
Anggota Kerenza sudah tiba di kediaman Brayen Wate. dan tanpa membuang waktu lagi mereka memasuki rumahnya dan ingin segera melesat ke kamarnya tetapi di ruang tamu dia bertemu dengan Bibi Caroline.
" Kau sudah kembali dari pesta Nona Alana?"
" Ya." jawab Alana singkat dan langsung pergi tanpa melihat Bibi Caroline yang mengetikan sesuatu di ponselnya.
"Tuan, Nona Alana sudah kembali dan dia Tidak bersama dengan kekasihnya." pesan terkirim pada seseoang dari ponsel milik Bibi Caroline.
Setalah mengirim pesan, Bibi Caroline hendak berjalan menuju kamarnya tapi tangannya di cekal oleh Hiebert.
"Untuk siapa kau bekerja."
Hiebert bertanya kepada Bibi Caroline dengan tatapan nyalang ke arah wanita paruh baya itu. dari awal dia memang sudah curiga terhadap gerak-gerik Caroline tetapi sampai kini tidak ada sesuatu yang bisa menjadi petunjuk terhadap siapa wanita itu bekerja.
" Tentu saja Pengabdianku masih untuk mendiang Tuhan Bryan Wate."
" Jangan menipuku nyonya! kau tau kalau aku tidak akan segan kepada siapa pun yang berani menghianati nona muda aku ."
"Kau pikir aku menghianatinya? sepertinya anda salah sasaran tuan, lebih baik perhatikan lagi siapa sebenanrnya yang berhianat. Dan kau sendiri sebenarnya setia pada siapa? nona Alana atau pada seseorang."
Catline pergi meninggalkan Hiebert yang mematung karena perkataan asisten rumah tangga itu. ada banyak pertanyaan yang bermunculan di pikirannya siapa sebenarnya Wanita paru baya itu, dan apa dia tau sesuatu tentang Hiebert.
"Siapa dia sebenarnya? dan kenapa perkataanya seperti itu? apa dia mengetahui sesuatu tentangku?. Jika ya, maka aku harus berhati hati, aku tidak boleh ketahuan sebelum waktunya tuanku sendiri yang mengatakannya."
Hiebert memutuskan untuk pergi meninggalkan ruang tamu menuju kamar tempat dia istrahat, dan tujuan lainnya adalah ingin melapor pada tuannya.
Sampai dikamar dia menelpon seseorang.
" Kami sudah dirumah."
.....
" Baik , akan saya pantau terus. tuan tidak usah khawatir karena saya akan terus melaporkanya."
" Baiklah akan saya cari tau, dan saya akan terus mengawasinya."
.....
"tidak usah khawatir akan hal itu."
.......
" Baiklah sampai jumpa."
Hiebert teru saja menelpon tanpa tau kalau Kerenza dari tadi ada didepan pintu kamarnya dan mendengarkan semua pembicaraan Hieberr, hanya saja Kerenza tidak tau pada siapa Hiebert bicara, siapa, dan apa yang mereka bahas. Mengingat perkataan Hiebert yang tidak begitu tertuju pada sesuatu atau seseorang.
" Siapa yang kau hubungi Hiebert."
Kerenza berjalan mendekati Hiebert dengan tatapan penuh sellidik kearahnya yang terkejutnya bukan main karena kedatangan Kerenza, mencoba berpikir untuk mencari alasan agar tidak di curigai.
" Saya sedang berbicara dengan miguel Keren, dia menanyakan keberadaan kita."
Hiebert mejawab penuh dengan ketenangan, tidak memperlihatkan kegugupan atau ketegangan sama sekali.
" Kau yakin bicara dengan Miguel?? Alis Kerenza terangkat naik ke atas.
__ADS_1
" Tentu saja."
" Berikan ponselmu." pinta Kerenza.
Hiebert memberikan ponselnya pada Kerenza tanpa ragu, dan Kerenza dengan sigap mengambil dan memeriksanya dan ternyata di sana catatan panggilan berada di paling utama urutan pertanda kalau miguel lah yang menelponnya, karena melihat waktu panggilannya.
" Baiklah aku percaya. Dan maaf jika aku mencurigaimu." sesal Kerenza.
" Tidak apa Kerenza, aku tau kau melakukan ini karena ada alasannya dan aku tidak masalah akan hal itu."
" Baiklah aku pergi ke kamar ku lagi. Oh ya besok kita ke markas saja membahas masalah wanita itu.
Kerenza kemabali kekamarnya dan Hiebert hanya tersenyum karena berhasil mengelabui Kerenza dan kemudian ia kembali menelpon.
" Hampir saja tuan kita ketahuan."
.......
" Iya tuan, saya akan lebih berhati hati lagi."
" Baiklah tuan."
Ternyata dari awalnya memang sudah diatur sedemikian rupa oleh Hiebert, bahkan nama tuannya pun ia ganti menjadi Miguel salah satu orang kepercayaan kerenza di Paris dalam mengelola perusahaan miliknya di sana.
Karena dirinya sudah memprediksikan hal seperti ini akan terjadi dan untuk tidak membongkar identitasnya makanya ia sudah mempersiapkan semuanya. tanpa tau kalau Kerenza tidak akan mudah di tipu begitu saja.
kembali pada Kerenza setelah memasuki kamarnya yang mengambil ponsel miliknya dan menelpon Miguel orang kepercayaannya yang berada di Paris.
" Miguele apa Hiebert ada menghubungimu?"
" Tidak Keren, dia tidak menghubungiku. Memanganya ada apa?" tanya Miguel
" Tidak ada, aku hanya bertanya."
" Baiklah jika begitu aku tutup telolponnya."
Kerenz menutup ponselnya, raut wajahnya berubah muram memikirkan Hiebert yang membohonginya. Tidak habis pikir jika pengikutnya ada yang mulai tidak setia.
" Kau mulai menghianatiku Hiebert. Aku tidak tau sudah berapa lama tapi aku tidak akan membiarkanmu menusukku dari belakang, aku akan mencari tau pada siapa kau bekerja."
Kerenza malam ini benar benar terkejut mendapati kenyataan ini, sungguh ini benar benar membuatnya harus hati hati pada semua anggotanya, dan sepertinya mulai sekarang dia harus mengamati gerak gerik semua anggotanya terutama mereka yang setiap harinya bersama dengannya.
Di luar halaman milik Kerenza, Brillo baru saja memarkirkan mobilnya, sepertinya dia tidak tahan jika tidak bertemu dengan kekasih itu. entah kenapa rindu selalu saja melanda dirinya.
kring kring kring
Ponsel milik Kerenza bebunyi dan dengan segera wanita itu mengangkatnya. " Ck ada apa pria ini menelpon malam malam." gerutunya sebelum akhirnya dia juga menjawab panggilan itu.
" Ada apa kau menelpon lagi."
" Aku merindukannmu love, rasanya sangat tidak nyaman jika tidak melihatmu."
" Jangan membual tuan. Katakan saja apa yang kau mau."
" Aku tidak membual love, cobalah lihat siapa yang ada di halaman rumahmu."
__ADS_1
Kerenza yang penasaran mendengar perkataan Brillo bergegas mengintip di jendela di balik tirai yang tertup dan dia sangat terkejut mendapati jika yang ada disana adalah si penelpon dirinya.
" Apa yang kau lakukan di tengah malam begini."
" Tentu saja untuk bertemu denganmu love."
" Tapi sudah larut malam Brillo, jadi besok saja bertemunya."
" Tidak bisa love, buka pintunya sekarang."
" Tidak mau."
" Baiklah tapi jangan salahkan aku jika harus bertindak seperti maling malam ini."
Usai berkata itu, Brillo benar benar membuktikan ucapanya, ia beranjak dan memanjat tembok rumah Kerenza dengan di bantu pohon yang berdiri menjulang tinggi akhirnya dia bisa sampai di balkon kamar Kerenza.
tok tok tok tok
Brillo mengetuk pintu yang terdapat di balkok kamar Kerenza dan tak lama munculah gadis cantik yang bergelar sebagai kekasihnya, dengan wajah masam wanita itu membuka pintu balkonnya.
" Thank you love. You really are a good girlfriend." ucap Brillo memuji Kerenza yang hanya di balas decakan oleh wanita itu.
" Apa tujuanmu."
" Tentu saja ingin tidur bersamamu."
" What."
" Tidak usah kaget. Karena aku yakin jika kau pasti tidak lupa dengan perjanjian kita kan."
Brillo kembali mengingatkan Kerenza tentang keputusan perjanjian mereka tempo hari dan kini Brillo berniat untuk menagihnya. Alhasil Kerenza hanya bisa pasrah saja.
" Kau boleh tidur, tapi jangan berani macam macam padaku."
Kerenza memberi peringatan tegas pada Brillo untuk tidak berbuat hal yang macam macam selama mereka tidur.
" Tentu saja love, aku tidak akan berbuat jika tanpa ijinmu."
" Ya baiklah tuan."
Mereka berjalan menuju ranjang milik Kerenza dan Brillo langsung saja merebahkan dirinya di kasur kekasihnya, sedangkan Kerenza hanya memutar bola matanya malas.
" Kemarilah love, tidurlah disampingku, aku ingin mememlukmu."
" Kau! sudah aku bilang jangan macam macam padaku.!" bentak Kerenza.
" Tidak love, aku haya ingin memelukmu saja."
Brillo berkata yang di dukung oleh tindakanya yang langsung menarik Kerenza hingga gadis itu terjatuh dalam pelukannya.
" Lepaskan Brillo."
"Tenanglah love. Aku benar benar hanya ingin tidur dengan memeluk tubuhmu."
Akhirnya Kerenza memilih diam, membiarkan tubuhnya di peluk oleh Brilo dan mereka berdua tidur dalam posisi saling memeluk malam ini.
__ADS_1
TBC