Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Dipertemukan


__ADS_3

Setelah Thika tertidur, Nisha pun keluar menemui Mahen.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Mahen yang melihat Nisha keluar dari kamar adiknya.


"Begitulah, dia masih enggan bertemu dengan Abimanyu. Entahlah aku tidak tahu masalah yang terjadi diantara mereka karena Thika selama ini tidak pernah menceritakannya." Sahut Nisha.


Mahen pun menyuruh Nisha duduk disampingnya. "Terimakasih sudah membantuku selama ini." Ucap Mahen lalu Membawa Nisha ke dekapannya.


"Tidak masalah kak, Thika adalah sahabatku tentu aku akan membantunya." Ucap Nisha mengendus bau badan Mahen yang membuatnya candu.


Tiba-tiba ponsel Mahen berdering, dengan cepat Mahen mengangkatnya. Tanpa melepaskan pelukannya dari Nisha.


"Halo komandan?" Tanyanya kepada penelepon.


📞 (....)


"Baik! Saya akan pulang segera!" Ucapnya.


Lalu mematikan sambungan teleponnya. "Ada apa kak?" Tanya Nisha.


Mahen menghela nafas pelan. "Besok aku harus pulang, karena ada hal yang penting. Maafkan aku hmmm." Ucapnya, membelai rambut Nisha.


"Tidak apa kak. Kalau begitu aku akan membantu kakak berkemas sekarang." Ujar Nisha.


Mahen tersenyum, karena mendapatkan Nisha yang perhatian kepadanya dan mengerti keadaannya.


*


Keesokannya.


"Kak, kenapa kopermu diluar?" Tanya Thika yang baru keluar dari kamar.


Mahen mendekati adiknya. "Kakak akan pulang karena ada urusan. Hari ini kamu istirahat saja, jangan bekerja. Aku sudah menyuruh Nisha memintakan cuti kepada atasanmu." Ujarnya.


Thika jelas sedih, lalu memeluk kakaknya. Mahen bisa mengerti keadaan sang adik yang masih kelihatan sedih.

__ADS_1


"Apakah uncle akan pulang?" Tanya Agastya dan Aska berbarengan.


Mahen berjongkok mensejajarkan dirinya. "Yes boys! Uncle akan pulang jadi tolong jaga mommy kalian." Sahut.


"Baik uncle kami akan selalu menjaga mommy." Ucap si sulung Aska.


Nisha pun keluar dari kamarnya. "Thika maafkan aku, karena meninggalkanmu sendirian. Dua jam lagi aku ada seminar yang diharuskan datang. Kamu tidak keberatan bukan?" Tanya Nisha.


"Pergilah, aku tidak keberatan." Sahut Thika.


Nisha dan Mahen pun keluar dari rumah menuju taxi yang sudah mereka pesan. "Ingat jangan buka pintunya sembarangan." Titah Mahen kepada adiknya.


Thika hanya mengangguk, lalu melambaikan tangannya mengantar kepergian sang kakak. Lalu masuk kedalam tak lama setelah sang kakak pergi.


"Mommy Agastya lapar." Ucapnya disaat sang mommy baru sampai.di dalam.


"Baik! Mommy akan memasak sekarang. Kalian duduklah di ruang tamu." Titah Thika.


Mereka pun mengikuti perkataan sang mommy, duduk di sofa.


Dengan cepat Agastya berlari menuju pintu. Dibukanya pintu, namun dia jelas bingung karena yang datang adalah orang yang sama sekali belum pernah ditemuinya.


"Halo tuan, anda mencari siapa?" Tanya Agastya.


Abi jelas mengernyit heran karena yang membuka pintu adalah seorang anak kecil. Ya yang datang adalah Abi, dia tak ingin Thika pergi lagi jadi dia datang ke sana pagi-pagi sekali.


"Aku mencari Avanthika. Dimana dia?" Tanya Abi.


Hei pak CEO tak tahukah kau anak yang kamu tanya adalah anakmu sendiri?


"Siapa yang datang dik?" Tanya Aska. Datang karena adiknya yang lama membukakan pintu.


Abi menatap anak kecil yang baru datang itu. Begitu pula Aska yang menatap Abi tak kalah tajamnya.


Deg!

__ADS_1


Bagaimana mungkin anak kecil didepannya ini sangat mirip dengannya? Batinnya bertanya-tanya.


Abi pun hendak mendekat meraih wajah Aska yang mirip dengannya. Namun, tidak jadi karena Thika yang datang.


"Agastya! Aska! Kemari jangan dekat-dekat dengannya!" Teriak Thika. Lalu menarik lengan putranya.


"Why mom?" Tanya Aska, menatap mommynya karena merasa aneh dengan sikap sang mommy.


Deg!


Mommy? Anak kecil itu memanggil Thika mommynya. Apakah dia adalah putranya? Pikirnya.


"Kalian pergilah makanan kalian sudah siap." Ucapnya


"Baik mom!" Seru keduanya.


Abi mendekati Thika. "Katakan padaku, apakah anak itu adalah anakku?" Tanya Abi dengan memegang lengan Thika.


"Mereka berdua adalah anakku bukan anakmu!" Jawab Thika emosi bercampur sakit, karena tangan Abi yang meremas lengannya.


Abi terkejut bukan main. Kedua anak, kedua anak itu adalah putranya. Rasa bersalahnya semakin bertambah karena membiarkan orang dicintainya mengandung dan membesarkan anaknya sendirian di negeri asing. Untung saja dia dipertemukan dengan Thika sehingga dia bisa menebus kesalahannya kepada Thika dan kedua putranya.


"Maafkan aku, selama ini aku bersalah padamu." Ucapnya mengendurkan genggamannya.


Thika hanya diam. "Biarkan aku bertemu dengan mereka." Pinta Abi.


"Tidak bisa!" Ketus Thika, menghalangi Abi.


Abi bersimpuh di depan Thika. "Kamu boleh memukulku atau memakiku aku akan terima. Tapi, biarkan aku bertemu dengan mereka. Aku berhak bertemu mereka, karena aku adalah ayahnya." Pintanya lagi.


Thika jelas merasa bersalah karena berasa memisahkan kedua anaknya dengan ayahnya. Selama ini dia tahu bahwa kedua putranya sangat menginginkan kasih sayang seorang ayah.


Thika pun menyuruh Abi berdiri. "Baiklah aku akan membiarkanmu bertemu mereka. Masuklah!" Ucapnya yang sudah sedikit luluh.


Dengan bahagia Abi bangkit lalu memeluk Thika dengan erat. "Terima Kasih sayang." Ucapnya.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2