
"Bagaimana?" tanya Rober pada orang yang menjadi perpanjangan tangannya di kediaman Brayen Wate.
"Maafkan saya tuan, saya gagal" jawabnya.
"Dasar bo**h!" umpat Robert "Kau sama selalu tidak bisa di andalkan" lanjutnya.
"Maaf tuan, saya tidak akan gagal untuk lain kali" jawabnya.
"Dasar bo**h! aku tidak mau tau, cari cara untuk melenyapkannya!"
Robert langsung mematikan ponselnya dan membantingnya di laintai, dia sangat marah dan kesal karena lagi lagi harus mendengar kabar kegagalan rencananya.
"Semuanya bo**h! benar benar bo**h!" umatnya "tidak ada yang becus sama sekali!" lanjutnya.
"Sepertinya, kedua wanita itu sengaja di tempatkan disana untuk lebih mengawasi nona Alana tuan"
"Ya kau benar, dan aku yakin itu pasti ulah si Adam sia**n itu!" kesal Robert.
"Bukankah tuan sudah lama tidak bertemu dengan Nona Kerenza?" tanya Alex dengan seringai liciknya.
"Katakan apa rencanmu?"
"Bagaiaman jika kita gunakan cara lama tuan, dan masalah Tuan muda Brillo biarakan Keitato yang menjadi pion kita"
"Berarti aku harus membawakan dia makanan dan memastikan Alana memakan sendiri makanan itu?"
"Jika tuan berkenan membawakannya" jawab Alex santai.
"Kita akan makan malam disana" putus Robert.
"Tuan Gilmax!" seru Elsa memanggil Gilmax yang baru saja tiba di kediaman Kerenza.
"Ikuti aku!" titah Gilamax yang sudah paham akan maksud dari Elsa yang memanggilnya.
Brillo yang mengetahui itu, langsung menyusul karena dia yakin jika ada sesuatu yang sangat penting.
"Ada apa?" tanya Brillo.
Saat ini mereka berada di dalam kamar Gilmax tapi karena merada tidak akan aman, membuat Brillo kembali berkata " jangan bicara disini"
"Ck, tuan selalu saja datang, padahal aku berencana akan mengatakannya nanti setelah urusanku selsai denga Elsa!" decak Gilmax.
"Sudah kau menurut saja! jangan banyak membantah!" titah Brillo yang langsung meninggalkan mereka.
Saat ini mereka sudah berada di ruangan rahasia yang terdapat di kamar Kerenza tapi tidak melewati pintu melalui kamar Kerenza dan Brillo.
"Katakan ada apa!" tegas Brillo.
"Katakan Elsa!" titah Elsa yang melempar pada Elsa.
Elsa meraih benda yang dia simpan di pinggang bagian belakangnya, lalu meletakannya di meja tepat di hadapan Brillo.
Brillo dan Gilmax mengerutkan keningnya, saat Elas tidak menjawab tapi malah menyerahkan benda yang terbungkus dengan kain putih.
"Apa ini?" tanya Brillo mengerutkan keninganya.
"Ini pisau yang di gunakan untuk mencelakai nona muda" jawab Elsa tenang.
__ADS_1
"Apa!"
Brillo sangat terkejut mendangar berita jika istrinya di celakai "Lalu bagaimana keadaan Alana ku" tanya Brillo hendak berdiri tapi terhenti saat medengar jawaban dari Elsa.
"Nona muda baik baik saja tuan muda!" jawab Elsa "untungnya kami dengan cepat datang dan membuag non muda meninggalkan tempat itu.
"Jadi maksudmu Alanaku tidam terluka?"
"Tidak tuan! dan untung saja tidak mengenai noan muda mata pisaunya" lanjut Elsa.
"Kenapa?"
"Pisau ini sudah di masukan racun pembunuh syaraf tuan muda, dan jika mata pisaunya mengenai tengkuk nona muda maka kemungkinan syaraf otak nona uda yang akan lebih dulu terserang."
Brillo mengepalkan kedua tangannya saat mendengar penjelasan Elsa "CCTV bagaiman?"
"Sepertiya CCTV sudah tidak bisa kita andalkan tuan muda, karena selalu di sabotase setiap kali ingin menjalankan rencana, sehingga kami kesusahan mengetahui pelakunya"
"Sepertinya Alana ku semakin tidak aman di dalam rumah ini! aku harus membawanya pergi dari sini!" ucap Brillo dengan kedua tangan terkepal kuat.
"Tidak tuan! jangan lakukan itu!" cegah Gilmax.
"Kenapa!"
Brillo menaikan satu alisnya mendengar Gilmax mencegah keinginannya, dia tidak habis pikir kenapa Asistennya itu melarang dirinya.
"Kita tetap berada disini dan aku akan memastikan pelakunya akan tertangkap"
"Kau pasti memiliki ide licik lagi kan" tebak Brillo.
"Baik tuan, saya pergi!"
"Ingat lewat jalan rahasia dan pastikan kau tidak ketahuan oleh siapa pun!" ucap Brillo memberi peringatan.
"Jelaskan!" titah Brillo setelah Elsa pergi.
"Tuan jangan terburu buru dan tunggu saja hasilnya" Jawab Gilmax asal yang langsung mendapat lemparan pulpen dari Brillo karena merasa kesal.
"Sudah keluar sana!" usir Brillo.
Brillo menyusul pergi meninggalkan ruang rahsia setelah kedua anak buahnya pergi tujuannya saat ini adalah kamar mereka karena ingin mengetahui keadaan istrinya.
"Alana my Anglel, what are you doing?"
Brillo memuluk Kerenza dari belakang, saat ini posisi keduanya berada di balkom menikmati angin malam yang terasa dingin dengan di temani selimut bulu membalut tubuh Kerenza.
"Oh Brillo, apa pekerjaanmu sudah selesai?"
Kerenza mengankat tangannya dan mengusap pipi Brillo dengan lembut yang di balas dengan ciuman di pipinya oleh pria yang sangat di cibtai itu.
"Sudah tapi belum semua" jawab Brillo.
Bibirnya dia benamkan di bahu Kerenza dan mengecupnya karena selimutnya kini bukan lagi hanya menutupi tubuh Kerenza tapi Brillo pun sudah terbalut dengan selimut lembut itu.
"Apa yang akan kau lakukan Brillo?"
"Tentu saja melindungimu" jawabnya dan semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Bukankah aku bisa melindungi diriku sendiri?"
"Tidak! dan kau tidak bisa!" tegas Brillo " kau tau dia sangat licik dan aku tidak bisa ada di sampingmu setiap waktu, maka akan ada beberapa yang mengwalamu dan mungkin salah satunya adalah Elsa"
Kerenza membalikan tubuhnya "wanita bo**h? mereka saja tidak bisa melempar dengan benar dan malah mengenai diriku!" ketus Kerenza.
Brillo terkekeh mendengar perkatann Kerenza, dapat dia simpulkan jika kedua anak buah Gilmax itu tidak memberitahu perihal pisau yang ingin mencelakai Kerenza, dan itu lebih baik.
Tok tok tok
"Ada apa?" tanya Brillo saat mengetahui Caroline ada di depan pintu kamar mereka.
"Oh tuan muda Jokson! aku ingin mengatakan bahwa mertua nona Alana ada di depan" ucap Caroline.
Brillo mengerutkan keningnya, tumben sekali ayahnya itu datang kemari setelah berapa lama menghilang kabarnya
"Baiklah kami akan segera ke sana!"
"Maaf tuan, saya memanggil nona Alana"
"Jaga sikapmu Caroline! atau aku benar benar akan menendangmu keluar dari sini!" tegas Brillo dan langsung menutup pintu kamar dengan keras.
"Siapa yang datang Brillo?"
"Daddy" jawab Brillo dengan singkat.
Kerenza mengerutkan keningnya mendengar jika yang datang adalah Robert Hans mertuanya " Aku tidak enak padanya".
"Kenapa Love? sambut saja dia seperti biasa!" ucap Brillo santai.
"Bagaimana denganmu?"
"Tidak usah pikirkan! ayo kita temui mertuamu itu" ajak Brillo.
"Daddy!" seru Kerenza dan mendekat ke arah Robert.
"Bagaiaman kabarmu girl?"
"I am fine dad! what's up daddy here?"
"Kau tidak suka jika daddy kemari? daddy ingin makan malam denganmu, sudah lama daddy tidak mengunjungimu bukan" ucap Robert "oh Tuan Jokson kau ada disini!" seru Robert pada Brillo.
"Ya tuan Hans, mari kita makan malam saja" ajak Brillo dengan sopan.
"Maaf nona muda, ada paket" ucap Elsa.
Kerenza menagmbil dan membukanya, ternyata paketnya berisi makanan.
"Makanan?" seru mereka.
"Woww, bukankah ini merupakan namanya sebuh kebetulan? daddy datang dan makanan rupanya juga datang! daddy ingin mencobanya" seru Robert.
"Biar saya siapkan nona" pinta Caroline.
"Tidak! saya saja yang hidangkan, leboh baik bibi Caroline membantu melayani tuan Robert"
Elsa langsung pergi tanpa mendengarkan protes dari Caroline, dan beberapa menit kemudian kembali menghidangkan makanan tersebut dan memulai ritual makannya.
__ADS_1