
Matahari pagi sudah bangkit dari peraduannya menyinari dunia dengan cahayanya. Di Sebuah kamar, cahaya matahari sayup-sayup menembus jendela kamar.
Itu membuat seorang seorang gadis ah bukan seorang gadis lagi karena dia sudah memberikan mahkotanya kepada suaminya, menggeliat karena matanya yang terkena sinar matahari.
Thika pun bangun dengan perasaan yang tidak karuan. Semalam dia sama sekali tidak bisa tidur nyenyak karena suaminya sama sekali tidak berada disampingnya. Bagaimana tidak, dia sudah terbiasa bila suaminya tidur disampingnya tapi sekarang hanya ada dirinya yang tidur di ranjang yang besar itu.
Tatapan Thika berubah menjadi sendu. "Kangen." Lirih Thika.
Baru ditinggal sehari sudah kangen apalagi nanti jika suaminya tugas ke luar kota selama seminggu bisa kalang kabut dia.
Thika bangkit dari ranjang lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
*
Saat ini Thika sudah berada di meja makan, menyantap makanannya. Dia merasakan rindu, dia yang biasanya menyiapkan makanan untuk suaminya sekarang menyiapkan hanya untuk dirinya sendiri.
Ponsel Thika berdering. Dia pun mengambil ponselnya, dilihatnya dari nomor tidak dikenal. Lalu dia hanya mengabaikan panggilan tersebut.
Satu kali, dua kali sampai keempat kalinya Thika mengabaikan panggilan dari nomor tidak dikenal itu. Sampai pada panggilan kelima dia pun mengangkatnya.
"Halo?" Tanya Thika.
📞 "Halo, Thi ini kakak. Bisakah kita bertemu?" Tanya Mahen yang menelepon Thika.
"Kak Mahen? Mau bertemu dimana?" Tanya Thika, yang senang karena dihubungi kakaknya.
📞 "Di taman Lokaraya, jam 10 pagi ini." Ujar Mahen di seberang.
"Baik kak!. Aku…." Ucapan Thika terjeda karena Mahen yang sudah memutuskan sambungan teleponnya.
Thika pun langsung bersiap setelah sarapan karena akan pergi menemui kakaknya.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 9.30, dengan cepat Thika bergegas menuju bagasi untuk mengendarai mobilnya. Namun, belum juga dia masuk sudah dicegah oleh bodyguard Abi yang berjaga di mansion.
"Nyonya, anda tidak diperbolehkan oleh tuan untuk keluar saat ini. Tapi, bila ingin keluar anda harus mengajak kami." Ucap salah satu dari dua bodyguard.
"Tapi aku hanya menemui kakakku di taman." Ucap Thika dengan nada memohon.
"Ini sudah menjadi keputusan tuan. Demi keselamatan anda juga." Ucapnya lagi.
Demi keselamatan dirinya? Apakah masih ada musuh? Seorang CEO musuhnya sudah seperti mafia saja. Pikir Thika. Yang tidak curiga terhadap identitas suaminya.
Dengan berat hati Thika datang menemui kakaknya bersama dua bodyguard itu. Mengendarai mobil yang sudah disiapkan khusus oleh Abi untuknya.
*
Saat ini Thika sudah berada di taman yang diberitahu oleh kakaknya. Tampak taman lumayan sepi hanya ada beberapa orang yang sedang berjalan-jalan. Thika pun sudah menyuruh dua bodyguard itu agar mengawasinya dari jauh.
Thika pun duduk di sebuah bangku dibawah pohon rindang. Tak lama tangan kokoh menepuk bahunya pelan, membuatnya sedikit kaget.
"Kakak! Suka bikin aku kaget aja!" Dengus Thika kesal.
"Kakak mau bicara apa?" Tanya Thika.
Mahen menatap mata adiknya. "Ini mengenai suamimu. Identitasnya yang sebenarnya." Ucap Mahen.
Thika mengerutkan keningnya. "Kamu tahu selain sebagai CEO Dewantara Enterprise dia juga merupakan seorang ketua mafia dari klan Golden Eagle." Lanjut Mahen. Yang membuat Thika terkejut.
"Bagaimana mungkin…." Lirih Thika. Pantas saja mengapa mereka bisa dikejar orang tidak dikenal beberapa waktu lalu. Ternyata karena identitas Abi yang merupakan seorang mafia.
Mahen menghela nafasnya berat. "Kakak tau sekarang kamu pasti terkejut. Tapi demi keamananmu, kamu harus ikut kakak pulang. Selain, itu Ayah juga sangat mengkhawatirkan kamu. Jika kamu masih bersama dengannya kamu hanya akan terus dalam bahaya. Dia adalah seorang CEO sekaligus mafia, kita tidak tahu berapa orang yang sudah dia singgung lalu menjadi musuhnya." Ucap Mahen.
"Kakak mohon, pulanglah bersama kakak." Pinta Mahen.
__ADS_1
Sementara Thika hanya diam. Mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh kakaknya, menelaah setiap kata demi kata. Bukankah tidak adil jika dia mengambil keputusan tanpa mendengarkan kedua belah pihak dan hanya mendengar penjelasan kakaknya saja?
"Kakak aku minta maaf." Ucap Thika, yang tiba-tiba bersuara.
Mahen menoleh ke arah Thika. "Kak, aku tahu kamu dan ayah pasti sangat mengkhawatirkan ku. Karena aku tahu seberapa besar kalian menyayangiku. Tapi, aku saat ini sudah menikah, mendengar dan menuruti perkataan suamiku juga sangat penting." Ucap Thika.
"Sebagai seorang istri sudah sepantasnya aku mendengar penjelasan yang diberikan oleh suamiku. Aku ingin dia sendiri yang memberitahukannya padaku. Karena penuturan yang orang lain terkadang ada yang benar dan salah. Aku tidak ingin terjadi tumpang tindih antara percaya kakak atau suamiku." Lanjut Thika. Menjelaskan kepada kakaknya.
Thika memegang tangan kakaknya. "Aku harap kakak bisa mengerti." Ucap Thika tersenyum.
Mahen mendesah pelan. "Baiklah. Kamu sangat mirip dengan ibu." Ucap Mahen tersenyum lalu mengusap pucuk kepala adiknya.
"Tapi ingatlah ini, keluarga Sanjaya masih terbuka untukmu jika kamu ingin pulang untuk sekedar berkeluh-kesah hmmm." Lanjut Mahen lagi.
Thika tersenyum. "Baik kak, terimakasih." Ucap Thika. Lalu memeluk kakaknya. Mahen pun membalasnya sambil mengelus pucuk kepala Thika.
Tak lama salah satu bodyguard yang mengawal Thika datang menghampirinya. "Maaf nyonya, sudah waktunya Anda pulang. Tuan tidak mengizinkan anda pergi terlalu lama." Ucapnya.
Thika berbalik. "Ah baik!." Lalu menatap kakaknya. "Kak, aku akan pulang sekarang." Ucapnya.
Mahen hanya mengangguk. Lalu melihat adiknya yang pergi, semakin menjauh. "Aku harap kamu baik-baik saja." Lirih Mahen.
*
*
*
Sementara itu, di rumah sakit.
Seseorang masuk ke dalam ruangan yang sebelumnya sudah ada pasien yang mengalami serangan jantung. Dilihatnya pasien masih membuka matanya menatap langit-langit kamar.
__ADS_1
"Permisi tuan, anda pasti sudah tahu mengenai saya. Ada hal yang perlu saya bicarakan dengan anda, ini mengenai Vira Anastasya." Ucapnya.
Bersambung……