
"Sarah?" Tanya Thika kepada gadis yang menabrak Roy.
"Thika?" Tanya Sarah. Ya, orang yang menabrak Roy adalah sahabat Thika.
Thika dan Sarah lalu mendekat, memeluk satu sama lain. "Astaga udah lama gue gak ketemu sama lo Ka." Ucap Sarah. Melepas kerinduan karena jarang bertemu akibat sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Thika mengurai pelukannya. "Btw ngapain lo disini?" Tanya Thika.
"Habis ada meeting sama klien." Ucap Sarah.
Abi dan Roy hanya diam dan melihat reuni sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Abi pun mendekati mereka. Merengkuh pinggang Thika posesif. "Sayang, dia siapa?" Tanya Abi. Yang sudah mengganti panggilannya kepada Thika menjadi sayang.
Mendengar Abi memanggilnya sayang membuat Thika malu, karena belum terbiasa. Sementara Sarah masih bingung dengan keadaan yang ada di depannya. Dan Roy dengan keterkejutannya melihat perlakuan bosnya sekaligus sahabatnya itu kepada istrinya.
"Perkenalkan, dia adalah sahabatku, Sarah Azhari dan Sarah dia adalah suamiku." Ucap Thika memperkenalkan masing-masing.
Sarah seketika terkejut. 'Thika sudah menikah? Kapan? Kenapa aku tidak diundang? Dan lagi suaminya adalah Abimanyu Dewantara.' Sarah membatin.
"Ka, lo udah nikah? Kapan? Kenapa gue gak tau?" Tanya Sarah kepada temannya. Yang tega tidak mengundangnya di hari pernikahannya.
"Maaf, pernikahan kami diselenggarakan secara tertutup. Jadi tidak mengundang banyak tamu." Ucap Abi memberikan penjelasan.
Abi mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Apakah anda putri tunggal dari pemilik Azhari Corp?" Tanya Abi kepada Sarah.
Sarah pun membalas jabatan tangan Abi. "Ya, senang bisa bertemu dengan anda. Saya harap di lain kesempatan kita bisa bekerja sama." Ujar Sarah.
__ADS_1
Abi hanya mengangguk, lalu melepaskan jabatan tangannya. "Sayang, ayo kita pergi hmm." Ajak Abi dengan suara lembutnya. "Roy, gue yang akan menyetir mobilnya. Lo pergi aja cari taxi." Ucap Abi. Yang membuat Roy kesal. Sedikit geli mendengar Abi yang lembut kepada Thika lalu tegas ketika berbicara padanya.
Thika hanya mengangguk. "Sarah kami duluan ya." Ucap Thika melambai kepada Sarah. Lalu mobil mewah yang dikendarai Abi pun pergi meninggalkan restoran tersebut. Meninggalkan Roy dan Sarah.
Sarah pun menatap Roy. "Maaf, kalau mau saya bisa mengantar anda." Ucap Sarah.
"Ah, tidak usah. Aku akan cari taksi." Jawab Roy. Sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tidak apa, anggap saja ini permintaan maaf dari saya. Karena tidak sengaja menabrak anda." Ucap Sarah, lalu menarik pergelangan tangan Roy agar mengikutinya. Sedikit memaksa memang.
Roy hanya pasrah, mengikuti langkah Sarah ke arah parkiran. Mereka pun masuk sesudah menemukan mobilnya. Lalu pergi melaju membelah jalanan kota.
"Emm Pak Roy, kemana kita akan pergi?" Ucap Sarah, yang sedang mengemudi. Melirik sekilas Roy yang duduk disampingnya.
Siapa yang tidak mengenal Roy, tangan kanan dari seorang Abimanyu Dewantara yang pintar dan cekatan. Bahkan dia sendiri berada di bawah Abi sebagai salah satu pria tampan yang paling diinginkan.
"Maaf, memangnya umur anda berapa?" Tanya Sarah. Agar dia bisa berbicara dengan nyaman kepada Roy.
Roy tersenyum. "Umurku baru 27 tahun. Masih muda bukan?" Tanya Roy menyombongkan dirinya.
Sarah tertawa mendengar betapa narsisnya Roy. "Ya, anda masih terlihat muda. Anda lima tahun lebih tua dariku. Jadi aku seharusnya memanggilmu kakak." Ucap Sarah yang masih sedikit tertawa.
"Itu juga boleh. Kamu bisa memanggilku kak Roy." Jawab Roy.
Sarah pun mengangguk. Lalu menghentikan mobilnya karena di depan lampu merah sedang menyala.
__ADS_1
"Kaka tahu, aku sangat ingin mempunyai kakak. Andai kakakku masih hidup mungkin dia seumuran kak Roy." Ucap Sarah sendu, karena teringat akan kakaknya.
Kakaknya yang tidak pernah bisa dia temui. Itu karena dulu ibu Sarah sangat sulit untuk hamil, sehingga di kehamilan pertamanya ibunya mengalami keguguran. Lalu beberapa tahun kemudian Ibu Sarah mengandungnya, tapi sayang beberapa jam setelah melahirkan dirinya ke dunia ibunya sudah dipanggil oleh Tuhan.
Roy pun sedikit iba. "Jangan bersedih. Kamu bisa menganggapku sebagai kakakmu. Kapanpun kamu membutuhkanku aku akan selalu ada." Ucap Roy memberi semangat kepada Sarah. Dengan tangan kanannya yang memegang tangan kiri Sarah.
Sarah mengangguk pelan, menghapus bulir bening yang masih berada di ujung matanya. Lalu melajukan kembali mobilnya, karena lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna hijau.
"Sudah berapa tahun kamu mengenal nona Avanthika?" Tanya Roni sedikit mengorek informasi.
"Aku, Nisha dan Thika sudah berteman dari SMA. Kami dekat karena sama-sama dibesarkan oleh seorang ayah tanpa dampingan ibu." Jawab Sarah.
"Aku ditinggalkan oleh ibu ketika beberapa jam setelah aku lahir. Nisha ibunya kecelakaan disaat umurnya 14 tahun dan Thika ditinggalkan oleh ibunya karena penyakit saat umurnya 12 tahun." Lanjutnya lagi.
Roy lagi-lagi terkejut. "Maaf, sudah membuatmu menceritakan hal itu." Ucap Roy yang menatap Sarah.
Sarah hanya tersenyum, berbincang dengan laki-laki ini sedikit membuatnya nyaman. Karena selama ini dirinya sama sekali tidak menceritakan masalahnya kepada orang lain.
Apakah memang benar laki-laki dewasa akan mampu membuat kita nyaman? Batin Sarah bermonolog.
Mereka pun membicarakan banyak hal selama diperjalanan menuju perusahaan Dewantara Enterprise.
Roy pun sudah sampai di perusahaan. Lalu menatap mobil Sarah yang semakin lama semakin menjauh.
'Cantik sih. Tapi sayang gak bisa digapai.' batin Roy.
__ADS_1
Bersambung…..