
Keesokan harinya setelah pesta pernikahan. Di restoran hotel, terlihat Roni, Nisha dan Mahen di satu meja yang sama bersama anak-anak. Sementara para pelayan duduk di meja yang lainnya.
"Astaga kemana Thika dan Abi? Kenapa jam segini belum bangun juga?" Mahen menggerutu.
"Benar tidak biasanya Thika bangun siang." Sahut Nisha.
Sementara Roy menghela nafasnya. "Sudahlah jangan menunggu mereka. Pada saatnya nanti kalian akan merasakannya juga. Dokter Nisha pasti tahu maksudku bukan?" Roni menimpali.
Nisha merona malu, karena mengerti apa yang dikatakan Roni. Sementara Mahen hanya mencebik kesal karena tidak mengerti apa yang dibicarakan Roni.
Roni yang ditatap Mahen pun tersenyum. "Ada kalanya kita pura-pura tidak tahu, walaupun sebenarnya kita tahu." Ucap Roni sambil menyeruput kopinya.
"Uncle kenapa mommy dan Daddy lama sekali?" Tanya Agastya.
Roni terdiam karena tidak bisa menjawab pertanyaannya. Jika dia beritahu yang sebenarnya mereka tidak akan mengerti karena masih kecil.
"Begini, mommy dan Daddy ka-"
"Sudahlah adik, mommy dan Daddy sedang membuatkan adik untuk kita." Sela Aska dengan santainya. Bahkan fokus memakan makanannya.
Roni, Nisha dan Mahen tiba-tiba tersedak saat sedang minum karena mendengar penuturan Aska. 'Apakah anak sekecil Aska sudah mengerti apa yang dia ucapkan?' pekik ketiganya di dalam hati.
"Apakah mami dan papi Reno juga kak?" Tanya Reno.
"Tentu." Jawab Aska singkat.
Agastya dan Reno terlihat antusias karena akan mendapatkan seorang adik. Sementara ketiga orang dewasa yang ada di meja saling pandang, menyimak perbincangan anak-anak yang menurut mereka otaknya sudah tercemar.
Tak lama Roy dan Nisha sudah turun dengan pakaian rapi, menuju meja makan yang ditempati oleh Roni. Reno bangkit berlari menghampiri mami dan papinya. "Apa mami sama papi sudah selesai membuat adik?" Tanya Reno.
Sarah dan Roy jelas terkejut, malu? Tentu saja malu. Dengan cepat Roy menatap Roni dengan tatapan tak bersahabat. Mereka pun melakukan telepati antar saudara kembar.
'Apa yang kau katakan pada putraku?!' Roy.
__ADS_1
'Kak, aku tidak mengatakan apa-apa.' Roni menatap Roy dengan tatapan memelas.
Tak lama Abi dan Thika datang lalu menghampiri semua orang. "Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya Thika. Karena mendengar kehebohan.
"Mommy, benarkah mommy membuat adik? Aku mau adik perempuan." Ucap Agastya memeluk kaki jenjang mommynya.
Abi seketika terbatuk-batuk mendengar perkataan Agastya. Dia pun menatap tajam Roni, karena Roni yang paling mencurigakan diantara semuanya.
"Astaga apa lagi ini? Kenapa baru pagi hari sudah begitu suram, seperti hatiku ini." Gumam Roni yang bisa didengar Nisha dan Mahen.
Jelas Nisha dan Mahen tertawa terbahak-bahak karena drama membuat adik yang dibicarakan semua orang. Bahkan menyudutkan Roni yang tidak bersalah.
Setelah perdebatan itu, mereka pun sarapan dengan tenang tanpa adanya pembahasan apapun.
*
*
*
Karena pekerjaan yang mereka lakoni. Mahen yang sudah menjadi Kolonel dan Nisha yang tidak bisa pergi meninggalkan kewajibannya sebagai dokter. Mereka sendiri hanya bisa libur dua hari dan besok akan kembali ke kesehariannya.
Pasar seni Sukawati yang berada dalam wilayah Desa Sukawati Kabupaten Gianyar, merupakan tempat terbaik untuk mencari oleh-oleh khas Bali.
Pasar seni Sukawati sangat terkenal karena menjual pakaian berupa baju, sarung, dan kerajinan tradisional khas Bali dengan harga yang sangat murah. Pakaian seperti Batik yang berciri khas Batik ornamen Bali. Khusus untuk harga pakaian akan menyesuaikan dengan kualitas dari kain dan sablon.
Disaat sudah sampai mereka pun menuju ke dalam pasar, membeli baju khas Bali, dan beberapa cenderamata yang akan diberikan kepada para teman. Seperti gantungan kunci, jepit rambut dan tas anyaman.
"Kak, bukankah ini cantik?" Tanya Nisha memperlihatkan sebuah tas anyaman yang menurutnya bagus.
"Cantik, apalagi kamu yang pakai, pasti lebih cantik." Ucap Mahen. Yang membuat Nisha merona.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari hari sudah siang, lalu memutuskan untuk mencari restoran untuk menghilangkan rasa lapar nya.
*
Setelah selesai makan dan berbelanja mereka pun kembali ke hotel. Mahen pun menarik tangan Nisha menuju bibir pantai untuk melihat sunset karena hari sudah sore.
Nisha pun duduk di sebuah kursi, sementara mahen sedang membeli minuman. "Ayo minum." Titah Mahen memberikan kelapa muda kepada Nisha.
Nisha tersenyum lalu meminumnya. "Terimakasih kak. Kakak gak beli?" Tanyanya.
Mahen menggeleng lalu meraih sedotan yang digunakan Nisha lalu minum kelapa muda itu. Nisha tersipu karena tindakan Mahen. Dia tahu Mahen adalah orang yang dingin dan sedikit kaku, namun ada kalanya Mahen mengeluarkan sisi romantisnya yang membuatnya semakin jatuh cinta.
"Setelah dari sini, mari kita menikah hmm. Aku akan berbicara dengan paman." Ucap Mahen menatap manik mata Nisha.
"Aku akan ikut apapun keputusan kakak." Sahut Nisha lalu memeluk Mahen.
Mahen melepas pelukannya lalu menciu* bibir mungil milik Nisha. Sementara Nisha sendiri diam disaat Mahen meluma* bibirnya dengan rakus karena dia sendiri tidak tahu caranya membalas ciuman Mahen.
Mahen melepaskan ciuman disaat merasakan Nisha yang kehabisan nafas. Mahen pun menyatukan keningnya dengan Nisha. "I Love You." Ucap Mahen.
"Me too." Sahut Nisha.
Mereka pun bercanda gurau sambil menikmati sang Surya yang mulai tenggelam.
To be continue…..
...*******...
...Pertemuanku denganmu adalah sebuah isyarat. Aku diciptakan untukmu begitu pula sebaliknya....
...~Me~...
...*******...
__ADS_1