Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Tidak Ada Kata Maaf Dan Terimakasih


__ADS_3

"Uncle Roy kenapa ada dua? Di Depan satu dan dibelakang satu?" Tanya Agastya yang kebingungan.


Sementara semua orang terlihat menahan tawanya, kecuali Roy dan Roni yang merasa dibicarakan. Abi yang tak tahan pun akhirnya tertawa terbahak-bahak.


Roni menyuruh Roy untuk mendekat. Lalu menjelaskan kepada bocah di depannya. "Begini boy, uncle dan uncle roy itu sama seperti kamu. Kami itu anak kembar." Jelas Roni.


Agastya pun memegang dagunya. "Jadi, bagaimana cara membedakan uncle?" Tanya Agastya lagi.


Roy menoleh ke arah Roni. "Begini, uncle memiliki bekas luka di tangan kanan uncle sementara uncle Roy tidak." Sahut Roni.


Sementara Agastya ber-oh ria, dengan Aska yang menepuk dahinya karena adiknya yang masih polos dan sedikit kekanak-kanakan.


"Aska, Agastya kalian pergilah ke kamar kalian. Daddy sudah menyiapkan kamar khusus untuk kalian berdua. Ajak Reno juga hmm." Titah Abi.


Mereka berdua pun mengangguk tanda mengerti.


"Pak Man, tolong antar mereka ke kamarnya, awasi mereka." Ucap Abi dan dibalas anggukan oleh Pak Man.


Roni, Roy, Sarah, Thika dan Abi saat ini duduk di sofa ruang tamu. Thika duduk ditengah antara Roni dan Sarah, sementara Roy dan Abi duduk di sebuah sofa tunggal.


"Bagaimana kabarmu? Apa baik-baik saja? Pasti berat bukan membesarkan dua anak di luar negeri sendirian?" Roni mencecar Thika dengan banyak pertanyaan.


Thika sendiri sampai bingung ingin menjawabnya. "Anu…. Aku baik-baik saja kak. Untuk mengurus si kembar aku dibantu oleh Nisha kok." Jawab Thika.


Roni menghela nafasnya, seakan beban berat yang dipikulnya selama ini sudah berlalu. "Syukurlah. Katakan saja padaku jika Abi membuatmu menangis lagi. Akan aku pukul dia dengan keras nanti." Ucap Roni melirik ke arah Abi yang sedang meminum air putih.


"Roni benar, kamu bisa datang ke rumahku jika ada masalah." Sarah menimpali ucapan Roni. Sementara Roni tampak setuju dengan sang kakak ipar.

__ADS_1


Thika menatap Roni. "Memang kakak pernah memukul Abi?" Tanya Thika yang tidak percaya.


"Waktu kepergianmu aku memukulnya walau tidak keras, ingin sekali aku memukulnya sampai dia sadar. Aku minta maaf kalau saja aku tidak mendekatkanmu dengannya mungkin kamu tidak akan menderita seperti sekarang." Ujar Roni melirik Abi sekilas.


Abi yang merasa dibicarakan, angkat bicara. "Sudahlah Ron, lagipula kami sudah ditakdirkan untuk bersama tanpa bantuanmu." Dengus Abi kesal.


"Ya, ya, kamu bahkan tidak bisa mengenali gadis yang selama ini kamu cari." Sindir Roni.


Sebisa mungkin Abi menahan amarahnya, karena bila semakin dijawab maka Roni akan semakin menjadi-jadi.


Dengan cepat Thika melerai adu mulut antara Abi dan Roni. "Sudah, sudah, ayo kita makan. Sudah beberapa waktu aku belum makan." Ucapnya.


*


*


"Apakah mereka sudah tidur?" Tanya Abi yang sedari tadi berada di ruang kerjanya.


Thika mengangguk, lalu turun menuju dapur untuk mengambil air. Dengan Abi yang senantiasa mengikutinya dari belakang.


"Kenapa kamu mengikutiku?" Tanya Thika yang risih ketika dibuntuti oleh Abi.


Abi hanya nyengir kuda. "Aku merasa ini seperti mimpi, kamu tahu selama tujuh tahun ini rumah ini seperti tidak berpenghuni karena ketidakhadiranmu." Ucapnya menatap Thika yang sedang minum air.


Thika mendekati Abi, tidak dipungkiri dia juga merasa bersalah karena meninggalkan Abi. "Tapi sekarang bukankah aku sudah disini? Ada Aska dan Agastya juga." Ucapnya


Abu mendekat lalu menggendong Thika ala bridal style, membawanya ke kamar. "Akh!" Thika menjerit karena digendong tiba-tiba.

__ADS_1


"Ya, aku senang kalian berada di sisiku sekarang. Karena kalian sudah menyempurnakan kehidupanku." Ucap Abi.


Mereka pun tiba dikamar, namun Thika mengernyit karena ini bukanlah kamar mereka yang dulu. "Kenapa kemari? Ini bukan kamarmu kan?" Tanya Thika.


Abi hanya tersenyum lalu membuka pintu kamar didepannya. Seketika Thika dibuat berkaca-kaca karena melihat interior kamar tersebut.


"Ini…." Thika tidak bisa berkata-kata dikala melihat bingkai foto dirinya dalam berbagai ekspresi yang terpajang menghiasi dinding kamar tersebut


"Ini kamar kita sayang. Kamu tahu, disaat aku merindukanmu aku akan datang dan tidur disini." Ucap Abi.


Thika menatapnya penuh haru, dengan cepat dia berbalik memeluk tubuh kekar Abi. "Terimakasih dan maaf." Ucapnya dengan air matanya yang sudah tidak bisa dibendung lagi.


"Tidak ada kata maaf dan terimakasih dalam hubungan kita hmmm." Ucapnya memeluk Thika.


Tak lama mereka memandangi langit di teras yang berada di kamarnya dengan Abi yang memeluknya dari belakang. "Jika dipikir-pikir aku sama sekali belum melamarmu bahkan menikahimu dengan benar." Ucap Abi tepat di telinga Thika.


Tangan kanan Thika meraih rahang kokoh Abi lalu membelai nya. "Seperti ini sudah cukup untukku." Sahutnya.


"Tidak, aku ingin menikahimu dengan sungguh-sungguh kali ini. Aku sudah menyiapkan pernikahan kita di Bali dalam dua Minggu." Sanggah Abi.


Thika terkejut karena baru diberitahu. "Kenapa kamu tidak memberitahuku?" Protes Thika.


Abi membalik tubuh Thika. "Jika aku memberitahumu, bukankah kamu akan menolaknya? Hari sudah malam ayo kita beristirahat hmm." Ucap Abi.


Thika tidak bisa berkutik lagi setelah Abi memutuskan sesuatu. Dia pun menuju ranjang untuk tidur, efek perjalanan jelas membuat tubuhnya kelelahan.


Bersambung……

__ADS_1


__ADS_2