Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Ekstra part 5 - Segera


__ADS_3

Seminggu sudah keluarga Abi dan Roy berlibur di Bali. Dan saat ini mereka sedang bersiap-siap untuk berangkat ke bandara.


"Ron, kamu sudah selesai belum?" Tanya Abi ketus. Bagaimana tidak ketus, dia harus menyaksikan Roni sedang bermesraan dengan pacarnya.


Sementara Roni sibuk mengucapkan kata-kata perpisahan diselingi mencium setiap jengkal di wajah Ratih kekasihnya.


"Ya, aku sudah siap." Sahut Roni kesal karena Abi yang mengganggunya bermesraan. Lalu Abi pun pergi meninggalkan sepasang kekasih baru yang sedang memadu kasih.


Selang beberapa hari setelah Roni menyatakan cintanya, Ratih pun membalas cintanya dan mereka pun berpacaran. Namun, saat ini mereka akan menjalani hubungan jarak jauh karena pekerjaannya.


Alasan Ratih menerima pernyataan cinta Roni karena, Roni adalah orang yang berpikiran dewasa dan luas. Selain itu, dia juga orang yang sangat bertanggung jawab. Mungkin karena umur Roni yang sudah cukup dewasa karena 10 tahun lebih tua dari Ratih.


*


Mereka pun sudah sampai di bandara, menunggu pesawat pribadi milik keluarga Dewantara.


Abi dan keluarganya pun menunggu di ruang tunggu VIP bersama keluarga Roy. Sementara Roni masih juga menempel pada kekasihnya.


"Sayang, berjanjilah padaku kamu akan selalu menghubungiku. Dan jangan biarkan lelaki lain mendekatimu karena hatimu adalah milikku sekarang." Pinta Roni posesif.


"Aku tahu kak, dan kakak juga jangan pernah berpaling dariku." Sahut Ratih.


"Tentu, setiap seminggu sekali aku akan berusaha datang menemuimu." Ujar Roni.


Suara pemberitahuan pun sudah terdengar, mereka semua pun menuju berangkat menuju terminal keberangkatan. Satu persatu mereka pun naik ke pesawat. Tak lupa juga Roni, namun dengan cepat dia berbalik lalu mengecup bibir manis milik kekasihnya.


"I Love you, bye!" Roni melambai kepada Ratih. Sementara Ratih hanya terdiam, dia akui ini merupakan ciuman pertamanya. Karena selama ini dia sangat menjaga dirinya selama berpacaran dengan orang lain pun dia hanya mengizinkan berpegangan tangan tidak lebih


Tak lama pesawat pun terbang melambung di atas langit.


*

__ADS_1


*


*


Setelah menempuh beberapa jam diperjalanan, Abi dan keluarganya akhirnya sampai di mansion yang sudah mereka tinggalkan selama seminggu.


Merasa sedikit lelah, Thika dengan cepat merebahkan tubuhnya di ranjang setelah masuk ke kamarnya.


"Huft, capek banget." Gumamnya.


"Istirahatlah." Abi menimpali dari belakang membawa tas selempang milik istrinya.


"Gimana gak lelah coba? Setiap malam kamu selalu saja…. Akh!" Pekik Thika yang kaget. Dia kaget karena tiba-tiba Abi memijat bahunya sedikit keras.


"Sakit, pelan-pelan." Ucap Thika sedikit meringis.


Abi pun mengurangi tenaganya, lalu kembali memijat istrinya dengan lembut. "Begini?" Tanya Abi.


"Ya begitu, sedikit ke bawah lagi." Ujar Thika, karena menikmati pijatan Abi.


"Aku harap, kamu tidak akan meninggalkanku lagi, dan selalu menemaniku sampai kapanpun." Ucap Abi pelan.


Setelah itu, dia pun menarik selimut, untuk menyelimuti Thika. Lalu melenggang pergi menuju kamar mandi.


*


*


Disisi lain, malam hari di kediaman Agatha.


Tampak Mahen, Nisha dan Tuan Agatha sedang duduk di sofa ruang tamu. Nisha tampak *******-***** ujung bajunya karena sedikit gugup. Karena Mahen yang tiba-tiba menghubunginya sore tadi, karena ingin datang kerumah untuk melamarnya.

__ADS_1


"Nak Mahen, ada apa kamu datang kemari?" Tanya Tuan Agatha yang tidak tahu maksud kedatangan Mahen.


Mahen melirik sekilas Nisha, lalu menggenggam pelan tangannya. Dia tahu bahwa gadis cantiknya itu sedang gugup saat ini. Sementara Tuan Agatha menangkap gelagat aneh karena tindakan Mahen kepada putrinya.


"Begini paman, maksud kedatangan saya kemari karena ingin mempersunting putri anda Nisha menjadi istri saya." Ujar Mahen to the point.


Tuan Agatha jelas terkejut, lalu menatap putrinya yang sedari tadi hanya menunduk. "Nisha, jelaskan semuanya kepada ayah!" Titahnya.


Nisha terlihat ragu-ragu, telapak tangannya sudah berkeringat. "I-itu paman, saya mencintai Nisha begitu pula sebaliknya. Jadi, berikan kami restu. Karena kami ingin secepatnya menikah." Ucap Mahen dikala dia melihat Nisha yang kesusahan berbicara.


Tuan Agatha menghela nafasnya. "Sebaiknya kamu jangan membuat putri ku menangis atau bersedih. Selalu bimbinglah dia menjadi lebih baik, tutupi kekurangannya begitu sebaliknya. Walaupun kamu merupakan putra dari atasanku namun, bila terjadi sesuatu pada putriku maka aku tidak akan segan-segan bertindak kepadamu." Tegas Tuan Agatha.


Mahen dan Nisha terkejut mendengar penuturan tuan Agatha.


"Jadi, maksud paman?"


"Maksud ayah?"


Tanya mereka berbarengan.


"Aku merestui kalian, sebagai orang tua, aku hanya akan mendukung apapun yang menjadi keputusan dari Nisha dan meluruskan bila terjadi sesuatu." Ujar tuan Agatha.


"Jadi, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" Tuan Agatha kembali bertanya.


Mahen menatap Nisha sembari tangannya menggenggam erat tangan Nisha. "Segera, setelah aku mengajukan dokumen permohonan izin nikah." Jawab Mahen.


To be continued…….


...************...


...Tetaplah dekat dengan hatiku setiap saat, biarkan aku berbagi setiap nafas denganmu....

__ADS_1


...~Me~...


...***********...


__ADS_2