
Keesokan harinya
Maya dengan langkah gontai datang memasuki kantor, semua karyawan pun menatapnya. Itu karena kejadian di pantry perusahaan kemarin. Namun, Maya dengan dengan tebal muka mengabaikan dan berjalan begitu saja melewati para karyawan.
Tiba-tiba perhatian karyawan tertuju kepada bosnya yang baru saja datang. Semua orang pun berjejer dan memberikan salam kepada sang pemilik perusahaan.
Melihat itu, tanpa pikir panjang Maya dengan cepat mendekatkan dirinya pada Abi.
"Selamat pagi pak, apa anda butuh sesuatu?" Tanya Maya sambil memeluk lengan Abi. Semua orang yang ada di lobi kantor pun dibuat kaget dengan perilaku Maya.
Dengan cepat Abi menghempaskan tangan Maya. "Tidak!" Ucap Abi singkat.
Abi pun berniat pergi dari hadapan Maya namun, dicegah olehnya. "Tu-tunggu pak, saya membawakan bekal untuk anda. Saya sendiri yang membuatnya" ucap Maya menyerahkan kotak bekalnya.
Abi yang dengan malas pun mengambil kotak bekal itu lalu memberikannya pada Roy. Lalu Abi pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan tempat itu. Namun, lagi-lagi akan dicegah oleh Maya dan dengan sigap Roy menghadang Maya.
"Tolong nona perhatikan perilaku anda" ujar Roy kepada Maya. Setelah itu Abi dan Roy pun menuju lift untuk naik menuju ruangannya.
*
Beberapa menit yang lalu, dari pintu masuk terlihat Avanthika yang baru sampai di kantor. Nafas Thika terengah-engah sehabis berlari, itu karena ia hampir saja terlambat. Sesampainya di lobi perusahaan, ia pun dibuat terkejut dengan para karyawan yang menonton perilaku Maya yang mengejar-ngejar Abi seperti orang bodoh. Thika pun menonton pertunjukan tersebut dari kejauhan. Akan sangat seru jika ada popcorn dan sedikit minuman besoda, menemaninya melihat pertunjukan yang dibuat oleh Maya ah tidak mungkin ini yang disebut Drama Queen.
Setelah kepergian sang bos, Maya pun berniat ingin pergi dari lobi namun, melihat kedatangan Thika, Maya pun tersenyum licik mengurungkan niatnya.
"Wah… wah… lihat ini, siapa yang terlambat?" Ucap Maya provokasi. Para karyawan yang masih berada di sana seketika melihat ke arah Thika.
__ADS_1
"Bukankah kau sekretaris bos? Seharusnya kau datang lebih awal dan berikan contoh yang baik bagi karyawan lain" lanjutnya lagi.
Mendengar itu, Thika mulanya hanya diam karena ia sangat lelah untuk beradu mulut dengan Maya. Ia tidak menyangkal karena benar dia hampir terlambat karena kesiangan. Namun, perkataan Maya yang terakhir membuat emosi Thika memuncak.
"Aduh berisik sekali ya? Ini kantor apa pasar sih? Tadi denger suara ibu-ibu teriak-teriak" Ucap Thika dengan santainya. Lalu pergi menuju lift berjalan meninggalkan Maya dan para karyawan.
Mendengar itu, Maya pun kesal dan mendekat ingin menampar Thika. Namun, dengan cepat Thika menangkis tangan Maya, hingga Maya hampir kehilangan keseimbangannya.
"Apa? Mau nampar? Mau buat gue jatuh ya? Aduh trik kayak gitu udah gak jaman tau gak!" ucap Thika lalu menghempaskan tangan Maya sampai ia terhuyung ke belakang.
"Lo…" belum selesai Maya berbicara datang seseorang lalu menyela pembicaraan mereka.
"Ekhem, nona-nona sekarang ini kita masih ada di kantor, jadi bila memiliki masalah pribadi silahkan selesaikan di luar kantor" ucapnya. Vino adalah orang yang menyela pembicaraan Maya dan Thika.
Maya yang sudah kesal dengan cepat pergi dari sana menuju ruangannya. Namun, di dalam hatinya ia senang karena sebentar lagi Thika akan mendapat balasannya. Sementara Thika sebelum meninggalkan lobi, ia terlebih dahulu mengucapkan terimakasih kepada Vino.
*
*
Thika pun berjalan menuju ruangan bosnya dengan Roy berjalan di depannya. Thika dan Roy pun memasuki ruangan tersebut.
"Bos, sekretaris Thika sudah datang" ucap Roy kepada Abi.
Abi yang sedari tadi menghadap kebelakang dengan cepat membalikkan dirinya. Bisa dilihat oleh Thika raut wajah sang bos terlihat kesal. Seketika perasaannya menjadi tak karuan, seperti ada hal buruk yang akan terjadi.
__ADS_1
"Saya mau bertanya, apakah kamu tahu dimana letak kesalahan kamu?" Tanya Abi kepada Thika. Dengan matanya yang terus menatap Thika.
"Maaf pak, saya merasa tidak melakukan kesalahan" jawab Thika tegas, karena merasa ia tidak melakukan kesalahan apapun.
"Benarkah? Lalu apa ini?" Tanya Abi sambil menyodorkan dokumen tersebut kepada Thika.
Thika yang melihat dokumen tersebut seketika merasa aneh. "Ini bukan saya yang membuatnya pak" jawabnya tegas.
"Lalu siapa? Gara-gara kelalaian kamu, hampir saja proyek ini batal tahu tidak?! Ini adalah proyek bernilai triliunan, dan kalau sampai ada kesalahan maka akibatnya akan fatal!" Ketus Abi tidak terima.
"Tapi pak, memang benar bukan saya yang membuat laporan ini. Bapak bisa mengeceknya kembali" jawab Thika yakin pada dirinya.
"Jadi kamu menyalahkan saya yang tidak teliti hmm?!" Tanya Abi dengan alis yang sudah mengkerut.
Thika yang merasa dirinya disudutkan, merasa tak terima. Ia pun membalas perkataan bosnya dengan tegas. "Tapi pak, memang bukan saya yang membuat laporan itu!".
"Kau…" Abi menjeda kalimatnya. Ia pun memenangkan dirinya agar amarahnya tidak memuncak. Berdebat dengan Thika pasti tidak akan ada habisnya. Abi pun menghela nafasnya kasar. "Sudah, kau pulanglah! Besok bersiaplah menerima hukumanmu!" Ketusnya.
Mendengar itu, dengan perasaan kesal Thika pun pergi meninggalkan ruangan bosnya dan kembali menuju ruangannya untuk mengambil tas dan beberapa barangnya lalu segera pulang.
Di ruangannya, Abi terlihat mengendalikan emosinya. Lalu tiba-tiba ia bangkit dan memanggil Roy. "Roy! Siapkan mobil, aku mau pergi ke tempat biasa, panggil juga Roni!" Titah Abi sambil mengambil jasnya.
"Baik bos!" Jawab Roy lalu segera bergegas ke bawah menyiapkan mobil.
'Cih, ni anak PMS ya? Cepet banget moodnya berubah. Udah kayak cewek aja' batin Roy yang kesal melihat sikap bosnya.
__ADS_1
Bersambung…..