
Dua hari berikutnya baru ada kabar dari Hiebert dan mereka pun segera pergi menuju pelabuhan.
Mereka pergi di tengah malam, alasanya adalah agar tidak ada yang meigetahui tentang mereka karena bisa saja musih mereka masih berkeliaran mencari mereka.
" Bibi Elisabeth mau kah kau ikut dengan kamu." pinta Erland yang saat itu merasa iba kepada wanita tua yang hanya tinggal sendirian di rumah itu.
" Tidak. Aku sudah memiliki kehidupan yang nyaman disini." tolak Bibi Elisabeth.
" Tapi aku ingin kau ikut denganku ke Spayol dan merawatku hingga sembuh." pinta Erland memohon.
" Baiklah jika itu keinginanmu maka aku akan ikut bersamamum" jawabnya
Mereka bersiap siap untuk berangkat dan sampai di pelabuhan mereka langsung menaiki kapal yang akan membawa mereka menuju dermaga dekat pinggir jalan di kota, dan sekaligus untuk disana untuk menaiki helikopter yang membawa mereka ke Spanyol.
" Selamat datang tuan muda." angguk Hiebrt menyapa Erland.
" Diaman Alanaku?"
Pertanyaa pertama yang di lontarlan Erland oada Hiebert dan lelaki itu bungkam karena ragu untuk menjawab pertanyaan Tuannya.
" Diamana Alanaku? bagaimana kabarnya." desak Erland.
" Nona muda Alana sudah pergi meninggalkan Los Angel Tuan muda" jawab Hiebert
" Bagaimana bisa.!" bentak Erlanda yang kembali meradang karena mengetahui wanitanya pergi ke Negara yang asing bagi Kerenza.
" Tenanglah tuan muda, bukankah itu bagus untuk nona muda."
" Bagus dari mana si**an! apa kau tau Alanaku tidak bisa melindungi dirinya bagaimana jika ada yang berniat jahat padanya.!"
Brillo meninju wajah Adam melampiaskan kekesalan di hatinya karena marah saat mendengar berita kepergian kekasih yang sudah sempat menjadi istrinya.
"Dengan seperti itu, tuan bisa fokus pada kesembuhan tuan dan rencana kita mencari tau siapa dalan dari semua ini."
" Tapi alana ku berada jauh dariku."
" Aku akan mengirimkan orang di sana untuk menjadi pengawal serta akan melaporkan semu kegiatan nona muda untukmu."
Erland diam tidak lagi menjawab, dia sibuk berpikir dan tak lama kemudian kembali berkata" tetap awasi Alanaku! "
Erland berkata dan langsung pergi memasuki helikopter dan beristrahat di dalam sana menunggu dirinya sampai di negara tujuan, negara yang akan menjadi tempat untuk dia mengembangkan sayap dan membentuk kekuasaan agar dia nanti bisa membalaskan semua yang mereka Alami.
__ADS_1
Flashback off...
" Lalu kenapa kau tidak datang menjemputku jika kau sudah pulih Erland?" tanya Kerenza lirih.
Dia merasa kecewa karena ternyata kekasihnya masih hidup dan terus mengawasi dirintmya, bahkan menempatkan orang kepercayaanya berada di dekatnya untuk menjamin keselamatannya, tapi kenapa Lelaki ini tidak menjemputnya saja.
Mungkin jika saat saat Brillo sembuh dari perawatanya dia segera menjenput Kerenza maka wanita iti tidak akan hidup dalam dendam seperti sekarang ini.
Dia pasti akan bahagia, sangat bahagia karena bisa bersaman kembali dengan orang terkasihnya.
Tapi kenyataannya pria yang ada di hadapannya ini tidak melakukan hal itu, bahkan saat kembali pun dia harus menyamar jadi orang lain.
" Aku membencimu Erland."
"Brillo. panggil aku Brillo sekarang."
" Aku tidak mau." ketus Kerenza.
Brillo hanya terkekeh melihat wanitanya merajuk seperti itu, Kerenza tidak berubah wanitanya yang dulu tetap sama, hanya saja menjadi lebih dewasa dan berani sekarang.
" Maafkan aku Alana, aku melakukan ini agar kita bisa sampai di titik ini."
Kerenza mengertukan keningnya tidak mengerti maksud dari perkataan Brillo.
" Tapi aku tidak butuh tangguh jika kau ada bersamaku Erland." Bantah Kerenza.
"Brillo! Panggil Aku Brillo sebelum semuanya terungkap." tegas Brillo.
" Ya baiklah, tapi kau tau aku tidak perlu ini semua jika kau ada bersamaku."
" Kita tidak tau siapa lawan kita dan selicik apa dirinya, jika kau tidak seperti ini apa kau akan tau Caroline yang mulai menghianatimu."
Kerenza diam mendengar perkataan Brillo yang ada benarnya, jika saja Brillo menjemputya maka dia tidak akan tau siapa Caroline dan apa kah wanita tua itu masih setia padanya atau tidak
"Apa kau sengaja menunjuk Hiebert untuk mengawalku." tanya Kerenza mengalihkan topik.
"Tentu, karena tidak ada orang yang aku percaya selain dia."
" Bagaimana dengan Gilmax? oh bukan Adam."
" Dia yang membantuku membuat semuanya Angel, dan kalau dia yang mengawasimu maka kau pasti akan mengenalinya dan terbukti saat pesta pembukaan cabang perusahaanku kau dengan cepat mengenali dirinya."
__ADS_1
" Tapi kenapa aku tidak bisa mengungkap gerak gerik Hiebert saat bertenu denganmu."
" Karena dia lebih dulu melacak setiap pergerakamu sayang, jadi saat kau menaruh alat pelacat itu dia sudah tau bahkan letaknya dimana pun dia tau."
" Tapi selama beberapa hari ini GPS itu tetap aktif." bantah Kerenza yang maaih tidak teriman jika selama ini ternyata dia di awasi oleh Hiebert
" Karena Hiebert sengaja membiarkanya dan jika bertemu denganku maka dia akan menonaktifkan alat pelacakmu." jawab Brillo di susul dengan tawa renyah nya.
" Ck, kalian sangat licik." ketus Kerenza.
Brillo semakin tertawa melihat ekspresi Kerenza yang seperti itu, sungguh sangat menggemaskan dan dia sangat merindukan saat saat seperti ini bersama wanitanya.
Kerenza dan Brillo masih berada di dalam kamarnya, mencoba meresapi kenyataan yang baru saja di ketahui.
" Alana my Angel." panggil Brillo lembut san tanganya terangkat mengelus pipi Kerenza dengan lembut dan Kerenza dengan senang hati menikmati sentuhan itu.
" Aku sangat merindukanmu." ucap Brillo dan merengjuh tubuh Kerenza masuk ke dalam pelukannya.
Kerenza membalas pelukan Brillo, dia juga sangat merindukan Erlandnya, cintanya, dan belahan jiwanya.
Mereka terus menghabiskan waktu bersama di sana melepaskan rindu selama tiga tahun berpisah, hingga tidak sadar jika ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan mereka sejak awal hingga sekarang.
Dan berita itu tentu saja cepat sampai di telinga sang tuan yang kemali menggeram marah karena ternyata orang yang sudah mati matian ia habisi tiga tahun yang lalu masih hidup dan kini menjelma menjadi orang terkaya selam tiga tahun ini.
" Kurang ajar...!! jadi dia tenyata masih hidup! tida belum tiada rupanya.!
Asistennya diam tidak menjawab karena memang ini juga menjadi berita mengejutkan bagi dia, karena selama ini tidak lagi mencari tau tentang Erland Hans setelah kejadian pembunuhan saat itu.
" Kau! bagaimana bisa kau tidak tau tentang kabar ini ha! apa saja yang kau kerjakan." bentaknya pada Asistennya.
" Maafkan saya tuan saya tidak menyangkan jika tuan muda Erland masih hidup." jawabnya dengan menunduk merasa bersalah karena kali ini lalai tentang masalah sebesar ini.
"Jangan menyebut namanya si**an..! aku sungguh muak.!"
" Maafkan aku tuan."
" Aku tidak mau tau! kau harus cari cara untuk melenyapkan mereka." titahnya dengan tegas.
" Baik tuan, aku akan menyusun kembali rencana kita."
" Segera selesaikan pekerjaanmu."
__ADS_1
TBC
bantu kasih author hadiah ya readers tercinta๐๐๐