Antara Cinta & Benci Sang Penguasa

Antara Cinta & Benci Sang Penguasa
Bertemu


__ADS_3

"Halo?" Ucap Thika dikala telepon sudah tersambung.


📞 "Halo." Ucap seseorang di seberang


"Eh Nis, ada apa?" Tanya Thika kepada sang penelepon yang ternyata adalah Nisha.


📞 "Em itu… siang ini lo ada waktu bebas gak?" Tanya Nisha.


"Siang ini gue bebas, emang ada perlu apa?" Jawab Thika.


📞 "Gue mau ngajak lo makan siang, ada yang mau bicarain juga sama lo." Ujar Nisha.


"Yaudah nanti gue dateng kok. kirim aja alamatnya." Ucap Thika.


📞 "Oke deh. Bye." Ucap Nisha menutup obrolan.


Thika pun mematikan ponselnya. Lalu Thika pun kembali ke meja makan meletakkan gawainya di atas meja makan.


"Dari siapa?" Tanya Abi kepada Thika yang sudah selesai mengangkat teleponnya.


Thika menoleh. "Dari Nisha, dia ngajak aku makan siang. Udah lama gak ketemu juga." Ucap Thika, lalu melanjutkan sarapannya.


Abi hanya ber oh ria saja. Lalu melanjutkan sarapannya.


*


*


*


Di sisi lain di kediaman Sanjaya.


"Bagaimana apakah kamu sudah menghubungi Thika?" Tanya Mahen kepada Nisha.


"Sudah kak, aku mengajaknya makan nanti siang." Jawab Nisha.


"Bagus! Berarti hanya kamu yang dapat berhubungan dengan Thika." Ucap Mahen. Nisha pun menunduk diam namun, dia mengulas senyum tipis.


Seketika Nisha teringat satu hal. "Kak aku mau tanya? Memang kenapa jika Thika menikah dengan Abimanyu? Bukankah dia orang yang baik?" Tanya Nisha.


Mahen membuang nafasnya berat. "Kamu tahu, tidak semua orang baik, di dalamnya juga baik. Diluar mungkin dia akan terlihat baik karena mencari simpati tapi kita tidak tahu di dalam hatinya. Karena kita tidak dapat melihat isi hati seseorang." Ujar Mahen.

__ADS_1


"Ada kejadian beberapa tahun yang lalu, melibatkan keluarga Dewantara dan keluarga Sanjaya. Karena salah paham Abimanyu menargetkan keluarga Sanjaya. Hal itu, menyebabkan Ayah mengirim Thika bersekolah di luar negeri agar dia tidak terbebani dengan hal di masa lalu. Tapi tetap saja…." Lanjutnya lagi.


Nisha mengernyitkan alisnya. "Tapi salah paham kenapa kak?" Tanya Nisha.


"Aku tidak yakin tapi, seseorang di masa lalu mengadu domba keluar Sanjaya dan keluarga Dewantara. Dan lagi identitas Abimanyu tidaklah sederhana, karena nyatanya dia Adalah bos mafia Golden Eagle." Ujar Mahen.


Nisha sedikit terkejut. Jika orang yang dinikahi Thika adalah seorang bukankah keselamatannya akan terancam? Dan juga bisa saja salah satu musuh Abimanyu juga akan menargetkan Thika. Ah lupakan soal itu, Abimanyu juga menargetkan Thika apakah dia baik-baik saja saat ini? Pikir Nisha dengan sejuta pertanyaan yang berputar di kepalanya.


"Tidak usah khawatir Thika akan baik-baik saja." Ucap Mahen sambil mengelus pelan puncak kepalanya. Mahen tahu bahwa Nisha sedang mencemaskan Thika.


Nisha terlihat salah tingkah pasalnya Mahen merupakan sosok laki-laki yang dingin dan kaku. Tidak biasanya dia akan berlaku seperti ini.


Setelah itu, Mahen dan Nisha membicarakan rencana yang akan dijalankan nanti siang.


*


*


*


Saat ini di mansion Abi, Thika sedang bersiap-siap untuk pergi makan siang bersama Nisha.


Thika pun keluar dari walk in closet. Dilihatnya Abi yang masih duduk di sofa sambil mengecek beberapa berkas. Thika pun menenteng tasnya.


"Abi aku akan pergi sekarang. Jika kamu lapar panggil saja Bi Sri." Pamit Thika kepada Abi.


Abi menoleh menatap Thika. Menatap lekat-lekat penampilan Thika yang sangat cantik di matanya. Dia sangat cantik hari ini. Batin Abi memuji Thika.


"Perlu aku antar?" Tanya Abi.


Thika menggeleng. "Tidak perlu, kamu masih sakit. Lagipula aku mau memakai mobil yang diberikan oleh ayah." Jawabnya.


Abi pun membiarkan Thika pergi.


*


Saat ini Thika sudah berada di restoran yang dipilih Nisha. Dan saat ini dia sedang mencari keberadaannya.


"Ka! Disini!" Teriak seseorang yang tak lain adalah Nisha.


Thika pun menuju ke asal suara. Lalu duduk di depan Nisha. "Ada apa Nis? Tumben lo ngajakin makan?" Tanya Thika.

__ADS_1


Nisha hanya diam. "I-itu ada seseorang yang ingin bicara denganmu." Jawab Nisha dengan nada bicara yang sedikit aneh.


"Siapa?" Tanya Thika.


Seketika seseorang berbaju serba hitam dengan memakai topi dan masker datang menghampiri meja mereka. Lalu duduk di sebelah Nisha. Setelah duduk orang itu membuka maskernya.


"Kakak!" Ucap Thika yang tak percaya, kakaknya sudah berada di depannya.


"Kapan kakak pulang?" Tanya Thika lagi.


"Ah sudah beberapa hari yang lalu. Bagaimana kabarmu?" Tanya Mahen.


"Aku baik-baik saja kak." Ucap Thika semangat.


Mahen menghela nafasnya. "Bukan itu maksudku, kakak dengar kamu sudah menikah. Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Mahen dengan raut wajah serius.


Thika diam tak bergeming. Bagaimana bisa kakaknya tahu soal pernikahannya? Batinnya.


"Aahh… Bagaimana kakak bisa tahu? Lalu ayah…" Lirih Thika menunduk.


"Om Sanjaya terkejut kalau lo udah nikah. Bahkan penyakit jantung beliau juga kumat." Ucap Nisha.


Thika pun dihantui rasa bersalah, karena menyembunyikan masalah ini dari Ayah dan juga kakaknya.


"Maafkan aku kak…" lirih Thika.


Mahen pun mengusap pucuk kepala adik kecil kesayangan dengan lembut. Tak lama atensinya teralihkan dengan lebam yang ada di tangan kanan adiknya.


"Apa ini? Kenapa tanganmu lebam huh?!" Tanya Mahen dengan tatapan penuh selidik.


Thika ingin sekali berbohong kepada kakaknya, mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Tapi pada dasarnya Thika sama sekali tidak bisa berbohong jika sudah berada di depan kakaknya.


Thika pun sedikit menunduk, meremas ujung bajunya. "I-Ini kemarin aku mengalami sebuah insiden ketika akan berangkat kerja bersama Abi. Ada beberapa orang yang mengejar kami. Karena kaget tanganku sedikit terbentur." Ujar Thika meyakinkan kakaknya.


"Syukurlah tidak terluka parah." Ucap Nisha.


Mahen memejamkan sebentar matanya, lalu menatap Thika tajam. "Dengarkan kakak, aku tidak bisa memberitahumu dengan detail. Tapi, Abi bukanlah orang baik seperti yang kau kira. Karena dia…."


"Karena seperti apa?!" Sela seseorang dari arah belakang dengan sedikit berteriak.


Bersambung……

__ADS_1


__ADS_2