Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Pada Akhirnya


__ADS_3

Di Pagi hari, Thika dengan Abi sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit mengunjungi Jendral Sanjaya yang sedang sakit.


Mereka pun berangkat menggunakan mobil dengan Abi yang mengemudikannya. Sementara tatapan Thika hanya fokus ke jalan raya namun, pikirannya sudah melanglang buana. Memikirkan apa yang akan dia katakan pada ayahnya.


Abi melirik istrinya sekilas, mengerti apa yang saat ini dirasakan olehnya. Thika pun kaget dikala tangan besar suaminya menggenggam erat telapak tangannya seolah memberikan dukungan kepadanya.


"Jangan khawatir, aku akan selalu berada di sisimu." Ucap Abi menyemangati istrinya.


Mengecup punggung tangan istrinya. Sementara Thika hanya sedikit mengukir senyum.


*


Tak beberapa lama mereka pun sampai di rumah sakit. Lalu menaiki lift menuju ruangan dimana Jendral Sanjaya dirawat.


Tak banyak orang yang berlalu-lalang di sana, karena ruangan yang ditempati oleh Jenderal Sanjaya merupakan ruangan VIP.


Thika pun menatap pintu bercat putih yang ada di depannya ini. Seketika perasaan takut, cemas dan khawatir bercampur menjadi satu. Seperti permen nano nano yang banyak rasanya bila sudah di makan.


Dia pun membulatkan tekadnya. Lalu membuka pintu itu dengan pelan saat sudah diizinkan untuk masuk. Sementara Abi hanya mengekor di belakangnya.


Bisa dia lihat ayahnya yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Dan Mayor Agatha yang duduk di sofa yang disediakan disana.


"Ayah…." Ucap Thika lirih mendekat ke arah ayahnya.


Jenderal Sanjaya menoleh. "Nak…." Ucapnya pelan. Lalu beranjak bangkit dari tidurnya.


Dengan cepat Thika berlari, agar ayahnya tidak bangkit. "Ayah istirahat saja ya. Jangan banyak gerak." Ucapnya khawatir.


"Ayah aku kangen. Maafin Thika karena menikah gak bilang-bilang. Thika takut ayah marah." Thika memeluk ayahnya lalu menangis sesenggukan.


Tuan Sanjaya menepuk pelan punggung putri kecilnya itu. "Sudah jangan menangis lagi ya, lagipula suamimu sudah memberitahu ayah semuanya. Sekarang tuan putri ayah sudah menikah masa masih nangis kan malu." Ucapnya menghibur putrinya.

__ADS_1


Thika mencebik kesal, karena ayahnya menjelekkannya didepan suaminya. Lalu melepas pelukannya.


"Ayah harus cepat sembuh." Ucap Thika menatap sendu ayahnya.


Tuan Sanjaya mengusap pucuk kepala putrinya. "Harus ayah harus sembuh demi melindungi tuan putri ayah. Melindungi dari seseorang yang membuatnya menjadi anak durhaka." Sindir tuan Sanjaya, dengan ekor matanya melirik Abi yang sedang berdiri di belakang Thika.


"Ingat nak, bila dia berani macam-macam, katakan pada ayah. Maka ayah sendiri yang akan menghukumnya." Ucapnya lagi.


Thika terkekeh pelan. Sementara Abi sudah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Saya tidak akan membiarkan Anda menghukum saya." Ucap Abi penuh keyakinan.


"Buktikan jangan hanya umbar janji. Disaat kamu mengucapkan janji, kamu harus melihat kemampuanmu sendiri, mampu gak menepatinya. Kalo umbar janji semua orang juga bisa." Ujar tuan Sanjaya.


Mereka bertiga pun mengobrol dengan santai beberapa waktu. Sampai akhirnya Abi mendapatkan telepon penting mengenai perusahaan.


Saat ini Abi dan Thika sedang berada di mobil yang menuju perusahaan. "Terimakasih." Ucap Thika singkat.


Abi menoleh. "Apapun akan kulakukan demi dirimu." Ucap Abi. Dengan gombalan kelas terinya.


"Aku menggombal hanya di depanmu." Ucap Abi. Mereka pun tertawa sampai akhirnya mereka sampai di perusahaan.


*


*


*


Sementara di waktu yang sama di rumah sakit.


Sarah yang mendengar Roy terluka dari Roni dengan cepat menuju rumah sakit. Perasaannya sangat kacau karena mencemaskan Roy.


Saat ini Sarah pun sudah berada di ruangan Roy. "Sarah? Kenapa kamu kemari?" Tanya Roy yang melihat kedatangan Sarah.

__ADS_1


"Ah kak Roni yang memberitahuku. Dia bilang kamu sedang sakit. Jadi aku hanya menjenguk mu." Jawab Sarah. Roy pun hanya mengangguk.


Hening


Hening


Tidak ada percakapan diantara mereka berdua. Sampai akhirnya Sarah memberanikan dirinya. "Kak aku ingin mengatakan sesuatu. Terimakasih karena sudah hadir di dalam hidupku. Walau hanya sekedar menghiburku. Maaf aku yang tiba-tiba menyukaimu, walau aku sudah tahu kakak hanya menganggapku adik. Aku ingin setelah ini hubungan kita tidak akan berubah. Biarkan aku sendiri yang memendam perasaan ini."


"Sebentar lagi aku akan menerima perjodohan yang dilakukan papa. Aku harap Kak Roy bisa menemukan gadis yang lebih cantik dan baik." Ucapnya dengan tersenyum.


Sebagai putri tunggal keluarga Azhari dia yang akan mewarisi perusahaan keluarga, Sarah dengan terpaksa menerima perjodohan yang disiapkan oleh ayahnya. Disatu sisi dia tidak ingin membuat ayahnya sedih dan disisi lain dia ingin mengubur rasa sukanya kepada Roy.


Sementara Roy mematung, tak percaya dengan apa yang dikatakan Sarah. Dia akui mulanya mendekati Sarah karena ingin mengorek sedikit informasi mengenai keluarga Sanjaya. Namun, dia terkejut karena tiba-tiba Sarah mengatakan kalau dia mulai menyukainya.


Tentu karena dia memiliki motif mendekati Sarah, sehingga dia tanpa memikirkan perasaan Sarah langsung menolaknya. Bahkan mengabaikan panggilan atau pesan yang dikirim Sarah. Hingga Sarah berhenti berhubungan dengannya.


Pada akhirnya dia sendiri juga menyukai atau bahkan sekarang dia sudah mencintai Sarah gadis yang sempat dia manfaatkan. Namun, hari ini Sarah mengatakan akan melupakannya dan memulai hubungan yang baru, walau masih menyukainya.


Tidak! Aku tidak akan membiarkan dia pergi kali ini! Batin Roy, bersemangat.


Roy dengan cepat menarik pergelangan tangan Sarah, mendekat wajahnya dengan wajah Sarah. Sampai akhirnya dia memberanikan diri mengecu* bibir milik Sarah. Awalnya hanya kecupan sampai akhirnya Roy kelepasan dan memperdalam cium*nnya.


'Apakah bibirnya rasanya memang manis seperti ini?' batin Roy.


Roy melepaskan cium*nnya dikala merasa Sarah yang kehabisan napas. "Aku mencintaimu, tidak ada yang bisa memilikimu selain diriku!" Ucap Roy. Mengusap sudut bibir Sarah. Sarah tersipu, bahkan detak jantungnya sudah berdetak dengan cepat.


"Tapi kak…."


Roy tersenyum. "Aku akan berbicara dengan ayahmu. Agar membatalkan perjodohan mu." Ucapnya penuh yakin. Lalu membawa Sarah ke dekapannya.


Mungkin saat ini perjalanannya akan rumit, karena dia mencintai seorang putri keluarga terpandang. Sementara dirinya hanya seorang asisten. Ah bukankah dia sudah seperti Cinderella yang mendapatkan seorang pangeran?

__ADS_1


Bersambung…..


__ADS_2