BERMULA DIHARI PERNIKAHAN

BERMULA DIHARI PERNIKAHAN
Chapter 100


__ADS_3

"kita ada mangsa baru" ucap Gilmax.


Hiebert yang mendengar perkataan Gilmax langsung bergegas menangkap mangsa itu, Hiebert sudah bisa menebak jika mangsa itu ada kesalahan segingga dia di incar oleh tuannya, "kita akan bermain lagi Gilmax!"


"Kau benar dan pastikan jangan memakan waktu lama untuk kau menangkapnya"


"Oh tentu saja, tuan tidak akan menunggu lama" jawab Hiebert dengan kekehanya kemudian langsung memutus panggilan dan mulai beraksi.


"Sudah aman tuan, kita tinggal menunggu kabar baik"


Mereka menunggu kabar dari teks sembari memeriksa semua berkas-berkas penggabungan perusahaan dirinya dengan istrinya sepuluh menit kemudian ponsel Hiebert kembali berbunyi dan ternyata itu dari Hiebert mengatakan jika target sudah di tangan.


"Tuan target sudah di tangan" ucap Gilmax.


"Bagus, sekarang kita berangkat rasanya aku sudah lama tidak bermain main dan selalau mengutakan kepuasan istriku" kekeh Brillo tapi sudah tampak menyeramkan saja.


Mereka kekuar dengan langkah tegas membuat oara karyawan yang melihat terheran dengan ketegasan kedua orang itu, tapi siapa yang berani mengusik mereka masih sayang nyawa mereka.


Keduanya masuk ke dalam mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi sementara anak buah Keitaro ternyata memata matai mereka dan mengikuti arah mobil itu melaju, mereka menggunkan mobil biasa saja yang biasa di gunakan oleh kalangan masyarakat bissa sehingga tidak bisa memantau tari dekat karena perbedaan kecepatan tapi jika mereka menggunkana mobil yang sepadan dengan Brillo sudah pasti mereka akan di curigai, yang artinya nyawa mereka dalam bahaya.


"Si*l! kita tidak bisa mematau mereka dan kini kita malah kehilangan jejak!" umpat sang mata mata.


"Jadi jita haru bagaimana?"


"Laporkan pada tuan, dan aku akan terus berusaha untuk mengejar mereka" ucapnya.


Brillo sudah tiba, dan lagi lagi langkah tegasnya bisa membuat orang ketakutan, debaran jantung sudah terpompa dengan cepat padahal mereka tidak melakukan kesalahan dan hak itu di alami oleh anak buahnya, lalu bagaimana denga mereka yang berbuat keselahan? sudah pasti lebih takut dari yang pengawal itu rasakan.


"Mana dia?"


Pengawak itu menyeret paksa penghianat dan berhenti tepat di hadapan Brillo, pria itu sudah sangat ketakutan dan sudah tidak punya harapan lagi dan sudah bisa di pastikan ini adalah hati terakhirnya tapi yang dia tidak tau adalah kematian seperti apa yang akan di berikan Brillo padanya.


"Katakan untuk siapa kau bekerja!" tanya Brillo dengan nada dinginnya..


"Te tentu saja pa pada mu tuan" jawabnya dengan gugup.


Keringat dingin sudah mulai membanjiri tubuhnya, dia pucat dan gemetara seluruh tubuhnya, padahal Brillo belum melakukan apa pun padanya, tapi bagaimana bisa dia mengalami hal itu, tentu saja karena tatapan tajan Brillo yang serasa mengoyak jantungnya.


"Jangan menipuku dengan mulut kotormu! atau kau akan merasakan akibat dari penghianatanmu!"


"Saya tidak berbohong tuan, saya berkata jujur" keukehanya.


"Ck, katakan telinga mana yanh ingin aku iris lebih dulu?" tanya Brillo.


Pria itu sangat syok dan ketakutan mendengar pertanyaan Brillo, mana ada orang yang rela telianga di iris jika bisa meninta dia bahkan akan meminta pengampunan tapi sepertinya itu tidak akan berlaku kerena Brillo tidak akan memberi pengampunan jika sudah menginao di maekasnya.


"Tuan, saya mohon jangan lakukan itu, ampuni saya tuan" pintanya seraya bersimpuh di kaki Brillo.


"Yang aku tanya telinga mana yang ingin di iris lebuh dulu bukan pengampunan!" kerus Brillo.


"Tapi saya tidak mau telinga saya di iris tuan".


"Baiklah biar aku yang tentukan!" ucap Brillo dengan pisau cukur yang sudah berada dalam genggamannya.


Sepertinya Brillo sudah terkonta minasi dengan pisau cukur milik Kerenza, dia akan mencoba menguji ketajaman pisau cukur kesayangan istrinya dan jika bagus mungkin dia akan melanjutakn kontrak pemakaian berikutnya untuk target selanjutnya.


"Kalian pegang tangan dan kaminya!" titah Brillo.

__ADS_1


Empat orang anak buahnya berjalan medekat dan mengunci pergerakan pria itu agar tidak memberontak pada tuannya yang akan melakukan pekerjaanya, "kau tau ada tidak bahian tubuhmu yang harus aku singkirkan tapi jika dalam waktu itu kau mengakui pada siapa kau bekerja maka mungkin aku akan menghentikannya dan membiarkan kau hidup, hidup dalam kesakitan tepatnya...!" ucap Brillo dan mulai berjalan mendekati buruan.


Pria itu sangat ketakutan, mencoba untuk memberontak tapi percuma karena kekuatannya kalah dengan empar orang pria yang nertubuh kekar itu, "kau tau yang pertama adalah kedua telingamu yang sudah berani menguping pembicaraanku!" ucapnya dan langsung menyebetkan pisau cukur kesayangan Kerenza.


"Akkkhh...... Sakittt tuannnn, ammmpunnnnn!" teriak kesakitan kembali menggema tapi sepertinya itu tidak membuat Brillo berhenti apa lagi merasa iba, justru merasa sangat senang mendengarnya.


"Wowww sepertinya pisau cukur istriku tidak bisa di anggap remeh Gilmax kareka ini sangat hebat seperti pemiliknya!" seru Brillo.


"Benar tuan, pantas saja nona muda mengatakan itu benda kesayangannya" jawab Gilmax memberi pendapat.


"Bagaimana rasa pisau cukurku. tanya Brillo.


"Jangan tuan, ini benat benar mengerikan, saya mohon beri saya pengampunan" ucapnya tapi tidak di hiraukan oleh Brillo.


"Saya tidak meminta pendapatmu, yang ku katakan kau buka mulutmu dan katakan siapa yang sudah menyuruhmu!" tegas Brillo.


Pria itu menggeleng masih bertahan untuk tidak membuka mulutnya walau sudah merasakan sikasaan awal tapu tidak membuat dirinya membuka mulut.


"Maaf tuan" ucapnya lagi.


Brillo yang mendengar perkataan itu kembali berdecak kesal karena orang itu masih saja bertahan dan sekali lagi Brillo mengebetkan pisaunya di telinga sebelahnya dan itu membuat suara pilu kembali terdengar memebuhi ruangan.


"Akhhhhhh.....Ampunnnnn...!" terikanya lagi.


"Dan sekarang giliran matamu yang tidak kau gunakan dengan baik itu, jadi saya lepaskan saja agar tidak membebanimu" ucap Brillo dengan senyum iblisnya.


"Jangan tuan aku mohon, jangan lakukan itu aku masih ingin melihat!" pintanya


"Jika kau masih ingin melihat maka kau akan melihat CCTV yang ratusan buah terpasang di perusahaanku, tapi sepertinya matamu sudah tidak berfungsi lagi jagi akan aku bantu melepaskanya hahahaha...!"


"Ingat! aku tidak akan memberi toleransi jadi pikirkan sebelum pisau ini menacap sempurna di kedua matamu!" tegas Brillo.


Pria itu masih saja menggeleng entah apa artinya Brillo tidak tau karena pria itu tidak berbicara. Tentu saja dia tidak bisa berbicara karena Brillo mencekram pipinya dan menekan dengan kuat membuat dirinya kesusahan bericap.


Krekttt


"Akkhhh mataku si**ann....!"


"Kau berani padaku ha!" bentak Brillo dan kali ini kembali menancapkan pisaunya di mata yang satu dengan kasar membuat penghianat memekik pilu dan keras dari sebelumnya.


"Hahahaha..... Rasanya sangat menyenangkan mendegat teriakan pilumu" uca Brillo dengan suara tawa yang menggelegar memenuhi ruangan, "Kau yakin belum mau mengatakan padaku? jika tidak, tidak masalah karena masih banyak bagian tubuhmu yang bisa merasakan pisau cukue istriku" ucapnya dengan suara yang kini menyeramkan setelah tertawa.


"Jangan tuan, aku mohon ampuni saya tuan, saya masih ingin hidup" pintanya.


Wajahnya kini sudah di penuhi dengan darahnya sendiri dan itu berasal dari telinga dan matanya yang sudah tidak utuh lagi, "katakan tangan mana yang mau merasakan pisau ini lebih dulu?" tanya Brillo dengan berbisik pelan layaknya malaikat mau yang sudah sangat tidak sabar mencabut nyawa.


"Jangan tuan, aku....aku akan mengatakan siapa tuanku yang membayarku".


"Katakan!"


"K..Ke..Keitaro" jawabnya kesusahan.


"Hmmmm Keitaro ya?" gumam Brillo pada dirinya sendiri seolah sedang berpikir.


"Benar tuan, dia membayarku" jawabnya lagi.


Senyum smirk tentu saja terbit du sudut bibir pria tampan itu tapi jelmaan iblis, "aku rasa dia sudah benar benar mengkibarkan bendarnya Gilmax!" kekeh Brillo.

__ADS_1


"Dan saat ini usahanya mencari kelemahan anda" timpal Gilmax.


"Baiklah tidak masalah, aku menunggu kedatangannya"


"Dan kau! mati saja dan pilih kematian apa yang kau inginkan?"


"Jangan tuan, sayan tidak mau mati! saya masih ingin hidup"


"Dengan keadaan yang seperti ini? ck kasihan sekali kau, lebih baik mati saja dan mayatmu di jadikan makan anjing peliharaanku" ucapnya dan mngulurkan tangannya mengambil pistol di saku jasnya dan....


Dor dor dor


Tiga kali tembakan Brillo lesatkan dan seketika pria itu sudah tidak bernyawa lagi, dia tumbang ke lantai bergabung dengan mata dan telinganya yang berserak di lantai tahanan.


" Urus mayatnya!" titah Brillo kemudian pergi meninggalkan tempat itu dan mencuci bersih tangannya.


"Kau awasi terus pergerakan Keitaro,!"


"Dia sudah kembali tuan"


"Berarti dia akan menyiapkan rencana besar untuk menjebakku"


"Sepertinya anda benar tuan dan kita harus lebih berhati hati"


"Bagaimana dengan foto daru ja*angmu itu?" tanya Brillo dengan senyum mengejeknya dia berikan pada Gilmax.


Gilmax tau jika tuannya mengejek dirinya taai dia tidak peduli karena yang dia pedulikan adalah dirinya bisa menyelesaikan masalah ini dan menangkap musuh tuannya agar bisa segera menikahi Anna.


"Dia akan mengantarkannya padaku nanti malam" jawab Gilmax acuh.


"Bagus dan bagaimana dengan Rebeca? belum ada hasil yang kau dapatkan?" tanya Brillo.


"Sampai saat ini tidak ada hasil yang menarik, malah yang aku dapatkan malah suara yang membuatku jijik dan menjadi menginginkan Anna" jawabnya.


"Hahahaha kau harus bisa menahan diri untuk itu agar kau tidak khilaf"


"Ck, tuan selalu saja"


"Kita pulang"


"Jadi dia akan membuka cabang baru?" tanya Robert.


"Benar tuan dan itu belum ada yang mengetahuinya dan beruntung mata mata kita tau tapi sepertinya sekarang mungkin dia sudah lenyap" jawab Alex.


"Jadi dia tetangkap?"


"Benar tuan, tapi sesuai perkataanku jika nama anda akan bersih dan lagi lagi Keitaro yang di sebut dalangnya" jawab Alex membuat Robert tertawa penuh kemenangan.


"Hahahaha.... sudah aku katakan jika kelicikan akan jauh lebih hebat dan pada akhirnya akan menang dari pada hanya punya kekuatan" ucap Brillo dengan tawa bahagianya.


"Sepertinya kita harus mengatakan ini pada Keitaro agar dia membuat kekacauan disana dan akhirnya semua anggotanya akan semakin berpencar tuan muda" usul Alex.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2