Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Ekstra part 3 - Sedikit Rasa Nyaman


__ADS_3

Ratih yang mendengarkan perkataan Roni, langsung menghambur ke pelukannya. Sambil sesekali terisak. Perkataan Roni jelas sudah membuatnya sadar sekarang.


Mengerti isi hati wanita ini, Roni pun mengusap pelan punggung Ratih yang masih tergugu di pelukannya.


"Mau pergi jalan-jalan ke pantai? Untuk menenangkan diri hmm?" Tanya Roni mencairkan suasana. Lalu memakaikan jaket kepada gadis yang mengusik pikirannya, karena Ratih hanya memakai kebaya tipis. Ratih hanya mengangguk mengikuti Roni.


Entahlah biasanya dirinya akan selalu waspada ketika didekati oleh pria asing, tapi dengan Roni dia merasakan sedikit rasa nyaman.


Setelah berjalan menyusuri pantai dengan beriringan, tiba-tiba Roni berhenti lalu menatap wajah gadis yang sudah mencuri hatinya. "Kamu tahu, jika punya masalah kamu bisa berbicara dan membaginya dengan orang lain, setidaknya itu tidak membebani hatimu." Ucap Roni.


"Jika hatimu masih terbebani, sekarang menghadap ke pantai lalu teriak. Keluarkan apa yang saat ini yang membuat hatimu terasa berat. Sejatinya berteriak memiliki manfaat untuk mengeluarkan segala beban pikiran dan hati yang selama ini menumpuk. Apalagi mungkin setiap orang pernah mengalami stres. Dengan berteriak kita bisa sekaligus melepaskan penat dan stres yang menumpuk karena masalah yang kita hadapi." Ucap Roni lagi.


Ratih mengikuti ucapan Roni, menghadap ke arah laut lalu menghirup udara dalam-dalam. Tak lama Ratih pun mengeluarkan segala unek-unek yang mengganjal di hatinya.


"DEWANGGA KAMP*ET, DASAR TIDAK TAHU MALU. KAMU ADALAH COWOK SAMPAH YANG AKU TEMUI. Untung saja kita putus, disaat sifat aslimu sudah terbongkar." Teriaknya yang semakin lama semakin melemah karena sudah kehabisan suara.


Huft…. Huft….


Deru nafas Ratih terdengar sangat keras, tapi itu sepadan dengan beban dihatinya yang sudah sedikit menghilang. Dirinya pun merasa sudah lega saat ini.


Deg!


Ratih melirik ke arah Roni, perasaan malu menguar keluar. Entahlah dirinya yang biasa memendam sendiri masalahnya, malah mengatakannya karena terbujuk rayu oleh perkataan pria asing di sampingnya.


"A-anu.... i-itu…. Maafkan aku, karena sudah membuat anda mendengarkan seluruh keluh kesahku." Ucap Ratih terbata-bata. Ingin sekali rasanya dia menceburkan dirinya ke laut karena malu.

__ADS_1


Ya, malu. Malu karena sudah memperlihatkan sisi lemahnya kepada pria asing yang perawakannya tinggi dan tampan. Apalagi badannya yang atletis ditambah otot lengannya itu. Tunggu?! Wait! Chottomatte! Kenapa pikiranku se liar itu tentangnya. Pikirnya.


"No Problem, sudah kewajibanku membantu orang yang sedang kesusahan. Perkenalkan namaku Roni Prayoga." Ucap Roni memperkenalkan dirinya. Bahkan tangannya sudah terjulur ke depan.


Dengan cepat Ratih menautkan tangannya, menjabat tangan Roni. "Ah…. Itu, nama saya Dewa Ayu Ratih Pramesti. Anda bisa memanggilku Ratih." Sahut Ratih sedikit gugup.


Roni tersenyum. "Namamu panjang ya, mencerminkan nama orang Bali." Ucapnya.


"Itu karena saya keturunan dari kasta ksatria yang biasanya diawali dengan gelar seperti nama saya 'Dewa Ayu'." Jelas Ratih.


Mereka pun berjalan menyusuri indahnya pantai yang dimana matahari sudah terbenam di ufuk barat. Memperlihatkan gemerlapnya bintang dan bulan di langit yang gelap.


"By the way, berapa usiamu dan apa pekerjaanmu?" Tanya Roni basa-basi, padahal dia sendiri tahu apa pekerjaan Ratih.


Ratih melihat ke arah depan. "Tahun ini umur saya 24 tahun. Dan saya bekerja di rumah sakit XXX sebagai Dokter Anak." Sahutnya.


Sementara Ratih pipinya sudah merona. "Tidak juga, saya malah masih banyak kekurangan. Walaupun begitu saya akan berusaha dan berjuang agar menjadi dokter yang lebih baik. Karena itu adalah cita-cita saya." Ucap Ratih, semangat.


Roni mengangguk, terkesan karena semangat yang diperlihatkan oleh Ratih. "Kamu pasti bisa menjadi Dokter yang baik." Ucapnya menatap Ratih. "Ah hari sudah gelap, aku akan mengantarmu pulang. Tidak baik bila perempuan sendirian di luar.


"Tidak usah, saya bisa pulang sendiri." Tolak Ratih.


"Ayolah, aku tidak akan macam-macam. Jika aku melakukan sesuatu padamu kamu bisa memukulku nanti." Cengir Roni.


Dengan pasrah Ratih mengiyakan ajakan Roni untuk mengantarnya pulang.

__ADS_1


Diperjalanan mereka sama-sama diam, hanya ada kesunyian dan suara motor yang berkendara. Tak lama mereka pun sampai di depan rumah Ratih. Rumah yang memiliki corak bangunan khas Bali.



"Terima Kasih sudah mengantar saya. Selamat malam." Ucap Ratih ketika sudah turun dari boncengan motor Roni.


"Hmm, tetaplah tersenyum kamu terlihat lebih cantik ketika tersenyum. Selamat malam." Ucap Roni.


Ratih pun sedikit berlari memasuki rumahnya, sementara Roni masih melihat kepergiannya yang semakin menjauh.


To be continue…..


Fyi:


(Di Bali dengan mayoritas agama Hindu telah mengadopsi sistem kasta ke dalam budayanya. Anak-anak Bali diberi nama berdasarkan kasta dan urutan lahirnya. Kasta tersebut dibagi menjadi empat kasta yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra.


Sistem kasta juga membuat orang Bali menggunakan bahasa yang berbeda ketika berbicara dengan orang dari kasta lain. Biasanya mereka akan berbicara dalam bahasa Bali Madya jika tidak mengetahui kasta seseorang untuk menghindari sikap kasar atau tidak sopan.


Untuk mengidentifikasi pria dan wanita, mereka menempatkan 'I' untuk nama depan pria dan 'Ni' untuk nama depan wanita.


-Untuk Brahmana (Pendeta/pemuka agama), biasanya mereka menggunakan nama 'Ida Bagus' untuk laki-laki, dan 'Ayu' atau 'Dayu' untuk perempuan.


-Ksatria (yang menjalankan pemerintahan, kalau zaman dulu seperti raja) biasanya menggunakan 'Anak Agung', 'Agung', 'Dewa' untuk pria, dan 'Anak Agung', 'Agung', 'Dewi', dan 'Dewayu' untuk wanita.


-Untuk Waisya (kaum pedagang), mereka biasanya menggunakan 'Gusti' untuk pria dan wanita, 'Desak' untuk wanita, dan 'Dewa' untuk pria.

__ADS_1


Yang terakhir, Sudra (kaum yang membantu tugas ketiga kasta diatas), mereka menggunakan 'Wayan/Putu (untuk anak pertama). Kadek/Made (untuk anak kedua). Komang/Nyoman (untuk anak ketiga). Dan Ketut (untuk anak keempat). Jika memiliki anak melebihi empat maka akan dilakukan pengulangan dari putu dst.)


__ADS_2