
Abi tercengang mendengarnya, putra sulungnya mewarisi pemahaman berbisnis yang dimilikinya.
Aska menatap sang Daddy. "Daddy tidak akan memberitahu mommy kan? Aku ingin memberitahukannya sendiri disaat waktunya sudah tepat." Ucap Aska.
Abi tersenyum mengusap kepala Aska. "Tentu saja Daddy tidak akan memberitahu mommy." Abi pun menyeringai, membuat Aska seketika bergidik ngeri. "Tapi, ada harga untuk itu." Lanjutnya lagi.
Aska menatap tajam sang Daddy, seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran sang Daddy. "Aku sudah menduganya, apa yang Daddy inginkan?" Tanyanya.
"Kamu tahu, di dalam berbisnis semua hal tentang keuntungan. Tak peduli mau itu dengan anak sekalipun. Daddy hanya ingin kamu menyetujui kerjasama ini." Ujarnya.
Aska memutar bola matanya jengah. "Baiklah! Namun ada beberapa poin yang tidak Aska setujui harap di perbaiki. Nanti Justin akan menghubungi Daddy." Sahutnya.
Abi tersenyum penuh kemenangan. "Good son. Kalau kamu tidak tahu sesuatu, kamu bisa bertanya kepada Daddy." Ucapnya.
Tak lama Agastya datang setelah berberes-beres di dapur. "Kakak, kenapa belum sarapan? Kakak harus cepat sarapan nanti mommy akan marah loh." Ucap Aska.
"Baik, kakak sarapan sekarang." Sahutnya, lalu memakan sandwich yang dibawa sang Daddy.
Abi pun hanya melihat interaksi antara kedua putranya, sangat harmonis. Mungkin karena dia anak tunggal sehingga menginginkan seorang adik. Dia merasa keluarganya sudah lengkap sekarang walau belum bisa menyatukannya.
*
*
*
__ADS_1
Meninggalkan interaksi antara ayah dan anak.
Hari pun sudah menjelang sore, saat ini Thika sudah selesai sehari melakukan perjalanan bisnisnya. Perjalanan bisnis kali ini memang sangat penting karena akan berpengaruh kepada masa depan perusahaan.
Thika pun meregangkan otot-otot tubuh karena lelah duduk dan berdiri dalam waktu lama. Lalu merebahkan tubuhnya di ranjang hotel yang sudah dipesan perusahaan.
Tak lama teleponnya berdering, dilihatnya ada panggilan video call dari Agastya. Dengan cepat dia pun mengangkatnya.
"Hello mom, Agastya really misses mommy. (Agastya sangat merindukan mommy)." Ucap Agastya memperlihatkan raut wajah sedihnya.
"Mommy too, bagaimana keadaan kalian? Apakah sudah makan?" Tanya Thika.
"Sudah mom. Sekarang kami sedang bersantai. Mommy lihat kak Aska dan Daddy sedang sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya." Ujar Agastya. Lalu mengarahkan kamera ponselnya ke arah Aska dan sang Daddy yang sedang fokus.
Thika terkekeh. Tak lama ponsel Agastya sudah diambil alih oleh Abi. "Halo sayang, aku menjaga anak kita dengan baik. Jadi fokus saja dengan pekerjaanmu hmm." Ucap Abi mengerlingkan sebelah matanya.
*
Hari sudah malam, Thika sendiri keluar menuju ke restoran hotel. Di lorong hotel di berpapasan dengan Ranveer yang juga ingin makan malam.
"Kamu mau makan malam bukan? Mari kita makan bersama." Ajak Ranveer. Dan diagguki Thika.
Thika mengekor di belakang Ranveer sampai dia sampai di restoran dan mencari tempat duduk. Tempat duduknya tepat di depan jendela besar yang bahkan bisa melihat pemandangan indah di sekitar hotel.
Mereka pun memesan makanan masing-masing. Setelah makanan tersaji mereka makan dalam diam. Sampai akhirnya Thika memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Anu…. Ada yang ingin aku sampaikan." Ucapnya gugup.
Ranveer menghentikan kegiatannya sebentar, untuk menatap Thika. "Katakanlah." Sahutnya.
"I-Ini mengenai permintaan mu sebelumnya, aku…."
"Aku tahu apa yang akan kamu sampaikan. Suamimu sudah kembali, maksudku orang yang kamu cintai bahkan sulit untuk kamu lupakan sudah kembali. Jadi, kamu ingin memberitahu kepadaku bahwa kamu masih ingin kembali dengannya." Sela Ranveer.
"Bu-bukan seperti itu, tapi…."
Ranveer menggenggam tangan Thika. "Cinta satu kata yang mengandung sejuta makna. Cinta tidak mengenal batas saat kamu menemukannya pada seseorang, apapun bisa kamu lakukan termasuk menentang dunia. Kamu beruntung karena orang yang kamu cintai masih bisa kamu lihat, jangan sia-siakan waktu. Jika kamu masih mencintainya maka pergilah bersamanya, jangan sampai saat kamu sudah kehilangan dirinya baru kamu menyesal. Kamu tahu, semua akan terasa artinya disaat kita sudah merasakan kehilangan." Ujar Ranveer.
"Maaf Ranveer, aku tidak bermaksud tapi di dalam hatiku masih…."
"Masih ada dirinya? Aku tahu, dari awal kamu memang tidak memikirkan ingin memulai hubungan denganku. Karena kamu dari awal tidak bisa melupakannya. Lagi pula aku tidak ingin menjadi tempat pelampiasan cintamu." Ujarnya lagi.
Thika terdiam mendengarnya, karena dia masih belum memantapkan hatinya. Untuk memaafkan apa yang terjadi di masa lalu jelas masih berat baginya. Tapi bukankah tindakan nyata yang diberikan Abi membuatnya sedikit luluh?
Mengerti hal yang membuat Thika diam. Ranveer pun kembali berbicara. "Aku akan terus menjadi pendukungmu. Aku akan ada disaat kamu mencariku. Bila dia siapa namanya? Ah, Abimanyu tidak bisa menjagamu maka akan ada aku sebagai tamengmu." Ucap Ranveer.
Thika tersenyum mendengarnya. "Terimakasih Ranveer, sudah membantuku selama ini." Sahutnya.
"No Problem." Ranveer kembali melanjutkan makan malamnya.
Sementara Thika sudah kembali menuju kamarnya karena sudah selesai makan malam.
__ADS_1
"Kenapa hatiku sakit, apakah begini rasanya kalah sebelum berperang?" Gumam Ranveer, menatap kepergian Thika.
Bersambung…..