Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Untuk Cinta


__ADS_3

Seminggu setelah Abi mengungkapkan perasaannya kepada Thika. Bisa dia lihat perubahan yang terjadi dalam diri suami sekaligus bosnya itu.


Setiap perlakuan kecil yang Abi berikan kepadanya jelas membuatnya semakin memantapkan hatinya. Seperti setiap pagi jika Thika terlambat bangun maka Abi yang akan membangunkannya. Saat makan di meja makan maka Abi akan menarik kan kursi dan mempersilahkan Thika duduk terlebih dahulu. Bagi Thika setiap perlakuan kecil itu membuatnya menjadi yakin bahwa Abi memang serius mencintainya.


Sebelumnya Thika sempat ragu karena berpikir Abi memiliki niat buruk. Tapi sekarang dia sudah mengenyahkan semua pikiran buruk tersebut.


Seperti saat ini, Thika dan Abi sudah akan berangkat ke kantor. Dengan sigap Abi membukakan pintu mobil di samping kursi pengemudi, walaupun dia sama sekali tidak menyuruhnya. Berulang kali Thika mengatakan kepada Abi bahwa dia agak risih dilayani.


Itu karena dia sudah terbiasa hidup dan melakukan apapun secara mandiri. Ditinggal oleh ibunya dari umur belia membuatnya menjadi dewasa lebih cepat.


Abi pun pergi melajukan mobilnya menuju perusahaan. Dengan kecepatan normal mobil mewah tersebut melesat membelah jalanan ibu kota yang terlihat akan macet karena jam masuk kerja.


Saat ini mereka sudah berada di perusahaan. Berjalan menuju lift khusus sambil bergandengan tangan. Karena semua orang di perusahaan sudah mengetahui pernikahan mereka.


Disaat makan siang Abi akan menyuruh Thika makan bersama di dalam ruangannya. Namun, seseorang datang ingin masuk memberikan suatu dokumen penting.


"Maaf pak, saya mengganggu makan siang anda tapi ini sangat penting. Karena membutuhkan tanda tangan bapak." Ucap Vino, melirik sekilas Thika yang duduk di sofa.


Abi bangkit lalu mengambil bolpoin nya. Membubuhkan tanda tangan di atas kertas yang diserahkan oleh Vino. "Sudah." Ucap Abi singkat lalu menyerahkan dokumen itu kembali. Vino pun kembali melirik Thika sekilas.


Thika yang menyadari lirikan Vino padanya, bangkit dari duduknya dan mengajak Vino berbicara di luar. Takut Abi akan kesal nantinya. "Vino, maaf. Aku selalu menganggap mu sebagai temanku. Dan aku harap seterusnya akan tetap begitu." Ucap Thika setelah keluar dari ruangan.


Vino hanya menyunggingkan senyum kecut. "Tidak apa, kita akan selalu menjadi teman. Hubungi aku jika kamu memerlukan bantuanku." Ucapnya. Lalu pergi meninggalkan Thika.


*


*


Waktu pun sudah menunjukkan pukul lima sore yang artinya sudah jam pulang kantor. Abi dan Thika pun berjalan menuju parkiran. Karena mereka akan merayakan hari istimewa mereka hari ini. Ya hari ini tepat sebulan mereka sudah menikah.

__ADS_1


Abi sudah mempersiapkan makan malam spesial di salah satu gedung hotel miliknya. Abi pun menyiapkan ruangan yang sudah dihias oleh lilin dan kelopak bunga mawar yang menghiasi seluruh ruangan.


Mereka pun berjalan menuju ruangan itu disaat sudah tiba. Dibukanya pintu ruangan tersebut. Thika pun sedikit terkejut melihat sebuah meja dengan sepasang kursi yang sudah dihias secantik mungkin, tak lupa sudah ada makanan yang tersaji di atas meja tersebut.


Abi menuntun Thika, menuju meja itu mendudukkannya disana. Thika pun melihat pemandangan gemerlapnya ibukota dari tempatnya duduk. Lalu menyantap makanannya.


"Apakah makanannya enak?" Tanya Abi.


Thika tersenyum. "Sangat enak. Terimakasih untuk hadiahnya. Dekorasinya juga sangat indah" Ucap Thika.


Abi sedikit menyeringai. "Ya,sangat indah. Karena itu aku ingin imbalannya." Ucap Abi.


"Aku rasa akan memberikanmu hadiah nanti." Ucap Thika mengerlingkan satu matanya. Abi pun tersipu. (Hehehe indahnya cintašŸ˜…~I)


*


Mereka sudah menyelesaikan makan malamnya. "Jadi bagaimana dengan hadiahku hmmm?" Tanya Abi yang menagih hadiahnya.


Tatapan mereka beradu. Abi menggigit pelan bibir Thika guna memperdalam ciiuman mereka. Abi memberikan sedikit lummtann lembut di bibir manis istrinya itu. Disaat dia merasakan Thika yang sudah kehabisan nafas, Abi pun menyudahi ciiumann mereka.


Mereka menghirup udara dengan rakus. "Kamu tahu? Kamu beruntung karena sudah mengambil ciuman pertama dan keduaku." Ucap Thika mengelus rahang kokoh suaminya.


"Kapan aku melakukannya? Aku rasa ini yang pertama." Sahut Abi yang tidak mengingatnya.


"Disaat kamu demam dan tidak mau minum obat. Aku terpaksa melakukan itu." Ujar Thika, mengingat kejadian dimana dia memberikan ciiuman pertamanya kepada laki-laki di depannya ini.


Abi menyeringai. "Ciiuman itu tidak dianggap. Karena aku tidak ingat. Jadi aku akan memberimu ciiuman tulus ku hmm." Ucap Abi. Lalu mendekatkan wajahnya lalu menciiium bibir Thika dengan sedikit menuntut. Luummtan demi luummtan Abi berikan kepada istri kecilnya itu. Thika hanya bisa bisa menikmati sembari menutup matanya.


Ciiuman itu pun kini sudah turun ke dagu. Tangan kiri Abi sudah menahan kepala Thika dan tangan kanannya sudah meraba paha mulus Thika yang memakai rok sebatas lutut.

__ADS_1


Tangan Thika sudah mengalung di leher Abi. Setelah puas mencium dagunya. Ciiumannya pun turun ke leher jenjang thika, mengecuup lembut memberi Thika tanda kepemilikan bahwa Thika hanya miliknya seorang. Thika menikmatinya sambil menahan suara memalukannya.


"Keluarkan suaramu, aku ingin mendengarnya." Ucap Abi dengan suara berat sambil merapikan anak rambut Thika.


"Bisa jangan disini? Aku malu." Ucap Thika.


Abi yang mendengarnya mengangkat Thika ala bridal style. Membawanya ke sebuah ruangan rahasia yang berada disana. Thika pun terkejut karena tidak mengetahui jika ada kamar disana sebelumnya.


Setelah sampai di dalam kamar, Abi menurunkan Thika. Lalu melanjutkan ciiuma* panas yang tadi mereka lakukan. Thika mundur sedikit demi sedikit sampai dirinya terjatuh di ranjang.


Abi menatap Thika dengan tatapan yang penuh gair*h. "Bolehkah?" Tanya Abi meminta izin. Karena dia tidak akan melakukannya jika tidak diizinkan.


Thika mengangguk pelan. Abi merebahkan tubuh Thika di atas ranjang. Lalu mulai menciium bibir mungilnya lagi, seakan sudah menjadi candu. Sementara tangannya sudah berkeliaran meraba aset milik Thika.


Sampai akhirnya mereka sudah polos tidak memakai apapun. Abi mengecup semua area sensitif milik Thika. Fokus Abi teralihkan ketika melihat dua aset yang sudah tidak berpenyangga. Dengan cepat Abi menghiisap salah satunya dengan pelan.


"Aku.... tidak sanggup hemmm." Ucapnya Thika tertahan.


Penyatuan pun tak terelakkan, suara keduanya memenuhi seluruh kamar hotel di keheningan malam.


Hingga mereka melakukannya sampai pagi menjelang.


*


*


*


Meninggalkan Thika dan Abi.

__ADS_1


Sementara seorang pria mendatangi anak buah Abi yang menyamar di markas Black Snake. Memberinya sebuah tas kecil berwarna hitam.


Bersambung…..


__ADS_2