Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Hanya Bisa Membantu Sebatas Ini.


__ADS_3

Abi pun tampak memikirkan perkataan Roni, kata demi kata.


Melihat Abi yang bingung dengan perasaannya, membuat Roni menghela nafasnya. 


"Coba lo ingat-ingat lagi, apakah Vira mirip dengan gadis kecil yang lo temui di masa lalu? Apakah kepribadian nya masih sama? Meskipun kepribadian melekat dengan faktor internal seseorang, tetapi faktor eksternal juga punya pengaruh kuat. Termasuk lingkungan dan pengalaman unik membentuk kepribadian seseorang. Jadi, mungkin saja kepribadian seseorang bisa berubah." Ujar Abi.


"Ah kepribadian mungkin saja bisa berubah, tapi apakah kebiasaannya sama dengan gadis kecil yang lo temui dulu? Karena pada dasarnya kebiasaan seseorang akan sulit untuk dirubah. Bukankah lo dulu pernah bilang ke gue bahwa Vira tidak seperti gadis yang lo kenal?" Lanjut Roni lagi.


Abi tampak bingung dengan pertanyaan Roni. Pertanyaannya seperti menyudutkan Vira. 


Tapi apa yang dikatakan Roni memang benar. Vira tidak seperti gadis yang ditemui di masa lalu. Gadis kecil itu mempunyai sifat yang baik, ceria dan mudah bergaul. Sementara Vira sendiri cenderung introvert, mudah tersinggung dan misterius.


Di masa lalu, Abi sangat menyukai gadis kecil itu karena gadis itulah yang menghiburnya tepat di hari pemakaman orang tuanya. Sejak hari itu, Abi memiliki rasa suka terhadap gadis kecil itu. Walau dia sudah tidak mengingat pasti namanya. 


Tapi disaat dia dewasa ada seorang gadis yang mendatanginya. Ya itu adalah Vira. Dia mengatakan bahwa dia adalah gadis kecil di masa lalu yang pernah ditemui Abi. Justru Abi sedikit merasa aneh pasalnya saat bertemu dia tidak merasakan getaran rasa suka yang sama pada gadis kecil yang ditemui di masa lalu.


Dari ingatan Abi di masa lalu, jelas gadis kecil di masa lalunya pernah berkata bahwa dia sangat menyukai berbagai olahan yang didalamnya terdapat mie. Sedangkan Vira sendiri sangat menghindari makanan itu. 


Entahlah apakah Vira masih gadis yang  sama dia temui di masa lalu atau bukan? Pikir Abi.


"Bukankah lo nyaman ketika bersama Thika? Bahkan waktu akan terasa cepat ketika lo bersamanya bukan?" Tanya Roni kepada Abi yang sedari tadi hanya berfikir.


Benar yang dikatakan Roni, dia merasa sangat nyaman berada didekat Thika. Bahkan sangat ingin terus bersamanya.

__ADS_1


Melihat Abi yang diam saja, membuat Roni menyimpulkan bahwa Abi sedang jatuh cinta kepada Thika. "Akuilah saat ini lo sudah jatuh cinta kepada thika. Perasaan lo bersama Vira hanya sebatas bahwa dia adalah gadis yang datang kembali dari masa lalumu. Lupakan Vira anggap dia adalah masa lalu dan lihatlah Thika, anggap dia sebagai masa depanmu." Ucap Roni.


"Jika lo tidak cepat-cepat mengungkapkan perasaanmu kepada Thika. Maka dia akan direbut oleh orang lain. Bukankah Thika adalah gadis yang cantik? Pasti diluaran sana banyak laki-laki yang mendekatinya. Jika sudah direbut lo akan menyesal." Lanjut Roni lagi. Memanas-manasi Abi.


Dengan cepat Abi bangun dari duduknya. "Cukup!" Sentak Abi lalu keluar dari ruangan Roni.


Roni yang melihat itu hanya diam. Menatap kepergian Abi. "Aku hanya bisa membantumu sebatas ini." Gumam Roni.


Abi pun menjalankan mobilnya keluar dari rumah sakit. Pikirannya berkecamuk, setiap kata dari Roni jelas membuatnya bimbang. Dengan cepat dia pun memilih pulang ke mansion karena hari sudah sore.


*


*


*


Tak lama suara mesin mobil terdengar di halaman rumah. Siapa lagi yang datang kalau bukan Abi. Dengan cepat Thika membuka pintu depan. Dilihatnya Abi yang terlihat sedikit kelelahan.


"Kamu baru pulang? Mau mandi dulu atau makan?" Tanya Thika lembut.


Abi berjalan masuk. "Aku mau makan dulu, apakah kamu sudah makan malam?" Balik Abi bertanya kepada Thika. Lalu mengaitkan jari jemarinya dengan Thika.


Thika jelas salah tingkah. "A-aku belum makan, aku menunggumu." Ucap Thika malu-malu.

__ADS_1


Abi sedikit mengukir senyum. Dengan cepat menuju meja makan untuk memulai makan malamnya. Sejenak pikirannya yang kalut sirna setelah melihat Thika yang menyambut kedatangannya.


Saat sampai di meja makan, Abi menarikkan kursi untuk Thika. Dia ingin bersikap sedikit lebih lembut dengan menciptakan suasana agar tidak canggung. Thika yang mendapat perlakuan seperti itu hanya mengikuti suasana lalu duduk di kursi yang sudah ditarik oleh Abi.


"Terimakasih." Ucap Thika dengan mengukir senyum manisnya.


Abi hanya mengangguk lalu menuju kursinya untuk memulai makan malam. Ah jika dilihat oleh orang lain mungkin ini merupakan sebuah makan malam romantis.


*


Saat ini Abi sudah selesai mandi, mandi dengan hati-hati karena lukanya yang masih belum boleh terkena air. Dilihatnya Thika yang sudah tidur di sofa panjang.


Melihat itu, Abi dengan cekatan mengangkat tubuh mungil Thika. Membawanya ke atas ranjang, lalu membaringkannya. Setelah itu, dia ikut membaringkan tubuhnya di samping Thika.


Menatap lekat-lekat wajah cantik gadis yang menjadi istrinya. Lalu merengkuhnya menawannya ke pelukannya. 


Abi sedikit berfikir, jika dia memang benar-benar jatuh cinta kepada Thika apa yang harus dia lakukan? Apakah dia akan merubah tujuannya yang menikahi Thika karena untuk balas dendam? 


"Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Abi pelan. Otak cerdasnya seakan buntu, otak yang biasanya sangat pintar dalam menjalankan bisnis dan strategi justru buntu jika berhadapan dengan perasaan.


Karena pada dasarnya cinta didefinisikan sebagai perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam dan terjadi antara manusia dengan manusia. Bukan hanya itu, cinta juga dapat terjadi antara manusia dengan lingkungan, manusia dengan Sang Pencipta dan manusia dengan dirinya sendiri. Perasaan cinta sendiri tumbuh dari hati bukan logika.


Ah entahlah seorang CEO Dewantara Enterprise yang terkenal dan ketua mafia Golden Eagle menjadi bodoh dihadapan cinta.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2