Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Minggu Penuh Drama


__ADS_3

Deg!


Abi terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan pak Prayoga. Lalu tiba-tiba dari arah belakang datang Roni yang ingin memeriksa keadaan ayahnya.


"Ada apa? Ini sudah larut kenapa ayah belum tidur?" Tanya Roni yang melihat ayahnya dan Abi masih berada di depan pintu.


"Ini Ron, istrinya Abi kenapa kesana, kan kamar Abi disini?" Ucap pak Prayoga. Roni pun mengikuti arah pandang dari pak Prayoga.


Roni pun tersenyum lalu memanggil Avanthika. "Thika! Kemari sebentar" teriak Roni memanggil Thika.


Orang yang merasa namanya dipanggil pun menoleh, lalu mendekat ke asal suara. "Ada apa kak? Kenapa memanggilku?" Tanya Thika.


"Ini kamu tadi bilang sama kakak, bahwa kamu lagi marahan sama Abi kan?" Tanya Roni dengan mengangkat satu alisnya. Memberi isyarat kepada Thika.


Thika yang tidak mengerti apa yang dibicarakan Roni hanya menganggukkan kepalanya. 


Abi yang mengerti kode dari Roni langsung menimpali perkataan Roni. "Ya, yang dikatakan Roni benar pak, kami sedang sedikit ada masalah" ucap Abi, lalu merangkul dengan erat pinggang Thika.


Pak Prayoga pun merasa lega. Lalu berbicara kepada Thika. "Nak, bila suamimu melakukan kesalahan, janganlah cepat marah apalagi sampai pisah kamar. Cobalah bertanya apa alasannya kepada suamimu. Karena pada dasarnya landasan sebuah hubungan adalah kepercayaan dan komunikasi. Didalam suatu hubungan yang tidak ada kepercayaan maka, hubungan itu tidak berarti lagi. Dan tanpa komunikasi yang baik maka akan semakin memperburuk keadaan" ucap pak Prayoga.


"Dan untuk Abi, aku harap kau bisa menyelesaikan kesalah pahaman diantara kalian. Karena peranmu sebagai kepala keluarga, kau harus bisa mengambil  keputusan dan langkah yang dirasa baik dan benar. Sekarang kembalilah ke kamar kalian lalu berbaikan lah" lanjut pak Prayoga.


Abi dan Thika pun saling bertatapan, dan hanya bisa diam mencerna semua perkataan yang diucapkan pak Prayoga.

__ADS_1


"Ekhem! Sudahlah yah, ini sudah larut ayo masuk, lalu tidur" ucap roni. Lalu mengantar Ayahnya ke dalam kamar.


Melihat pak Prayoga yang sudah masuk ke dalam kamar, Abi pun langsung menarik pergelangan tangan Thika membawanya ke suatu tempat. Thika yang tangannya ditarik tersentak kaget. Kemana pria yang berstatus sebagai suaminya akan membawanya? Batinnya bertanya-tanya.


Tak lama mereka berdua sampai di depan kamar dengan pintu yang bercat hitam, Abi pun membuka pintu, lalu masuk kedalam. "Masuklah!" Titah Abi kepada Thika yang masih berada di depan pintu.


Thika pun masuk. Dilihatnya kamar dengan cat dan dekorasi yang didominasi warna hitam. Pikirannya bertanya siapa ini pemilik kamar ini?


"Anu, kenapa kamu membawaku kemari? Kamar siapa ini?" Tanya Thika.


"Ini adalah kamarku dan sampai pak Prayoga pulang kau dan aku akan tidur dikamar ini" ujar Abi. 


Abi sama sekali tidak bisa menolak perkataan pak Prayoga, karena beliau adalah satu-satunya orang yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri. Pak Prayoga lah yang menjaga dan membesarkan Abi semenjak kematian orang tuanya diumurnya yang masih sepuluh tahun.


Abi pun mendekat kearah Thika lalu menyentil keningn Thika dengan telunjuknya. "Apa yang kau pikirkan dengan otakmu yang kecil itu, kau pasti berpikir kita akan tidur di ranjang yang sama bukan? Tapi aku tegaskan pikiranmu itu keliru. Tentu saja kau akan tidur di ranjang dan aku akan tidur di sofa itu" ujar Abi sembari dagunya menunjuk sofa panjang di samping ranjang.


Thika mengangguk tanda mengerti. Lalu dia pun beranjak mengambil bantal dan selimut untuk suaminya.


Setelah itu, mereka pun bersama-sama menyelami alam mimpi.


*


*

__ADS_1


Pagi menyingsing. Sinar sang Surya  menembus jendela kamar yang tertutup gorden, sehingga membuat Abi membuka matanya perlahan. Dilihatnya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


Abi pun dengan langkah gontai menuju ke kamar mandi. Dilihatnya pantulan dirinya di cermin. "Tidurku semalam nyenyak juga" monolognya pelan.


Tunggu dulu! Kenapa tidurku bisa nyenyak? Bukankah aku belum meminum obat tidur? Batin Abi bertanya-tanya.


Abi pun mandi dengan pikiran yang masih bertanya-tanya. Setelah beberapa menit, Abi pun selesai mandi, lalu memakai celana pendek yang dipadupadankan dengan kaos hitam. Abi pun keluar kamar, dilihatnya Thika yang masih setia di alam mimpinya. 


Abi pun mendekat, mengusap surai hitam kecoklatan Thika yang mengganggu tidurnya. Abi pun memandangi wajah thika. Abi tampak berfikir, apakah karena kehadiran Thika yang tidur di kamarnya membuat dia bisa tidur nyenyak? 


Setelah puas memandang wajah Thika, Abi pun keluar dari kamarnya. Baru dia membuka pintu sudah ada Roni yang mengagetkan nya.


"Ron! Bikin gue kaget aja!" Teriak Abi kaget. sambil memegangi dadanya.


"Ya maaf. By the way Thika mana? Udah bangun?" Tanya Roni.


"Ngapain lo nanya? Ada masalah?" Abi berbalik bertanya.


"Enggak sebenarnya gue sama Thika kemarin mau bikin acara manggang gitu, mumpung hari ini hari Minggu. Ayah juga ada disini" ujar Roni.


Abi mengusap wajahnya kasar. Drama apa lagi ini, hatinya berteriak.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2