
"Bagaimana?" tanya Kerenza.
"Apanya?" ucap Brillo balik bertanya.
"Ck, daddy Robert? apa kau melihatnya terkejut?"
"Tidak"
Kerenza mendengus sebal karena jawaban Brillo yang sangat singkat membuat dirinya tidak paham arti kata tidak itu, "hei tuan kaya bisakah kau menperjelanya padaku!" sentak Kerenza.
"Tentu saja, aku tidak melihat ada yang tidak menarik dari tubuhmu semua membuatku tergoda" goda Brillo dengan memainkan mata genitnya.
"Dasar kau mesum sekali!" ketus Kerenza untuk menghilangkan rasa malunya.
"Tentu saja aku mesum pada istriku untuk membuat baby kedua dengannya"
"Hei baby kita belum lahir bagaiamana bisa akan kau buat lagi" sentak Kerenza.
Brillo terkekeh mendengar sentakan dari istrinya, bukan takut tapi malah terlihat lucu baginya "aku tidak melihat dia terkejut love bahkan terkesan sangat biasa dan justru aku melihat ada tawa misterius dari nya" jawab Brillo yang kini terlihat sangat serius.
Kerenza melihat Brillo, dia tidak terlalu mempehatikan Robert Hans tadi karena fokusnya pada para pemegang saham lainnya begitupun dengan Brillo sepengetahuan Kerenza jika suaminya sibuk menatap investor lainnya dan tidak fokus pada satu orang saja, rupanya dia lengah karena ternyata Brillo terhs memperhatikan gerak gerik Robert Hans.
"Lalu apa yang akan kau lakukan Brillo?"
"Tidak ada, dan kau jangan pikirkan apa pun! pikirkan baby kita saja" ucap Brillo dengan lembut tapi tegas.
"Tapi aku ingin membantumu Brillo, aku tidak mau kau lengah dan kita harus segera menagkapnya jika memang dia pelakunya"
"Big no! aku tidak mengijinkan itu Love, dan aku harap kau mau mendengarkan ku kali ini!" tegas Brillo kembali.
"Baiklah jika itu yang mau minta, tapi kau juga jangan terlalu menghawatirkanku karena amu bisa menjaga diriku sendiri"
"Hei bagaimana bisa itu kau katakan! kau ada istriku dan sekarang sedang ada baby yang butuh perlindungan dan aku harus melindungimu dan baby dengan ekstra"
__ADS_1
"Ck, terserah kau saja, aku pusing berdebat dengamu" ucap Kerenza akhirnya menyerah.
"Aku suka kau menurut sayang" ucap Brillo dan mengusap pipi Kerenza dengan lembut kemudian menciumnya dengan lembut pula dan Kerenza hanya tersenyum mendapati kelembutan Brillo untuknya dan itu tidak pernah berubaj sejak dulu sejak mereka tidak mengalami banyak hal.
"Sudah kau makan sandwich mu dulu biar tidak kelaparan" ucap Brillo.
Tapi sebelum itu, Brillo lebih dulu meraup bibir Kerenza dan mel*matnya dengan lembu dan ritmenya sangat pelan membuar si ibu hil terhanyut dan ikut membalas pangutan itu, lama lama sensasi lembut itu berubah menjadi sensasi yang sangat luar biasa panasnya dan berakhir setelah mendapati nafas yang mulai terengah.
Brillo mengusap bibir Kerenza dan menciumnya kembali tapi singkat dan sekilas, "makanlah sandwich mu Love"
"Ya baiklah" jawab Kerenza dengan napas yang masih terngah.
.
Keitaro menghubungi Louis yang mengatur segala kemantapan rencana mereka, karena tidak hanya butuh strategi saja dalam hal ini tapi persenjataan pun wajib lengkap dan harus serba keluaran terbaru agar bisa menyaingi Brillo dan mudah untuk melumpuhkan Brillo Jokson pikirnya.
"Louis kau sudah selesaikam semua?" tanya Keitaro setelah sambungan terhubung.
"Bagaimana dengan persenjataan kita?"
"Kemungkinan besok malam kapal yang dirim oleh Barnabas dari akan tiba di pelabuhan tapi kisaran larut malam,"
"Kenapa harus selama itu Louis, aku sudah tidak sabar lagi untuk menghabisisnya" gusar Keitaro.
"Mohon bersabar bos, karena kita harus berhati hati, pihak berwajib akhir akhir ini razia di setiap tempat terutama Pelabuhan, dan bandar karena banyak isu beredar para mafia recehan melalukan transaksi ilegal dan anak buah kita mengatakan hanya kisaran jam dua hingga tiga kita bisa melakukan transaksi sehingga mitra bisnis kita mengatur jadawal berlayar agar tidak tertaham yang akan membuat mereka tertangkap, dan jika itu terjadi maka kita bisa terseret bos" ujar Loius panjang lebar.
"Ya baiklah, kau atur saja semua Louis tapi ingat jangan lengah apa lagi kecolongan dan lagi jangan sampai Robert tau rencana kita!" tekan Keitaro.
"Baik bos besar" jawab Louis.
Mereka terus berbicara rencana mereka tanpa menyadari jika di sisi lain di negara yang berbeda ada seseorang yang tersenyum licik karena mendengar semua rencana mereka, dan dia merada tidak sia sia menempelkan alat penyadap itu dan bodohnya Keitaro tidak menyadari hal itu.
Bagaiman Keitaro bisa menyadarinya jika alatnya saja sangat tipir dan letaknya pun berada di tempat yang jarang sekari di sentuh hanya sesekali saja, dan itu mungkin jika sedang frustasi dan itu di letakan di tengkuk Keitaro, walaupun di sentuh tetap tidak akan di ketahui olehnya.
__ADS_1
Dan sialnya lagi ternyata itu bukan cuma alat penyadap saja fungsinya, tapi itu juga merangkap sebagai bom yang sengaja di minta pada mitra bisnisnya untuk memodifikasinya agar bisa di fungsinkan sebagai peledak saja.
Siapa lagi pelakunya jika bukan si licik Robert Hans yang memiliki banyak akal untuk menangkap dan menyingkirkan musuhnya, sudah bisa di pastikan kepala Kektaro yang akan jadi sasaran utama bom itu jika Robert mengaktifkannya kapan saja.
"Kau benar benar bo*oh Keitaro!" ucap Robert, "kau kuat hanya saja kurang licik dan itu menjadi sebuah kelemahan besarmu karean kini lihatlah aku bahkan sudah mengetahui rencanamu dan aku pastikan kau sendiri akan termakan dengam rencanmu sendiri jika aku sidah bertindak" lanjutnya.
"Alex tetap diam, dia hanya mendengarkan semua perkataan Robert dan hanya akan menjawab bila Robert membutuhkannya saja nanti.
"Kau dengar semuanya Alex?"
"Saya denganr tuan besar"
"Maka kau pasti tau apa yang aku inginkan yang harus kau sipakan" ucap Robert dengan senyum liciknya.
"Saya paham tuan besar dan saya akan melakukanya sekarang"
"Bagus dan kau ingat jangan biarkan Max mengetahui hal ini, biarkan dia tetap fokus pada perusahaan" titahnya lagi pada Alex.
"Tentu tuan, saya pastikan muda Max tidak akan mengetahui hal ini"
"Bagus, lakukan sekarang!"
Alex keluar meninggalkan Robert yang kembali tertawa puas karena permainan ini akan di kendalikam olehnya, "hahahaha.... aku yang akan memenangkanya, aku yang akan menjadi pemenangnya dalam permainan ini karena aku yang akan menjadi pengendalinya" tawa Robert.
Iya membayangkan waktu itu tiba, waktu diamana dia akan menyaksikan pertempuran antara dua kubu seorang mafia dan pengusaha akan saling berbunuhan dan pada akhirnya dia akan melenyapkan juga nantinya siapa yang menang dan dialah yang akan menjadi pemenang sesungguhnya.
"Ahhh aku tidak sabar menanti hari itu, rasanya jarum jam berputar sangat lama" gumamnya dengan bahagia.
.
.
TBC
__ADS_1