
"Really? dia melakukan itu padamu girl?"
"Yes mom, tapi aku tidak marah, karena aku tau alasannya adalah mommy, Tom, dan Emma"jawab Kerenza.
"Mom musuh kami sungguhlah licik, dia bukan musuh biasa yang hanya bisa di tangkap dengan adalah kekuatan, tapi kami harus mempersiapkan rencana yang matang dan apa mom tau kami melakukan operasi pada Catline itu pun harus sangat hati hati, kami harus tetap mengaktifkan penyadapnya dan para dokterpun kami larang keras mengeluarkan suara saat bekerja di dalam" papa Kerenza.
Cloe menutup mulutnya dengan kedua tangannya tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, sebegit liciknya kah musuh itu dan sebegitu pandainya kah dia dalam menafsirkan apa yang terjadi kedepan sehingga dia sudah mempersiapkan dir jauh hari.
"Girl, kalian harus bisa menangkapnya. Mommy tidak mau jika kau terluka mommy tidak akan bisa menerima hal itu" cemas Cloe.
"Tenang saka mom, aku tidak akan terluka lagi dan aku minta mommy agar jangan oernah keluar sari rumah apapun kondisi dan alasanya jangan pernah keluar dari sini, musuh masih berkeliaran mencari kelemahan kami mom".pinta Kerenza.
"Tentu, mommy tidak akan membuat kalian susah apa lagi celaka, mommy akan etap disini dan jika mom butuh sesuatu mommy boleh minta mereka?" ucap Cloe di sertai pertanyaaa.
"Tentu saja boleh, mereka bekerja untukmu juga" jawab Kerenza.
Senyum terbit di sudut bibir Cloe, kemudian tangannya terulur membelai pipi Kerenza yang ia tampar tadi, "maafkan mommy nak" lirih Cloe.
"No problem mom, aku tidak masalah" jawab Kerenza.
"Tapi aku bermasalah Love!" sergah Brillo yanh sejak tadi tidak bisa menerima istrinya di tampar oleh orang lain walaupun Cloe adalah ibu angkat Kerenza tapi tetap saja Brillo tidak bisa menerima hal itu.
Kerenza yang mendengar perkataan suaminya mendelik sebal, sementara Cloe kembali tersadar jika ada satu hal lagi yang belum terselesaikam dan dia kembali menatap Kerenza dengan tajam tanpa menghiraukan Brillo sedangkan Kerenza yang melihat tatapan ibu angkatnya kembali menelan ludahnya merasakan aura ibunya kali ini berbesa.
"Ada apa mom? kenapa menatapku seperti itu"
"Bukankah kau bilang kau masih sangat mencintai suamimu, lalu bagaimana bisa ada pira ini dalam rumahmu dan menjadi kekasihmu"
"Hei apa maksudmu! pesonaku tidak mungkin bisa di tolak!" sentak Brillo yang lebih dulu menjawab.
"Apa kau memilikk pesona?" cibir Cloe.
"Hei nyonya! jangan meragukan pesonaku jika kau tidak mau menonton adegan live ku bersama istriku!"
"Istri?" beo Cloe.
Kerenza menarik nafasnya dalam, sepertinya semua orang sudah saatnya tau siapa Brillo yang sebenarnya, dia juga tidak mau jika dikatakan wanita yang tidak pada pendiran yang dengan mudah mencari pengganti Erland sementara dirinya mati matian di negara orang untuk membentuk kekuasaan agar bisa membalaskan dendam.
"Apa semua sudah berkunpul?" tanya Kerenza.
"Apa ini sudah waktunya love?" tanya Brillo.
Sebenarnya di senang, bahkam sejak dulu ingin sekali mengatakan identitas dirinya pada semuanya hanya saja Kerenza melarang dirinya karena feelingnya tentang penghianat benar adanya, dan kini penghianat itu sudah di tangani jadi tidak ada alasan lagi bagi mereka tidak mengatakan identitas dirinya walau musuh belum di tangkal tapi itu tidak lah masalah.
"Panggilkan semuanya!" titah Kerenza.
Brillo berpindah tempat kini berada di samping Kerenza dan merangkul bahu wanita itu dengan mesra di hadapan semua orang termasuk Cloe yang kesal karena putrinya di peluk oleh lelaki lain di depan matanya.
"Bisa singkirkan tanganmu dari bahu putriku?" ketus Cloe.
"Dan dia adalah istriku, jadi tidak masalah jika aku bermesraan dengan nya nyonya" jawab Brillo yang tidak mau kalah.
"Bisa hentikan Brillo!" sentak Kerenza.
__ADS_1
"Baiklah Love, aku akan menghentikannya" jawab Brillo kemudian membenamkan wajanya di bahu Kerenza yang terbuka.
Semua orang berkumpul termasuk Anna, Emma, dan Tom pun ada disana, mungkin untuk sebagian pengikut Brillo tidak akan kaget tapi dia yakin jika sebagian kecil dari mereka akan ada yang terkejut tidak percaya dengan apa yang akan mereka katakan nanti.
"Baiklah langsung saja aku ingin mengatakan jika Brillo Jokson adalah suamimu Erland Hans yang dulu di anggap semua orang bahkan diriku pun menganggap jika dia sudah tiada tapi ternyata tidak, dia kembali bersamaan dengan aku yang kembali di sini!" jawab Kerenza dengan tegas dan lantang.
Semua terdiam, ada yang diam karena memang tidak perlu menanggapi serius karena sebenarnya mereka sudah tau tapi ada sebagian dari mereka bahkan sangat syok mendengar hal itu.
"Kau serius dia adalah Erland suamimu yabg kau bilang tiada di bari pernikahanmu?" tanya Cloe ingin kembali memastikan.
"Yes mom, dialah orangnya! jadi mom tidak perlu berpikir jika aku akan menerima dengan mudah orang lain mengisi hidupkan bahkan tinggal dan tidur di tempat yang sama denganku" jawab Kerenza.
"Mommy sudah memikirkan itu, makanya mommy mempertanyakam hal ini padamu karena mommy tau seperti apa perasaanmu nak" jawab Cloe.
"Terimakasih mom"
Sementara dua orang yang berbeda jenis kelamain itu larut dalam dunia masing masing, perempuan masih memikirkan semua pengakuan nona mudanya sementara si pria terus menatap ke arah kekasihnya yang masih tidak bergeming apa lagi mempertannyakan keberadaanya.
"Kenapa dia tidak mempertanyakan keberadaanku? sebenarnya dia mendengar atau tidak sih yang di katakan nona muda! batin Gilmax dengan gerutuannya.
Gilmax asyik dengan kekesalan dalam hatinya, tanpa menyadari jika kini ada mata yang sedang memandang ke arahnya bahkan langkah itu mulai mendekatinya dan akhirnya Gilmax terkejut sendiri mendapati pelukan dari seseorang yang tak lain adalah wanitanya Anna.
"Adam!"
"Anna"
Tangis Anna seketika pecah mendegar pria di hadapannya ini menyamput ucapannya dengan memanggil namanya, dia tidak habis pikir jika akhirnya kini harapannya terhadap pria itu jadi nyata, Gilmax adalag prianya, pria yang sangat dia cintau pun sebaliknya.
"Bisa katakan bagaimana kalian bisa lolos dari maut" tanya Cloe yang ingin tau bagaimana cara kedua pria itu lolos dari maut.
"Jadi kalian di selamatkan oleh wanita lansia?" tanya Anna.
"Ya, dan wanita itu sudah menghembuskan nafas terakhirnya satu tahun yang lalu dia Spanyol" jawab Gilmax.
"Sayang sekali aku belum mengucapkan terimakasih padanya karena sudah menyelamatkan suamiku" ucap Kerenza.
"Tidak masalah, kita bisa berkunjung ke makamnya lain waktu" jawab Brillo.
"Baiklah jika seperti itu"
****
Jika masalah yang di hadapi oleh Kerenza dan suaminya sudah hampir menemukan titik terang dan bisa mengatasi masalah penghianat tapi berbeda dengan musuh yang saat ini sangat marah dan barang barang dalam ruangannya menjadi sasaran amarahnya, semua hancur tanpa ada satu pun yang bida di perbaiki lagi dari barang barang itu.
Robert marah, sangat marah saat mendengar kabar bahwa sandranya sudah di bebaskan dan semia pengawalnya habis tanpa sisa disana dengan bom yang membakar habis mayat mayat anak buahnya.
"Kurang ajar....! berani sekali mereka menghancurkan kediamanku disana dan menghabisi anka buahku!" teriakn Robert.
"Maafkan saya tuan besar, mohon ampuni saya!" ucap Alex dan bersimpuh di hadapan Robert.
"Jangan katakan jika kau yang menjadi awal semua rencanaku berantakan!" sentaknya.
"Ampun tuan, tapi saya mengatakan pada wanita itu keberadaan keluarganya" ucap Alex yang tetal menunduk bersalah.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan Alex!"
"Ampuni saya tuan, saya tidak tau kalau ternyata dia licik dan menipuku"
"Kau! bagiaman bisa kau tertipu dengan wanita ingusan itu, bagaimaja bisa kau mengatakan padanya jika kau menyadra keluarganya di sana!" bentak Robert pada Alex yang sudah mengakui kesalahannya jika dia.
"Saya berpikir, penyadap itu akan membuat kita mengetahui jika dia berani mengadu"
"Dasar bo**h..! apa kau tidak menggunakan otakmu? atau sekarang otakmu tidak bisa lagi di fungsikan! kau tau jika kau bisa licik maka orang lain pun bisa licik, dan jika kau bisa menggunakan penyadap di tubuh seseorang maka orang lain pun bisa menggunakannya dan akhirnya kita terjebak sendiri dan termakan jebakan sendiri Alex!"
"Ampun tuan besar"
"Tidak! aku tidak bisa mengampunimu begitu saja, kau harus mendapatkan hukumanmu!"
"Aku siap tuan, asal kau mau memafkanku"
"Ck aku ingin kau lenyap dari muka bumi ini!".
"Jangan lakukan itu tuan besar, jika kau lakukan maka kau juga melenyapkan kesetiaanku" ucap Alex.
"Kau bahkan secara tidak langsung sudah menghianatiku"
"Tidak tuan, aku tidak menghianatimu, aku berpikir jika aku mengatakannya maka dia akan membantu kita merayu wanita pemberani itu agar bisa berama dengan kita menyingkirkan tuan dan nona muda"
"Kenyataanya adalah dia menipumu Alex.!"
"Saya akan mencari cara untuk kembali memberi penyerangan tuan" ucap Alex
"Tuan besar...! maaf tuan besar ada informasi penting..!" ucap salah satu anggotanya yang langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Robert.
"Katakan dan jangan membuang waktuku jika itu hanya informasi sampah!"
"Carolien sudah tiada! dia di tangkap satu hari yang lalu dan kini mayatnya pun tidak di temukan" lapor pengawal itu.
"Aku sudah menduganya" gumam Robert.
"Apa kami akan mencari mayatnya tuan besar?"
"Tidak perlu lakukan itu, karena sudah pasti mayatnya tidak akan kalian temukan karena susah di lahap habis oleh binatang buas hahaha...!" jawab Robert dengan tawa puasnya.
"Biklah tuan besar, saya permisi" ucap pengawal itu.
"Apa menurutmu wanita tua itu akan mengatakan jika aku yang menjadi dalangnya?"
"Tidak tuan besar, karena aku yakin dia pasti mengharapkan tuan menghabisi keturunan Brayen Wate" jawab Alex.
"Jawaban yang sangat aku inginkan, dia tidak akan mengatakan jika aku raja dari permainan ini, karena arwahnya tidak akan bisa tenang jika keturunan Brayen Wate tidak bersamanya di dalam neraka hahaha....!"
"Susun rencana baru, aku ingin segera mengakhiri permainan ini!" ucap Robert dengan aura gelapnya setelah selesai terbahak.
.
.
__ADS_1
TBC