
"Jika kakak keluar dari sini, maka akan ada sesuatu yang buruk akan menimpa orang tercintamu." Ucap Fani dengan senyum seringai.
Belum Abi sempat membalas, ponselnya tiba-tiba berdering.
📞 "Bos! Nyonya kecelakaan! Dan sekarang sudah dibawa ke rumah sakit." Ucap Roy diseberang sana.
Abi terkejut bukan main, dia berpikir apakah Fani yang melakukannya?
"Apa?! Apakah lukanya parah?" Tanya Abi.
📞 "Tidak bos, hanya sedikit lecet di kakinya dan tangannya hanya lecet-lecet." Jawabnya.
Abi bernapas lega. "Baiklah, obati Thika dengan baik! Dan jangan beritahu dimana aku berada." Titah Abi. Lalu mematikan sambungan teleponnya.
Abi berbalik. "Apa itu perbuatanmu?" Tanya Abi menatap mata Fani.
Fani menyilangkan tangannya di dadanya. "Sudah aku bilang bukan? Aku sama sekali tidak suka berbagi. Dan aku akan melenyapkan siapapun yang menghalangiku." Seringai Fani.
Abi jelas tidak berdaya jika dihadapkan dengan situasi ini. Disisi lain dia harus menghadapi Fani yang sudah seperti orang gila jika permintaannya tidak dituruti. Sementara dilain sisi ada istrinya yang menjadi korban dari keegoisan Fani.
"Jadi apa yang harus aku lakukan agar kau tidak mencelakai orangku?" Ucap Abi.
Fani tersenyum. "Mudah saja, ceraikan Avanthika dan terimalah aku sebagai istrimu kak. Aku tahu pernikahan Kakak hanya pernikahan kontrak." Ucapnya dengan sorot mata yang tidak biasa ketika menatap Abi.
Abi hanya diam, memikirkan apa yang diucapkan Fani. Dia dilema dihadapkan pada pilihan dimana menuruti permintaan Fani agar orang yang dicintainya tidak ditargetkan atau menolaknya dengan konsekuensi orang yang dicintainya akan terus dalam bahaya.
Dan lagi darimana dia tahu bahwa awalnya dia menikah dengan Thika hanya sebatas pernikahan kontrak? Pikirnya.
Abi menghela nafasnya. "Beri aku waktu, jangka waktu pernikahanku hanya tinggal beberapa bulan. Aku harap kamu bisa menunggu." Ucap Abi dengan terpaksa.
__ADS_1
Dia terpaksa memilih untuk menuruti keinginan Fani. Karena saat ini dia dihadapkan dengan Fani yang mengalami Gangguan ketidakmampuan mengontrol keinginan. Orang dengan gangguan ini tidak dapat menolak dorongan dari dalam dirinya untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya membahayakan diri sendiri atau orang lain. Untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Tapi, Abi tidak ingin bercerai dengan Thika. Namun, dengan cara mengulur waktu, dengan begitu dia bisa mengatur rencana untuk menghadapi Fani.
Fani berteriak kegirangan. "Benarkah kak? Kamu akan menceraikan Avanthika? Aku sangat senang." Ucap Fani. Dengan memeluk Abi.
Abi terpaksa membalas pelukannya. "Ya, beri aku waktu, karena aku tidak bisa menceraikannya dalam waktu dekat. Jadi, jangan melakukan hal-hal yang membuatku marah atau aku akan meninggalkanmu." Ucap Abi.
"Baik kak, aku tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Fani semakin mengeratkan pelukannya.
'Maafkan aku Thika.' Batin Abi.
Abi dan Fani menghabiskan waktu mereka di apartemen. Dengan Abi yang terpaksa meladeni semua kemauan Fani.
*
*
*
Setelah mendapatkan pengobatan, hari itu juga Thika diperbolehkan pulang oleh dokter. Roy pun mengurus administrasi, pengobatan Thika.
Di ruangan ada Thika, Roy dan seorang suster.
"Nona mohon beberapa hari ini istirahat saja agar lukanya cepat sembuh." Ucap suster setelah itu memberikan vitamin untuk Thika.
Roy pun membantu Thika yang sedikit kesusahan berjalan. "Kak, ini tidak seberapa. Aku bisa jalan sendiri." Ucap Thika, tak enak kepada Roy.
"Tidak. Karena bos menyuruhku membantumu." Jawab Roy dengan tatapan yang lurus ke depan.
__ADS_1
Thika pun mendongak menatap Roy. "Kak dimana Abi? Kenapa dia tidak datang?" Tanya Thika.
Keringat pun sudah mengucur di pelipis roy. Tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada nyonya mudanya ini. Karena Abi yang menyuruhnya agar merahasiakan dimana dia berada.
Roy menggaruk pelipisnya. "Itu…. Aku sudah menghubungi bos, tapi dia bilang ada sedikit urusan penting. Jadi tidak bisa datang." Ucap Roy dengan tidak enak hati berbohong kepada Thika.
"Begitu ya? Mungkin Abi menungguku di mansion." Ucap Thika dengan senyum yang terbit di wajah cantiknya.
Tak lama mereka pun sampai di basement rumah sakit. Lalu menuju mobilnya untuk pulang ke mansion.
Perjalanan 20 menit dari rumah sakit ke mansion pun mereka lalui. Sampai akhirnya mereka akhirnya sampai. Pak man dan Bi Sri membantu Thika yang berjalan dengan sedikit tertatih karena kakinya yang masih terluka. Lalu membawanya ke dalam kamar.
*
Lembayung senja sudah menghiasi langit yang tadinya cerah. Namun, sang suami masih saja belum menampakkan dirinya. Thika pun menunggu Abi di dalam kamar karena keadaannya.
Thika pun menunggu Abi sampai jam makan malam, tapi Abi belum juga pulang. Melihat itu, Bi Sri memaksa Thika makan malam karena kondisinya yang butuh asupan guna mempercepat proses penyembuhan luka.
Waktupun sudah menunjukkan pukul 11 malam. Abi dengan pelan membuka pintu kamarnya. Dilihatnya istrinya tidur dalam damai.
Tak lama Thika pun terbangun karena mendengar suara pintu terbuka. "Hubby, kamu sudah pulang? Apa sudah makan malam?" Tanya Thika sambil mengucek matanya.
"Hem…"
"Hubby kamu kenapa?" Tanya Thika ingin beranjak bangun.
"Diam! Jangan pedulikan aku!" Ketus Abi.
Sementara Thika terkejut mendengar Abi yang membentaknya. Hatinya terasa di remas karena perkataan suaminya.
__ADS_1
Disisi lain, Abi berjalan menuju kamar mandi. 'Maafkan Aku sayang. Aku tidak bermaksud membentakmu. Tapi ini juga demi keselamatan kamu.' Batin Abi yang merutuki dirinya karena membentak istrinya.
Bersambung…….