Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Pemilik ASTA Corp


__ADS_3

Setelah mengantar Thika dan kedua anaknya pulang. Abi pamit karena ada masalah pekerjaan yang memerlukan kehadirannya. Namun, besok dia berjanji akan datang lagi.


Sementara Thika di dalam kamarnya bertanya-tanya akan keputusan yang akan dia ambil kedepannya. Apakah akan kembali bersama Abi demi anak-anaknya atau menyetujui permintaan Ranveer.


Ya, Thika melupakan Ranveer. Dia melupakan pernyataan Ranveer karena kehadiran Abi yang mendadak.


"Aku akan berbicara dengan Ranveer besok." Gumamnya. Lalu naik keranjang untuk tidur.


*


*


Keesokan harinya Thika harus pergi pagi-pagi karena dia harus melakukan perjalanan bisnis dua hari satu malam bersama timnya dan Ranveer. Namun, sayang Nisha juga ada sedikit kepentingan sehingga dia tidak bisa meninggalkan kedua anaknya sendirian. Dan lagi bibi pengasuh tidak bisa datang karena sedang sakit.


Dengan terpaksa Thika menelepon Abi meminta bantuannya.


"Halo, bisa aku meminta bantuanmu?" Tanya Thika to the point.


📞 "Akhirnya kamu mau bicara padaku. Katakan jika kamu butuh bantuan." Sahutnya.


Thika menghela nafasnya. "Aku akan ada perjalanan bisnis dua hari satu malam, Nisha juga ada kepentingan. Bisakah kamu menjaga anak-anak." Ujarnya.


📞 "Baiklah, aku akan pergi kesana sekarang." Ucap Abi lalu mematikan sambungan teleponnya.


Abi pun bergegas bergerak menuju kediaman Thika. Semangatnya menggebu-gebu, mungkin dengan ini Thika akan sedikit menerimanya lagi.


*


Sementara Thika sudah selesai menyiapkan sarapan pagi. "Aska, Agastya nanti Daddy akan datang menjaga kalian. Kalian baik-baik jaga diri ya." Ucapnya


"Yes mom!" Ucap keduanya.

__ADS_1


Thika memakai flat shoes nya, lalu mencium kedua kening putranya. "Mommy berangkat ya." Pamitnya. Si kembar pun melambaikan tangannya, mengantar kepergian sang mommy.


*


*


Tak lama setelah kepergian Thika, Abi datang mengendarai mobilnya. Lalu melenggang menuju pintu masuk. Dia pun memencet tombol bel.


Setelah beberapa kali memencet tombol bel, pintu pun dibuka memperlihatkan Agastya dan Aska. "Good morning dad." Sapa keduanya.


"Good morning too boys. Dimana mommy kalian?" Tanya Abi.


"Mommy sudah pergi, mommy menyuruh kami agar Daddy sarapan dulu." Ujar Aska.


Raut kecewa sudah terlihat di wajah tampan Abi. Karena dia tidak bisa bertemu dengan kekasih hatinya.


Abi dan Agastya pun menuju meja makan sementara Aska menuju ke kamarnya.


*


Agastya mengangkat bahunya. "Entahlah, aku rasa kakak belum makan. Daddy bawakan saja makanan untuknya aku akan membereskan ini dulu." Ujar Agastya.


Abi pun menaruh beberapa sandwich, segelas susu dan beberapa potong buah. Lalu membawanya ke kamar Aska.


Saat sampai di depan kamar Abi mendengar Aska yang sedang memarahi seseorang. Dia pun melangkahkan kakinya dengan pelan, diam-diam masuk ke dalam.


"Begini caramu bekerja hah?! Apakah aku menggajimu untuk melakukan ini?!" Bentak Aska. Sementara Abi menguping pembicaraannya.


"Aku tidak mau tahu! Perbaiki laporan ini, aku berikan waktu selama satu Minggu!" Titahnya sambil menatap laptopnya.


"Justin bagaimana mengenai kerjasama dengan Dewantara Enterprise?" Tanya Aska. Itu membuat Abi terkejut karena Aska menyinggung nama perusahaannya.

__ADS_1


"Itu tuan, kami sudah mengirimkan laporannya ke email tuan. Kami akan menghubungi pihak Dewantara Enterprise dalam waktu dekat setelah anda memeriksanya." Ucap Justin di room meeting online yang mereka lakukan.


"Bagus, akan Aku infokan lagi nanti." Ucap Aska lalu mengakhiri room meeting online.


Aska membuka email-nya lalu mencari laporan kerjasama Dewantara Enterprise. Namun, tak disangka sang Daddy sedari tadi mengawasinya dari belakang.


"Aska apa yang kamu lakukan?" Tanya Abi.


Aska yang terkejut refleks menutup laptopnya. "Ti-tidak ada apa-apa dad." Ucapnya gelagapan.


Abi mendekat lalu duduk di depan putranya. "Katakan pada Daddy, apa yang kamu lakukan tadi." Ucapnya dengan tatapan tajam bak burung elang.


"Itu…. Sebenarnya…." Aska masih berbicara terbata-bata.


"Katakan, Daddy tidak akan memberitahu mommy mu." Ucapnya sambil menggenggam tangan mungil Aska.


Aska menarik nafasnya. "Sebenarnya Aska tadi sedang meeting dengan bawahan. Karena mereka bekerja tidak baik." Ucapnya.


Abi mengernyit. "Lalu kenapa kamu membicarakan perusahaan Daddy?" Tanya Abi lagi.


"Sebenarnya Aska adalah pemilik ASTA Corp. Beberapa hari yang lalu bukankah Daddy mengirim permintaan kerjasama?" Ujarnya.


Abi sendiri jelas terkejut bagaimana seorang anak kecil seperti Aska bisa memimpin perusahaan sebesar ASTA Corp. Bukankah ini seperti cerita di novel-novel? Dimana seorang anak kecil memiliki kepintaran diatas rata-rata?


"Bisa kamu jelaskan bagaimana kamu bisa memimpin perusahaan itu nak?" Tanya Abi.


"Satu tahun lalu, Aska menang kompetisi pemrograman. Setelah itu Aska mencoba bermain saham dengan uang hasil kompetisi. Tak lama Aska membeli saham sebuah perusahaan yang hampir bangkrut, dalam beberapa waktu Aska berhasil membuatnya bangkit. Lalu Aska membeli perusahaan itu dan menjadi pemimpinnya."


"Aska juga mengangkat Justin menjadi kepala sekretaris dan penanggung jawab menggantikan Aska. Karena bagaimana mungkin Aska muncul mengaku sebagai pemilik perusahaan padahal Aska masih kecil." Ucapnya lagi.


Abi tercengang mendengarnya, putra sulungnya mewarisi pemahaman berbisnis yang dimilikinya.

__ADS_1


Sedikit penjelasan, saat Agastya dan Aska diejek oleh Dave (anak kecil yang dipukul Agastya). Malam harinya Aska menghubungi Justin untuk memecat ayah Dave yang bekerja di perusahaannya. Aska memang tidak akan membalas perbuatan temannya seperti Agastya dengan langsung emosi. Namun, dia mempunyai cara elegan yaitu mencari tahu kelemahan lawannya.


Bersambung…..


__ADS_2