Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Menceritakan Tentang Daddy.


__ADS_3

"Baik! Saya akan segera kesana." Ucap Thika yang sedikit was-was.


Bagaimana tidak was-was, ini sudah yang keempat kalinya selama putranya itu memukul murid lain. Jika berlanjut lagi, kemungkinan besar dia akan dikeluarkan dari sekolah.


"Mau aku temani?" Tanya Ranveer yang mendengar percakapan Thika saat menelepon.


"Tidak perlu bos. Aku akan pergi sendiri." Dengan perasaan cemas dan khawatir Thika pergi menyetop taxi tanpa memperdulikan Ranveer yang sedari tadi menatapnya pergi.


Sementara Ranveer hanya diam, di lubuk hatinya ada rasa peduli yang dalam kepada bawahannya itu.


*


*


*


Saat ini Thika sudah sampai di tempat kedua putranya bersekolah. Dengan cepat dia menuju ruangan kepala sekolah.


"Permisi." Ucap Thika setelah mengetuk pintu ruangan.


Ibu kepala sekolah pun bangkit. "Akhirnya anda sampai juga nyonya. Silahkan duduk." Ucapnya mempersilahkan Thika duduk.


Bisa dilihat ada seorang anak yang pipinya lebam dan didampingi oleh wanita yang seumuran dengannya.


Ekor matanya menatap kedua putranya yang duduk menundukkan kepalanya. Bisa dia lihat Agastya yang wajahnya lebam dengan sedikit darah yang keluar dari sudut bibirnya. Sementara Aska diam sambil memegang tangan adiknya.


"Kenapa anak saya bisa berkelahi Miss?" Tanya Thika.


"Lebih baik anda tanyakan sendiri kepada putra anda. Karena dari tadi mereka enggan untuk bicara." Ujar Ibu kepala sekolah.


"Benar tanyakan kepada putra anda kenapa memukul putra saya!" Ketus seorang wanita yang merupakan ibu dari korban yang dipukul.


Thika pun mendekati kedua putranya. "Aska, Agastya ada apa hmm? Kenapa berkelahi?" Tanya Thika penuh kelembutan.


Dia hanya ingin bertanya dengan baik-baik. Karena jika seorang anak diberikan pertanyaan dan dipaksa untuk menjawab maka seorang anak akan merasa seperti diinterogasi dan merasa dirinya tidak dipercaya.

__ADS_1


Aska hanya diam, seperti biasa. Sementara Agastya mendongak menatap mommy nya sekilas, lalu menunduk.


"Mom, maafkan Agastya, tadi Dave bilang kami anak yang tidak baik karena tidak punya Daddy. Dia juga terus mengejek Aska, Agastya gak suka dia ngejek Aska. Jadi Agastya pukul saja." Ucapnya menahan tangis.


"Aska sudah berusaha melerai mereka mom. Ini salah Aska karena gagal melerai adik." Sela Aska, yang tak ingin adiknya disalahkan.


Sementara Thika mendesah pelan, lalu memeluk kedua putranya itu.Puas memeluk putranya, Thika pun melerai pelukannya.


"Sekarang kalian minta maaf." Ajak Thika lembut agar kedua anaknya agar berdamai.


Aska dan Agastya mendekati Dave. "I'm sorry Dave." Ucap keduanya mengulurkan tangannya.


Sementara Thika berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan anak yang bernama Dave. "Dave tolong maafkan mereka ya, kalian adalah teman, tidak baik jika saling berkelahi." Ucap Thika memberi pengertian.


Dave mengangguk lalu menjabat tangan Aska dan Agastya yang terulur. "I'm sorry too Aska, Agastya." Ucap Dave.


Mereka pun menyelesaikan masalahnya dengan damai. Lalu Dave dan ibunya meninggalkan ruangan tersebut.


"Nyonya, ini sudah keempat kalinya. Tolong bicarakan baik-baik dengan putra anda. Saya akan memberi anak anda kesempatan sekali melihat prestasi yang dia sumbangan kepada sekolah." Ucap ibu kepala sekolah.


*


*


Mereka bertiga pun memutuskan untuk pulang ke rumah mereka. Thika sendiri sudah menghubungi perusahaan bahwa dia tidak akan kembali.


Thika menyuruh kedua putranya agar berganti baju terlebih dahulu sebelum Thika memulai pembicaraan dari hati kehati ibu dan anak.


"Bukankah mommy dan uncle Mahen sudah memberitahu kalian, jangan gunakan jurus bela diri kalian untuk bertengkar tapi, gunakan untuk menolong sesama." Ucapnya Thika setelah mereka duduk di sofa ruang tengah.


Aska dan Agastya terlihat menunduk sambil meremas tangannya. "Maafkan kami mom." Cicit keduanya.


Thika pun bangkit menuju tempat putranya. Menggenggam kedua tangan mungilnya. "Jika ada masalah kalian harus bilang sama mommy. Jangan menyimpannya sendiri hmm." Ucapnya.


"Mom maafkan aku, tapi bisakah mommy menceritakan tentang Daddy?" Tanya Agastya yang masih menunduk. Sedangkan Aska menatap adiknya.

__ADS_1


Diam. Jelas Thika terdiam ketika mendengar pertanyaan putranya. Bukannya dia tidak ingin memberitahukannya namun, dia masih belum bisa memaafkan Daddy mereka.


Belum Thika menjawab, pintu masuk tiba-tiba dibuka memperlihatkan Nisha yang baru pulang dari rumah sakit.


"Hello boys, ayo makan. Aunty sudah membeli makanan kesukaan kalian." Ucap Nisha, menenteng tas belanjaan yang berisi makanan.


"Hei kenapa kalian cemberut? Ayo, ikut aunty!" Ucap Nisha lagi. Saat ia merasa Aska atau Agastya tidak beranjak dari duduknya.


Aska dan Agastya menatap ibunya, seolah meminta izin. Menangkap gelagat putranya Thika pun mengangguk, memberikan izinnya.


Dengan cepat Aska dan Agastya berlari ke meja makan menyusul Nisha.


Thika mengusap dadanya pelan. "Selamat." Gumamnya.


*


*


*


Disisi lain. Indonesia


Dengan tergesa-gesa seorang sekretaris berlari dengan cepat untuk menemui sang atasan yang sudah berada di perusahaan.


"Kenapa kamu lama sekali Roy. Ah tidak seharusnya aku memanggilmu menantu Azhari." Ucap Abi dikala melihat Roy terengah-engah setelah berlarian.


"Sampai kapanpun aku tetap asistenmu, walaupun aku sekarang sudah menjadi menantu keluarga Azhari." Ucap Roy membenarkan kacamatanya.


"Sudah! Sekarang bacakan schedule yang harus aku lakukan!" Titah Abi.


"Tidak ada jadwal padat, hanya saja Minggu depan proyek kita yang berada di Kanada akan dimulai. Jadi kita harus kesana lalu meeting bersama perusahaan SI Company." Roy menjelaskan.


"Baik! Persiapan semuanya dari sekarang!" Ucap Abi. Roy mengangguk lalu undur diri.


Sementara Abi menatap bingkai foto kecil diatas mejanya. Foto Istrinya. "Ini sudah tujuh tahun. Kamu ada dimana? Apakah kamu masih marah dan masih belum mau menemuiku?" Ucapnya.

__ADS_1


Bersambung…..


__ADS_2