
Makanan pun sudah matang, lalu Abi, Thika, Pak Prayoga, Roy dan Roni makan bersama-sama dengan nikmat. Tak lupa juga para pelayan yang sudah membantu.
Abi pun menatap tak suka Thika yang sedang bersenda gurau dengan Roni. Entahlah perasaannya seperti campur aduk ketika melihat mereka berduaan.
*
Acara makan-makan pun telah usai, Roni telah pergi terlebih dahulu karena ada panggilan mendadak dari rumah sakit. Setelah kepergian Roni, disusul Pak Prayoga bersama Roy pergi meninggalkan mansion mewah Abi.
Thika pun membereskan bekas acara tadi bersama Pak Man dan para pelayan lainnya. Thika pun ingin menaruh piring kotor ke dapur setelah itu ia pun pergi menuju kamarnya untuk membersihkan badannya.
Disaat dia akan berbelok, Abi menarik tangan Thika lalu menghimpitnya ke dinding. "Sudah aku bilang bukan jangan dekat-dekat dengan Roni" ucap Abi, sedikit mengintimidasi.
Thika memutar bola matanya malas. "Kami hanya dekat sebagai adik kakak tidak lebih! Lagi pula kenapa kamu begitu khawatir seperti cemburu melihat pacarnya didekati pria lain" ucap Thika tak kalah telak.
Tep!
Thika pun melihat Abi yang tidak mengatakan apapun. "Sudahlah Aku mau mandi lalu tidur, besok sudah mau kerja" ucap Thika ingin pergi. Namun, ketika akan pergi tangan Thika dicekal oleh Abi.
"Bisakah mulai saat ini kita tidur di kamar yang sama?" Pinta Abi. Thika yang mendengarnya pun kaget.
"A-apa maksudmu? Aku bukan seperti wanita yang kau pikirkan, aku bukan wanita mura*an!" ucap Thika lalu sedikit menjauh dari Abi.
Abi memijat pelan pelipisnya. Bagaimana cara menjelaskan padanya bahwa aku hanya bisa tidur bila dia ada didekatku. Monolognya dalam hati.
"Em begini, kita akan tidur di kamar yang sama tapi kamu akan tidur diranjang sedangkan aku disofa. Mengertilah" ucap Abi dengan nada memelas.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya Thika melihat Abi sebegitu putus asanya. Dengan berat hati Thika pun mengiyakan permintaan atasan sekaligus suaminya. Abi pun tersenyum lalu berjalan mengikuti Thika menuju kamarnya.
Thika pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya selepas acara sore tadi. 25 menit kemudian Thika sudah keluar dengan menggunakan piyama tidurnya. Abi tak henti-hentinya melihat Thika yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah.
'**** kenapa dia begitu cantik' pikirannya. 'Tunggu, ingat dia bukan siapa-siapamu, dia hanya alat balas dendam mu' pikirnya lagi. Entahlah Abi seakan bertarung dengan dua sisi berbeda dari dirinya. Satu sisi Abi mengagumi kecantikan Thika dan satunya lagi membencinya, menganggap Thika sebagai alat untuk mencapai tujuannya.
Thika pun sudah selesai melakukan rutinitas malamnya. Lalu ia pun menuju ke arah ranjang dan langsung membaringkan tubuhnya. "Hmm Abi ingat di perjanjian kita tidak boleh menyentuh tanpa izin! Dan jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan" ucap Thika menatap tajam Abi yang akan mengambil handuknya.
Abi pun menoleh. "Memang siapa yang akan menyentuhmu! Dan lagi Aku sama sekali tidak tertarik pada yang datar seperti dirimu" ucap Abi menaikkan ujung bibirnya.
Thika kesal bukan main. Ia pun melihat bagian dadanya. Bukankah ini sudah cukup besar untuk gadis seusianya? Batinnya menggerutu. "Dasar menyebalkan!"
Saat ini Abi telah selesai mandi. Ia pun melihat Thika yang tidur dengan nyenyak seolah tidak peduli terhadap sekitarnya. Abi pun tergerak mendekat ketika melihat selimut yang digunakan Thika melorot, Abi pun menaikkannya.
Abi pun bangkit, menuju sofa lalu merebahkan tidurnya. Tak lama ia pun mengarungi alam mimpinya.
*
*
Thika pun bangun dari tidurnya, dilihatnya jam di ponselnya menunjukkan pukul setengah enam pagi. Ia pun bangun, dilihatnya Abi tidur dengan nyenyak nya walaupun ia tidur si sofa.
Thika pun beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah itu ia pun menyiapkan barang dan berkas yang akan ia bawa ke kantor. Tak lupa ia juga menyiapkan pakaian untuk Abi.
Setelah semua siap, Thika pun turun ke bawah berniat membantu Bi Sri.
__ADS_1
"Bi ada yang bisa aku bantu ga?" Tanya Thika menghampiri Bi Sri yang sedang menumis sayur.
"Eh… gak ada non, tinggal menumis sayur ini aja" jawab Bi Sri.
"Kalo gitu Aku yang nyiapin makanan di meja ya bi" ujar Thika. Bi Sri pun mengiyakan. Thika pun menyajikan makanan di atas meja.
Tak lama setelah Thika menyajikan makanan, Abi pun turun. Ia tampak gagah menuruni anak tangga dengan jas berwarna abu-abu yang Thika pilihkan.
Thika menyendok nasi beserta lauk-pauknya untuk dirinya sendiri. Abi yang melihatnya menatapnya dengan cengo. Bagaimana bisa dia makan tanpa dosa dan mengabaikan dirinya, batin Abi kesal.
"Ekhem! Kamu hanya mengambil untuk dirimu, bagaimana denganku?" Tanya Abi.
"Kan kemarin bisa ambil sendiri" jawab Thika.
Abi pun tampak kesal. Berbicara dengan perempuan ah tidak berbicara dengan Thika harus dengan kesabaran tingkat tinggi.
"Bukankah Roni sudah memberitahumu tentang kewajiban istri hmm? Kau tidak lupa bukan?" Tanya Abi. Thika pun menatap Abi dongkol.
Dengan cekatan Thika mengambilkan makanan lalu menaruhnya di piring Abi. Mereka makan dalam keheningan sampai Asisten Roy datang menghampiri.
Setelah makan Abi dan Thika pun bersiap. Thika sudah pergi duluan dan akan memesan taxi online, sampai teriakan seseorang menghentikannya.
"Tunggu!"
Bersambung…..
__ADS_1