Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Roni Sang Pemecah Masalah


__ADS_3

Mansion Abi, Beberapa saat setelah kepergian Thika.


Abi terlihat sedikit gelisah karena membiarkan Thika pergi sendiri. Abi pun menelepon Roy.


"Roy atur beberapa pengawal untuk Thika dan cari tahu siapa teman Thika yang bernama Nisha!" Titahnya.


"Baik bos! Em… untuk Nisha…" ucap Roy ragu-ragu. "Nisha adalah putri dari tangan kanan Jendral Sanjaya." Ucapnya lagi.


Abi yang mendengar itu, mematikan sambungan teleponnya. Dengan cepat menyusul Thika yang saat ini pasti sudah setengah perjalanan.


Abi pikir ini pasti siasat keluarga Sanjaya agar bisa menemui putrinya. Abi pun melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa menyusul Thika.


Kembali ke saat ini.


"Karena seperti apa?!" Sela seseorang dari arah belakang dengan sedikit berteriak.


Thika pun menoleh ke belakang. Dilihatnya Abi yang berjalan dengan penuh wibawa datang mendekati mejanya.


Disaat Abi sudah berada di meja Thika, dia hanya berdiri sambil memegangi kedua bahu Thika.


"Katakan padaku, memangnya aku seperti apa? Kapten Mahendra Sanjaya?" Tanya Abi dengan senyum seringainya.


Mahen pun berdiri dari duduknya. "Jangan kau menyentuh adikku baj*ngan!" Ucap Mahen yang memegang tangan Abi dengan emosi meluap-luap.


"Aku bebas melakukannya, karena Thika sekarang adalah istriku." Ucap Abi santai.


Mahen yang mendengarnya mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras bahkan tatapan matanya sudah seperti seseorang yang ingin memburu mangsanya.


Abi pun menarik tangan Thika, lalu mengajaknya keluar dari dalam restoran. "Maafkan Aku tapi kami harus pergi." Ucap Abi tanpa dosa. Lalu dengan cepat keluar dari restoran.


Mahen pun mengejarnya sampai di depan pintu masuk. "Thika!" Teriaknya.

__ADS_1


Thika hanya menoleh. "Maaf kak." Lirihnya.


Abi pun menyeret Thika dan langsung menyuruhnya duduk di mobilnya. Lalu menjalankan mobilnya dengan cepat.


"Hei bagaimana dengan mobilku?" Tanya Thika sedikit kesal karena ditarik paksa.


Abi menepikan mobilnya. Wajahnya terlihat menahan amarah yang membuncah.


Entahlah kenapa dirinya bisa seperti ini? Pikirnya.


"Pakai sabuk pengamanmu,!" Titah Abi.


Thika mencebik kesal. "Pakai ya pakai!" Gerutu Thika lalu memakai sabuk pengamannya.


Thika membuang wajahnya ke arah jendela. Abi yang melihat itu segera menetralkan amarahnya. Lalu menatap sekilas Thika. "Mobilmu sudah kusuruh anak buah membawanya, tenang saja aku tadi sudah mengambil kuncinya dari tasmu." Ucapnya.


Thika terbelalak kaget. Bagaimana laki-laki ini bisa mengambil kuncinya? Kapan dia mengambilnya? Pikirannya bertanya-tanya. Thika pun mencari jawaban terbaik dari setiap pertanyaan yang muncul di kepalanya.


*


Saat ini Thika sudah berada di mansion. Abi hanya mengantarkannya ke mansion, sedangkan dia sendiri pergi ke luar karena ada urusan mendesak.


Thika pun hanya terus berada di kamarnya sambil menonton acara kesukaannya. Entahlah dia masih memikirkan bagaimana perlakuan Abi padanya selama ini. Kadang baik dan kadang kasar.


Entahlah dia pusing sendiri memikirkannya. Daripada pusing lebih baik dia turun membuat beberapa camilan.


*


*


Disisi lain Abi sedang melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Bukan untuk memeriksakan kesehatannya tapi ingin bertemu dengan Roni. Menuju rumah sakit tempat Roni bekerja hanya membutuhkan waktu 30 menit dari mansion nya.

__ADS_1


Abi pun memarkirkan mobilnya di basement. Lalu dengan cepat melangkah ke elevator menuju lantai tiga dimana ruangan Roni berada.


Setelah sampai Abi pun mencari ruangan Roni. Setelah ketemu langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Kosong, ruangan Roni terlihat kosong tidak ada penghuninya.


Tak lama seorang suster datang memasuki ruangan Roni lalu menghampiri Abi. "Ada perlu apa disini pak?" Tanya suster tersebut.


"Dimana Dokter Roni?" Tanyanya dengan ekspresi datar.


"Saat ini beliau sedang ada operasi, mungkin akan selesai 30 menit lagi." Jawab suster cantik itu. Yang terpesona melihat ketampanan Abi.


Abi menghela nafasnya. "Baik! Saya akan tunggu disini saja. Setelah selesai suruh dia kemari. Bilang ada orang yang mencarinya!" Ujar Abi lalu duduk di salah satu kursi disana.


Saat ini Abi sudah menunggu Roni selama 30 menit mungkin lebih tapi, Roni sama sekali tidak memperlihatkan dirinya sedari tadi.


Tak lama Roni datang memasuki ruangannya. "Ah! What's up bro?" Sapa Roni yang baru sampai di ruangannya. Lalu duduk di kursi kebesarannya.


"Gue mau nanya Ron. Akhir-akhir ini jantung gue berdetak dengan cepat apa gue punya penyakit jantung ya?" Tanya Abi kepada Roni.


Roni tersenyum kecil. "Jantung berdetak cepat ya?. Jantung berdebar bisa disebabkan oleh banyak hal, baik yang sifatnya ringan maupun serius. Salah satu penyebab sederhana dari jantung berdebar adalah gaya hidup, seperti olahraga intensif, rasa cemas, kurang tidur atau kelelahan, kebiasaan merokok, serta konsumsi minuman beralkohol, kafein, dan makanan pedas. Dan penyebab lainnya yaitu karena jatuh cinta." Ujar Roni menaikkan salah satu alisnya menatap Abi.


Abi tampak menyimak. "Setahu gue Lo gak punya riwayat penyakit jantung. Apakah jantung Lo berdetak kencang karena berdekatan dengan Thika?" Tanya Roni. Abi tampak diam.


"Apakah lo jatuh cinta pada Thika?" Tanya Roni dengan tatapan menyelidik.


Abi mengerutkan keningnya. "Tidak! Gue gak cinta sama Thika. Gue hanya cinta pada Vira." Sanggah Abi.


"Benarkah? Kau tahu kita tidak akan tahu kepada siapa kita akan jatuh cinta. Kapan, dimana dan dengan siapa kita tidak tahu. Coba pikirkan lagi apakah selama ini lo beneran cinta sama Vira atau karena dia adalah gadis yang sudah lo temui saat masih kecil?" Tanya Roni.


Abi memikirkan perkataan Roni. Kata demi kata. Yang sepertinya mengena di hatinya.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2