Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Waspada


__ADS_3

"Tunggu!" 


Suara bariton itu mengejutkan Thika yang akan pergi. Ia pun berbalik badan untuk melihat si pemilik suara, yang tak lain adalah Abi.


"Mau kemana? Kenapa terburu-buru?" Tanya Abi. 


Thika menatap Abi dengan menyipitkan matanya. "Bukannya Kamu sudah tau Aku akan kemana?" Thika balik bertanya.


Apakah Abi tidak melihat ia akan berangkat ke kantor, bahkan bisa dilihat ia memakai setelan pakaian kantoran. Ya kali ia memakai kaos bergambarkan salah satu logo partai dengan celana pendek, memangnya ia mau ke Empang? Batinnya menggerutu.


Abi menghela nafasnya. Berbicara dengan wanita yang berstatus istrinya sangatlah membutuhkan kesabaran ekstra. Sehingga disarankan untuk menabung kesabaran. Karena kesabaran adalah kunci sukses dalam hidup🙂.


"Jika tidak ada urusan, Aku akan pergi dulu ke kantor." Thika pun menatap ponselnya untuk memesan taksi online.


Abi yang melihatnya dengan cepat mengambil ponsel Thika. Ia mengcancel taksi online yang dipesan oleh Thika tadi.


"Eh kenapa di cancel sih?!" Tanya Thika tak terima. Jika Abi mengcancel taksinya ia akan berangkat ke kantor naik apa? Pikirannya.


"Kamu berangkat denganku! Gitu aja kok repot." Titah Abi. Dengan cepat menarik tangan Thika agar mengikutinya menuju mobil.


Di depan sudah ada supir dan Roy sang asisten. Melihat sang majikan datang, pak supir dengan cepat membukakan pintu mobil. 


"Masuklah!" Titah Abi. Dengan cepat Thika pun masuk. Lalu disusul Abi yang masuk melalui pintu samping lainnya. Roy pun masuk dan duduk di samping kemudi. Setelah itu, pak supir masuk dan langsung mengendarai mobil menuju ke kantor.


Mobil mewah itu membelah jalanan kota yang hampir macet karena memang jam berangkat kerja. Di dalam mobil hanya Abi dan Roy yang berbicara. Karena sebagai sekretaris yang sudah lama bekerja dengan Abi, ia yang akan mengatakan jadwal si bos atau menemaninya ketika ada rapat dengan klien.


*


20 menit perjalanan, mereka pun hampir sampai di perusahaan. Namun, ucapan Thika sudah membuat semua orang terkejut karena permintaannya.

__ADS_1


"Stop!" Teriak Thika. Seketika membuat pak sopir mendadak menepikan mobil di dekat persimpangan jalan.


"Ada apa? Kenapa teriak?!" Ujar Abi, dengan nada kesal.


"Aku akan turun disini. Jika dilihat oleh orang-orang kantor maka, akan besar urusannya. Kamu bisa melanjutkan perjalananmu." Ucap Thika kepada Abi. 


Jika Thika kedapatan satu mobil dengan si bos bukannya ia akan menjadi bahan gosip di kantor. Apalagi jika berita ini sampai di telinga Maya, bisa dipastikan hidupnya tidak akan tenang, aman dan tentram.


Thika pun turun dari mobil. Lalu berjalan menjauhi mobil. Ia terlihat waspada takut seseorang melihatnya turun dari mobil si bos.


Dari dalam mobil Abi pun menatap kesal Thika. Ia heran disaat perempuan lain menginginkan untuk sekedar dekat dengan Abi. Maka lain dengan Thika yang seolah ingin menjauh darinya.


Abi memejamkan matanya sebentar, lalu menyuruh supir untuk kembali menjalankan mobil.


Saat ini Thika sudah berada di dalam ruangan khusus sekretaris. Seperti biasa ia akan menyiapkan dokumen dan merapikan meja milik bosnya.


*


Disaat ia akan mengambil makanan, ponselnya berdering. Dengan cepat ia mengambil ponselnya itu dari saku roknya. Thika pun menatap tak suka dengan orang yang meneleponnya. Ia membuang nafasnya berat lalu menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Ya? Ada apa?" Tanya Thika kepada Abi sang penelepon.


📞"Belikan aku makanan dari cafe seberang jalan!" Titahnya kepada Thika.


"Tapi, Aku saat ini sedang di kantin perusahaan." Sahut Thika.


📞"Kalau begitu bawakan saja Aku nasi goreng dari kantin ingat jangan isi acar. Dan minumannya air mineral saja!" Ucapnya.


"Baik! Ada lagi?" Tanya Thika.

__ADS_1


📞"Tidak ada. Oh… ya kamu bawalah makananmu kemari!" Ucap Abi yang langsung mematikan teleponnya.


Thika pun menahan rasa kesalnya. Kali ini Apalagi yang akan dilakukan oleh bosnya? Batinnya menggerutu.


Dengan terpaksa Thika mengambil makanan yang disuruh oleh bosnya lalu mengambil makanan untuknya. Lalu pergi ke ruangan bosnya.


*


Di depan pintu ruangan Abi, Thika pun berpapasan dengan Roy. Melihat Thika yang kesusahan membawa piring nasi, Roy pun membantu Thika membukakan pintu.


"Silahkan bos menunggu Anda" ucapnya. Thika hanya mengangguk mengiyakan.


Baru saja masuk ke ruangan, Thika sudah dikejutkan oleh ucapan Abi, yang sedang duduk di sofa. "Duduk!" Titahnya. Dengan cepat Thika pun duduk di sofa panjang.


Thika pun meletakkan makanan yang tadi sudah dipesan oleh Abi.


"Temani Aku makan!" Titahnya lagi. Seakan tak mau dibantah.


Dengan wajah yang sudah ditekuk kesal, Thika pun menuruti perintah bosnya. Ia pun makan dengan lahap walau ekspresinya menunjukkan rasa kesal. Mereka pun makan dalam diam.


Thika dan Abi pun sudah menghabiskan makanannya. Thika pun membereskan piring kotor yang tadi mereka gunakan lalu beranjak keluar.


"Permisi." Ucap Thika singkat, lalu keluar.


Di dalam ruangan Abi terkekeh menahan tawanya. Sedari tadi ia gemas melihat wajah kesal Thika yang menurutnya imut.


Ia juga merasa jantungnya sedari tadi berdetak dengan kencang disaat berdua dengan Thika. 'Ada apa ini?' Batin Abi. Tangannya pun meraba dada bagian kirinya.


Thika pun sudah menaruh piring kotor lalu melenggang menuju ruangannya. Namun ditengah jalan seseorang memanggilnya.

__ADS_1


Bersambung……


__ADS_2