
Thika pun melemparkan bunganya. Sampai akhirnya seseorang mendapatkannya. "Kak Mahen!" Ucap Thika disaat sudah berbalik.
Yap, Mahen mendapatkan buket bunga yang dilempar pengantin wanita.
Bunga yang dipegang oleh mempelai pengantin wanita merupakan perlambang bagi kesuburan dan juga keindahan. Ketika bunga tersebut dilempar dan didapatkan oleh seseorang yang masih lajang, diharapkan akan bisa segera menyusul pengantin untuk menikah dan mendapatkan kehidupan yang bahagia.
Dengan cepat Mahen menuju kearah Nisha lalu berlutut. "Nisha Agatha, aku mungkin bukan pria yang baik atau romantis seperti dambaan mu. Apalagi umurku yang sudah tidak muda lagi, tapi aku hanya ingin mengatakan will you marry me?" Tanya Mahen. Sambil mengangkat buket bunga yang dia dapatkan.
Nisha membisu, bibirnya terasa kelu untuk berkata-kata. Matanya sudah berkaca-kaca dengan kedua tangannya sudah berada di depan mulutnya. Tak lama Nisha pun menganggukkan kepalanya.
"Jadi, kamu menerimaku?" Tanya Mahen. Seolah tidak tahu arti anggukan kepala Nisha.
"Ya, aku mau menikah denganmu kak!" Jawab Nisha. Lalu menerima bunga yang dibawa Mahen.
Mahen berdiri lalu memeluk Nisha dengan eratnya. Sesekali mencium kening Nisha, tak menghiraukan tatapan orang-orang yang tertuju pada mereka. Seolah dunia milik mereka, yang lain ngontrak.
*
*
Seusai acara pernikahan, Thika pun memasuki kamar hotel yang sudah disiapkan sebelumnya. Lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari keringat setelah serangkaian acara yang melelahkan.
Tiba-tiba Abi masuk ke kamar mandi melingkarkan tangannya di pinggang istrinya dari belakang. "Hu-Hubby?" Ucap Thika gugup.
__ADS_1
Thika berbalik menatap Abi, bisa dia lihat suaminya itu sedang menahan gairah nya yang memuncak. "Sayang, aku menginginkanmu." Ucap Abi dengan suara berat.
Dengan inisiatif Thika memberanikan diri menciu* bibir Abi. Ikan sudah terperangkap, dengan cepat Abi menahan tengkuk Thika guna memperdalam ciumannya.
Mereka berdua pun berpacu dibawah guyuran shower yang membasahi tubuh mereka. Air dingin seolah tidak mereka rasakan karena tengah melakukan kegiatan panas mereka.
Hingga tak beberapa lama kemudian, mereka berdua pun menuntaskan hasrat mereka.
*
*
*
Sarah terlihat sedang menghapus riasan makeup yang ada di wajahnya sampai tiba-tiba Roy memegang bahunya. "Sayang, kamu mengagetkanku." Kaget Sarah.
Roy tersenyum. "Biar aku bantu menyisir rambutmu." Ucapnya. Lalu mengambil sisir dan mulai menyisir rambut Sarah yang sebatas bahu.
Sesekali Sarah curi-curi pandang menatap Roy yang telaten menyisir rambutnya. Tak lama Roy pun menunduk mensejajarkan wajahnya dengan Sarah. "Mari kita membuat adik untuk Reno." Ucap Roy sambil menatap pantulan mereka di kaca meja rias.
Wajah Sarah tiba-tiba memerah. Tanpa ba-bi-bu lagi Roy dengan cepat merebahkan Sarah di atas ranjang besar hotel tersebut. Lalu mencumbu bibir merah muda milik Sarah yang sedari tadi mengganggu pikirannya
Roy membalik tubuh istrinya itu lalu menuju punggung putih nan halus itu. Menciumnya dengan tergesa-gesa. Sementara Sarah hanya bisa menikmati sembari menahan gelora di dalam tubuhnya.
__ADS_1
Tak berselang lama mereka pun sampai pada pelepasannya. Roy pun ambruk di samping Sarah dengan nafas yang tak teratur. "Terimakasih sayang." Ucap Roy.
"Apapun untukmu." Balas Sarah.
*
*
*
Meninggalkan dua pasutri yang sedang memadu kasih.
Tinggallah Roni dengan kesendiriannya di dalam kamarnya. Menjaga para keponakan kecilnya siapa lagi kalau bukan Aska, Agastya dan Reno. Sebelumnya Abi dan Roy menitipkan anaknya kepada Roni.
"Aishβ¦. Nasibku malang sekali. Sudah jomblo, disuruh jaga anak lagi." Keluh Roni.
"Oh Tuhan, jika kau sayang terhadap ciptaanMu ini kirimkanlah hambaMu ini pasangan yang sudah menjadi takdirku." ucapnya lagi dengan tangan menengadah.
Begitulah semua orang sudah mendapatkan kebahagiaan nya. Ya, kecuali Roni.π π
Tamat.
Note: Terimakasih untuk yang sudah mendukung author sampai sejauh ini. Jangan lupa nantikan ekstra part nya. ππ
__ADS_1