memeriksanya namun, dering ponselnya berbunyi mengurungkan niatnya untuk membuka kotak yang dikunci itu.
📞"Halo! Pak bisa kemari sebentar? Kami membutuhkan tenaga anda saat ini?" Ucap seorang wanita dengan nada minta tolong.
"Baik! Sebentar lagi Aku akan sampai." Jawabnya. Lalu mematikan ponselnya.
Pria itu pun pergi dari rumah itu. Membawa kotak itu bersamanya. Ia berfikir akan membuka kotak yang terkunci itu ketika ia sudah sampai di apartemennya.
Bersambung….
__ADS_1