Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Sudah Memaafkan


__ADS_3

Abi bangkit, lalu dengan cepat memeluk Thika dari belakang.


"Bukan seperti itu, waktu itu Fani sebenarnya mengalami penyakit kejiwaan. Aku berpura-pura mencintainya. Kamu tahu jika aku tidak mengikuti permainannya maka dia akan berbuat nekat."


"Kamu ingat kejadian kamu tertabrak mobil, waktu itu Fani yang sudah melakukannya. Dia menyuruh orang untuk menabrak mu." Ucap Abi menjelaskan.


Thika berusaha melepaskan pelukan Abi namun, semakin berusaha dia melepas semakin erat Abi memeluknya.


"Tapi, setidaknya kamu menjelaskannya padaku. Bukankah dari awal aku sudah mengatakannya, apapun masalah yang kamu miliki coba kamu bicarakan, mungkin aku bisa membantu." Ucap Thika emosi. Masih berusaha melepaskan pelukan Abi.


Abi membalik tubuh Thika, sehingga saat ini mereka saling berhadapan. "Maafkan aku, seharusnya aku menjelaskannya padamu." Ucap Abi dengan tatapan sendu. Dengan punggung tangan besarnya membelai pipi mulus Thika.


Abi mendekatkan wajahnya melihat itu, Thika refleks menoleh ke arah samping. Mengerti hal itu Abi meletakkan pelukannya lalu memegang tangan Thika.


"Kamu tahu, kita sudah ditakdirkan untuk bersama." Ucapnya menatap intens netra milik Thika.


Thika mengernyitkan dahinya. "Aku rasa tidak begitu." Sanggahnya.


Abi mengeluarkan sebuah kotak yang berisi sebuah kalung. "Kamu ingat kalung ini?" Tanya Abi. Mengeluarkan sebuah kalung dari kotak yang dibawanya.


Thika terkejut lalu berusaha untuk mengambilnya. Namun, dengan cepat Abi mengangkatnya sehingga Thika tidak bisa menggapainya. "Itu kalungku, kembalikan!" Thika berusaha menggapainya beberapa kali tapi tetap saja dia kalah dari Abi yang lebih tinggi darinya


Melihat Thika yang sedikit ngos-ngosan, dia pun menghentikannya. Lalu memakaikan kalung tersebut di leher jenjang Thika.


"Tahukah kamu siapa yang memberikan kalung ini padamu? Itu adalah aku. Kamu adalah gadis kecil yang selama ini aku cari. Kita sewaktu kecil pernah bertemu dan bermain bersama. Karena kamu yang tiba-tiba pindah aku memberimu hadiah kalung ini. Kalung yang hanya ada satu di dunia karena ibuku sendiri yang mendesain nya." Ucap abi

__ADS_1


Thika tercengang. "Tidak mungkin." Bulir bening sudah mengalir dari pelupuk matanya. Tanpa aba-aba Thika memukul Abi dengan kerasnya.


Bugh!


Bugh!


"Kamu tahu apa yang aku rasakan selama ini. Kakak baik bilang bila aku ada masalah maka aku bisa mencarinya." Isaknya.


Bugh!


Bugh!


"Tapi apa yang kudapat, kakak baik itu yang malah menyakitiku. Kamu jahat!" Isaknya lagi.


Abi menerimanya tanpa ada perlawanan. Membiarkan Thika melampiaskan rasa sakit dan kecewanya yang selama ini dia pendam. Saat pukulan Thika mulai melemah, dengan cepat Abi membawanya ke pelukannya mendekapnya dengan erat.


Abi melepaskan pelukannya, menghapus air mata yang mengalir dari mata orang yang dicintainya. Hingga sapuan tangannya berhenti di bibir ranum Thika yang masih mengeluarkan tangisannya.


Dengan cepat Abi mencium bibir merah muda tersebut, mengecupnya pelan. Karena tidak menerima pemberontakan, Abi semakin memperdalam ciumannya, memegang tengkuknya. Meluma* bibir Thika atas bawah. Dalam beberapa waktu Abi meresapi setiap ciuman yang dia berikan kepada orang terkasihnya. Sementara Thika hanya diam menerima ciuman itu.


Karena Thika yang kehabisan nafas, Abi pun menyudahi ciuma*nya. Dengan Thika yang masih diam membisu.


"Maafkan aku, mari kita mulai kehidupan kita bersama. Bersama membesarkan Aska dan Agastya." Mohon Abi kepada Thika menatap dalam-dalam mata Thika. Kedua tangannya sudah menangkup wajah Thika, sesekali mengusap pipi mulusnya dengan ibu jarinya.


Mendengar itu, Thika melepaskan tangan Abi yang menangkup pipinya. "Kamu tahu tidak semua kesalahan dapat dimaafkan. Tapi, aku sudah memaafkanmu dari dulu. Saat ini berikan hatiku waktu untuk menyembuhkan lukanya. Hatiku sudah lelah karena mencintaimu dalam rasa sakit selama ini." Ucap Thika.

__ADS_1


Abi yang mengerti apa yang dikatakan Thika mengangguk. "Aku mengerti, sekarang tidurlah sudah malam hmm." Ujar Abi. Lalu mendekatkan dirinya mengecup kening Thika.


Tak lama Abi pun pergi meninggalkan Thika yang masih memandangi pemandangan dari jendela kamarnya. 'Apa yang harus aku lakukan?' Thika membatin.


Haruskah dia berkompromi kali ini, melihat bagaimana kedua anaknya yang sangat merindukan sosok ayah. Bukankah selama ini dia sudah egois memisahkan seorang ayah dengan anak-anaknya?


*


*


*


Sementara Abi berada di hotel yang sudah dipesannya. Dia sedang memikirkan bagaimana caranya meluluhkan hati Thika. Walaupun dia berkata sudah memaafkannya, namun hatinya masih sedikit sakit.


Benar kata orang saat sumbu lampu dinyalakan maka lampunya akan merasakan panasnya, sekecil apapun penderitaannya maka tetap rasa sakit yang akan didapat. Seperti dia yang menyakiti istrinya di masa lalu maka akan seperti itu rasa sakit yang dia dapatkan saat ini.


Katakanlah dia bodoh saat ini karena tidak bisa memikirkan cara agar bisa kembali bersama istrinya. Namun, apapun rintangan menghadang akan dilewati saat ini, karena tidak ingin kehilangan istri dan anaknya untuk kedua atau kesekian kalinya.


Bersambung….


...********...


...Impian baru terasa nilainya kalau sudah lepas dari genggaman kita....


...~Me~...

__ADS_1


...********...


__ADS_2