
"Satu pertanyaan lagi, aku sama sekali tidak membawa barang-barangku kemari dan disini tidak ada pakaianku" tanya Thika lagi.
"Di dalam lemari sudah ada pakaian sesuai ukuranmu, jadi gunakan itu. Besok aku akan menyuruh orang untuk membawakan barang-barang mu kemari!" Jawab Abi.
Thika pun mengangguk.
Malam harinya, setelah Thika selesai dengan aktivitas mandinya, ia duduk di depan meja rias. Thika duduk, memandangi ponsel pintarnya. Sedari tadi dia bimbang apakah dia akan menelpon ayahnya atau tidak.
Ditengah kebimbangannya, tekukan pintu menyadarkannya. Thika lalu membuka pintu.
"Maaf nyonya, makan malam sudah siap" ucap Pak Man, kepala pelayan yang sudah lama mengurus mansion itu.
"Baik pak, saya akan segera turun" jawab Thika.
*
Beberapa menit kemudian, Thika pun turun dari lantai dua dimana kamarnya berada lalu menuju ruang makan. Disana sudah terlihat Abi yang sudah memakan makanannya terlebih dahulu.
"Selamat malam A-Abi" sapa Thika gugup. Ia masih merasa canggung, karena ia memanggil orang yang lima tahun lebih tua darinya dan bahkan berstatus sebagai suaminya dengan menyebut namanya.
"Hmmm" dehem Abi singkat.
Lalu Thika pun duduk di samping kanan Abi. Ia membalikkan piringnya lalu mengambil sendiri makanan yang akan dimakan olehnya.
*
Abi pun sudah selesai makan, meninggalkan Thika sendiri di meja makan. Beberapa saat setelah Abi pergi, Thika pun selesai makan. Thika tampak membereskan piring yang sudah dia gunakan tadi.
"Aduh… nyonya biar bibi saja yang melakukan ini" ucap Bi Sri, lalu tangannya akan mengambil piring kotor.
"Ahh kalau pekerjaan ini, saya sudah terbiasa Bi. Ini pekerjaan kecil" jawab Thika. Lalu dia membawa piring kotor tersebut ke dapur.
Thika pun hendak mencuci piring kotor namun, dicegah lagi oleh Bi Sri. "Kalo nyonya melakukan pekerjaan ini, lalu bibi kerja apa? Nanti bibi di marahin tuan. Biar bibi yang cuci piringnya ya".
__ADS_1
"Ah kalau gitu, cuci piringnya bareng aja Bi, saya kasian liat Bibi nyuci piring yang lumayan banyak. Selain itu, panggil saya Thika aja Bi, kalau panggil Nyonya saya merasa ketuaan" ucap Thika terkekeh kecil.
"Gak bisa gitu nyonya, nanti bibi dimarahin sama tuan, bagaimana kalo bibi panggil nona aja?" Tanya Bi Sri.
"Terserah bibi aja, asalkan bukan nyonya" jawab Thika sembari tersenyum.
Setelah drama cuci piring selesai, Thika pun kembali ke kamarnya. Sedangkan Bi Sri masih didapur untuk mengecek keperluan sarapan besok. Melihat perbuatan Thika membuat Bi Sri pun sampai terheran-heran akan kelakuan nyonya mudanya. Karena ia dengar bahwa nyonya mudanya berasal dari keluarga ternama, tapi kenapa masih bisa cuci piring? Apakah di rumahnya dulu tidak ada pelayan? Batin Bi Sri bertanya-tanya.
*
Thika saat ini sedang berada di kamarnya, lebih tepatnya diatas ranjang tempat tidurnya. Sedari tadi ia sama sekali tidak bisa tidur, mungkin karena suasana baru. Thika pun glibak glibuk mencari posisi tidur ternyaman nya. Pada akhirnya ia pun bisa tidur saat pukul 1 dini hari.
Disaat Thika sudah menyelami alam mimpi, tidak dengan seseorang di kamar sebelah. Ya siapa lagi kalau bukan Abi. Sama seperti Thika Abi hanya bisa glibak glibuk tak jelas, padahal ia sudah meminum obat tidurnya. Setelah kematian Vira ia memiliki gangguan kesulitan tidur pada malam hari atau biasa disebut insomnia.
Insomnia adalah kondisi ketika seseorang sulit tidur atau butuh waktu yang sangat lama sampai bisa tidur. Insomnia dapat disebabkan oleh kebiasaan sebelum tidur yang tidak baik, gangguan mental, atau penyakit tertentu (salah satunya gangguan kelenjar pineal).
Tepat pukul setengah dua malam Abi pun mulai tertidur.
*
*
Di dapur ia melihat Bi Sri sedang memasak makanan. "Pagi bi, ada yang bisa aku bantu gak?" Tanya Thika.
"Eh pagi non, gak usah non biar bibi aja" jawab Bi Sri.
"Gak bisa gitu bi, kalo gitu aku yang menyajikan di meja makan ya bi" ucap Thika, lalu mengambil makanan yang akan dihidangkan di meja makan.
"Ah iya deh non" jawab bibi.
Disaat Thika sedang fokus menata makanan di ruang makan, bel rumah berbunyi, tanda ada tamu datang.
Ting tong
__ADS_1
Bi Sri pun sudah akan pergi membukakan pintu namun, dicegah oleh Thika. "Biar aku aja yang buka pintunya bi" tukas Thika, lalu beranjak membuka pintu. Bibi pun kembali ke dapur melanjutkan kegiatan memasaknya.
Thika pun membuka pintunya. "Hello all, I'm coming!" Sapa seorang pria, lalu masuk tanpa dipersilahkan. Thika pun mengernyit heran, dalam hatinya bertanya siapa pria yang langsung nyelonong ke rumah orang pagi-pagi sekali, apalagi wajahnya memiliki sedikit kemiripan dengan asisten Roy.
"Maaf tuan, anda mencari siapa?" Tanya Thika kepada pria asing tersebut.
Pria itu hendak menjawab, tetapi suara Abi mengagetkan semua orang. "Roni ngapain lo kesini pagi-pagi, gak ada kerjaan?" Tanya Abi, dengan nada ketus. Ya, pria asing itu tak lain adalah Dokter Roni.
"Oh come on, gue kesini mau mastiin sesuatu sama lo!" Jawab Roni.
"Oh" jawab Abi singkat. Melihat Thika yang masih bingung Abi pun memperkenalkan Roni. "Thika, perkenalkan dia Dokter Roni, adik dari Roy!" Ujar Abi.
Roni pun mendekati Thika. "Oh kamu Avanthika ya? Istrinya Abi? Namamu cantik sama seperti orangnya" goda Roni.
"Em terimakasih pujiannya Dokter Roni" jawab Thika malu-malu karena dipuji.
"Jangan panggil Dokter Roni, panggil aja Kak Roni" jawab Roni.
Abi yang melihat kelakuan temannya, hanya bisa memutar bola matanya jengah. "Ron, udah belum basa-basi nya, langsung ke topik lo mau apa kesini?" Tanyanya.
"Is! baru datang juga, tawarin sarapan gitu gue belum makan tau" jawab Roni.
"Em Kak Roni, mari sarapan bersama makanannya sudah tersaji kok" tawar Thika, lalu langsung menuju meja makan.
Roni pun mengangguk. Lalu ia mendekat kepada Abi, lalu berbicara pelan. "Bi lu beneran dah nikah kan? Gila saran gue lu ikuti juga. Udah buka segel belum?" Tanya Roni dengan alis yang naik turun.
Abi pun mengernyit. "Maksud lo apaan sih?" Tanya Abi, yang tidak mengerti arah pembicaraan Roni.
Roni pun tepuk jidat melihat kelakuan temannya. "Maksud gue lu udah malam pertama belum?" Tanya Roni.
Abi…
Bersambung…..
__ADS_1