BERMULA DIHARI PERNIKAHAN

BERMULA DIHARI PERNIKAHAN
Chapter 50


__ADS_3

Brillo kini berada di sebuah restoran mewah menunggu model papan atas yang menjadi sarana dirinya mencari informasi tentang pria yang sudah mengacaukan pernikahannya dengan Kerenza tiga tahun silam.


"Selamat malam Tuan Jokson" sapa Dinel yang baru saja tiba " maaf sudah membuatmu menunggu" lanjutnya dengan ekspersi rasa bersalah.


"Tidak masalah, aku juga belum lama tiba" jawab Brillo tak kalah lembutnya.


"Kau menyediakan ini semua untukki tuan Jokson?" tanya Dinel dengan mata yang mengedar menyusuri ruang restoran tempat mereka saat ini.


"Tentu saja, bukan kah aku pernah mengatakan jika kau pantas mendapatkan ini"


"Oh..Aku sungguh tersanjung tuan Jokson, aku harap ini bukan sebuah harapan kosong kau berikan"


"Tenti saja bukan, aku pasti akan memberikanmu semua yang tidak pernah di dapatkan oleh wanita manapun"


Brilli memberi senyum terbaiknya pada Dinel, bahkan tatapan menuja pun dia beriakn untuk meyakinkan wanita yang ada di hadapannya ini.


"Really?"


"Yes, and i promise" jawab Brillo " tentu saja aku akan meberikan sesutau yang berkesan hingga kau tidak akan pernah melupakannya hingga hari terakhir kau menghirup udara di duania ini" lanjut Brillo dengan tatapan yang sudah berkilat amarah.


"Baiklah aku menunggu waktu itu"


"Tunggulah hari itu tiba! so mari nikmati makan malam ini" ajak Brillo.


Mereka makan dalam diam, dan Dinel sangat menikmati makanannya tanpa curiga jika Brillo sudah mencampurkan obat didalamnya untuk memudahkan dirinya mengibterogasi wanita itu.


Baru setengah makanan yang habis, tapi Dinel sudah merasa kepanasan pada tubuhnya, hawa tubunya tiba tiba saja naik dan dia merasa bergairah saat memandang Brillo.


Ya. Brillo mencampurkan obat perangsang dalam minuman Dinel, karena dia sangat yakin jika dalam keadaaan mendesak maka Dinel akan membuka mulutnya.


"Tuan Jokson, tubuhku terasa panas" lirih Dinel yang mulai menggeliat kesana kemari dengab gelisah.


"Ada apa Nona Xiau?" tanya Brillo pura pura tidak tau.


"Tubuhku panas, dan aku membutuhkanmu" ucap Dinel yang langsung menyambar tubuh Brillo dengan ganas.


Dengan cepat pula Brillo menghindar dari serangan Dinel, dia tidak ingin disentuh oleh wanita itu.


"Apa yang kau lakukan nona Xiau!" teriak Brillo.


"Aku membutuhkanmu tuan Jokson"


"Berhenti dan mari buat kesepakatan"


Dinel berhenti di tempatnya tapi tetapi saja di mengeliat gelisah "Katakan tuan Jokson, aku sudah tidak tahan"


"Mari kita ke hotel"


Brillo memberi kode pada anak buahnya untuk membawa Dinel di hotel yang sudah mereka sediakan.

__ADS_1


"Tuan Jokson, mereka mau membawaku kemana?"


Dinel memcoba memberontak ditengah tubuhnya yang kian memanas, dia hanya menginginkan Brillo Jokson dan bukan yang lain.


"Tenanglah mereka membantuku membawamu ke hotel karena kita akan bermain disana"


"Sungguh!"


"Ya, dan kau menurutlah jika kau mau kita bermain!" tegas Brillo dan langsung meninggalkan mereka menuju mobilnya dan mengemudikannya seorang diri.


Dia tidak sudi satu mobil dengan ja**ng itu, apa lagi jika sampai mereka bermain, lebih baik setelah ini dia meremas tubuh istrinya jika urusannya selesai.


"Bawa dia masuk!" titah Brillo.


"Tuan Jokson! kenapa mereka menyeretku" teriak Dinel.


Brillo menuju sofa yang ada di dalam kamar itu, menyilangkan kakinya dengan angkuh dan kedua tangannya dia silangkan didepan dada.


"Katakan kau mau bersepakat denganku!"


Brillo bertanya dengan dinginnya, wajahnya datar tanpa ekspresi melihat tingkah wanita itu yang terus saja mengguling dan sesekali berubah posisi.


"Katakan tuan Jokson aku sudah tidak tahan ahhhh..!" desah Dinel.


"Kau pasti mengenal Erland Hans bukan?"


"Ya, aku mengenalnya dan dia sudah tiada tiga tahun yang lalu" jawab Dinel yang tidak pikir panjang lagi.


"Tidak! aku tidak ikut."


meski Dinel sudah di kuasai oleh gairah tapi kesadaran dirinya masih bisa dia kendalikan untuk tidak membongkar kejahatannya yang dulu dia lakukan.


"Jangan berbohong!" bentak Brillo "Kalian! lakukan sekarang!" titahnya.


Anak buanya melucuti pakaina Dinel, dan membuat gadis itu tersiksa karena gairah yang semakin tidak bisa di kendalikan.


Sementara Brillo mengalihkan pandangannya ke araha lain, dia tidak sudi melihat tubuh telanjang Dinel, karena baginya hanya tubuh Kerenza yang menggiurkan dirinya.


"Ahhhhh.....! aki sudah tidak tahan..!" teriak Dinel.


"Tolong aku... aku butuh pelepasan!"


"Maka katakan jika kau juga ikut dalam pelenyapan itu!"


"Iy iya aku ikut, tapi aku hanya di suruh..ahhh!"


Dinel semakin tidak karuan saat di beri harapan kosong oleh para anak buah Brillo, tubuhnya hanya di ransang sana sini tanpa berniat untuk memberinya pelepasan.


Bahkan saat dia ingin meraih salah satu dia natara mereka untuk mejadikan dia sebagai pelampiasan, dengan cepat tanganya dicekal dan mereka terus saja di mempermaikannya.

__ADS_1


"Ahhhh..."


Dinel terus saja berteriak kegerahan, dan juga frustasi karena tak kunjung ada yang memenuhi dan meredam gairahnya.


"Siapa yang sudah menyuruhmu!"


Kali ini Brillo mendekat dan menjepit ke dua pipi Dinel dengan tatapan yang sudah mendelik tajam pada Dinel.


"Tidak! aku tidak bisa mengatakannya"


"TIdak masalah! dan Kalian lanjukan lagi!"


Mereka kembali merangsang tubuh Dinel bahkan kali ini ada yang memaksukan salah satu jarinya ke dalan inti Dinel yang membuat gadis itu mengerang nikmat sekaligus frustasi.


"Oh ahhh aku bisa gila! aku sudah tidak tahan!" umpat Dinel.


"Baiklah aku akan mengatakan siapa yang sudah menyuruhku tapi aku mohon lepaskan aku dari pengaruh ini" kata Dinel yang sudah tidak kuasa lagi.


"Katakan.!"


"Dia adalah Ro....Akhhhh!"


Belum sempat Dinel mengatakan siapa yang mengatakan siapa, tapi Dinel sudah lebih dulu memuntahkan darah segar dari mulutnya dan membuat dirinya kejang di atas ranjang.


"Tuan! dia sekarat!" teriak salah satu pengawalnya.


Brillo langsung bergegas mendejati ranjang dan dia bisa melihat keadaan Dinel yang mengenaskan.


"****!" umpat Brillo "cepat bawa dia ke rumah sakit! aku belum mendapatkan insformasi!" teriak Brillo.


Dia pergi begitu saja meninggalkam anak buahnya yang sedang memindahkan tubuh Dinel untuk di bawa ke rumah sakit.


Brillo menguhubgungi Gilmax dan menceritakan semua sekaligus menyuruh asistennya mendatangkan dokter spesialis, dia curiga jika apa yang di alamai Dinel adalah di sengaja.


"Segera siapkan ruang pemeriksaan! aku harus mencari tau sesuatu!" titah Brillo dan lngsung memutus panggilannya.


Semua sibuk menangani Dinel, bahkan Brilli pun menunggu hasil yang akan mengungkap apa yang terjadi pada target mereka


Sementara di tempat lain, tawa kemenangan bergema memenuhi seluruh ruangan karena sudah berhasil membungkam mulut pionnya untuk tidak membongkar siapa dia.


"Hahahaha..! apa dia pikir aku bo**h! aku tidak mungkin membiarkan mereka menjalankan rencanaku jika aku tidak lebih dulu menyandra kehidupan mereka!"


"Mereka hanya pemuda yang yang masih belum berpengalaman dalam menghadapi anda tuan" jawab Asistennya.


"Apa kau keberatan karena aku membunuh putrimu yang bod*h itu Alex Xiau!"


Dia bertanya pada Asistennya yang ternyata adalah Alex Xiau tentang bagaimana perasaan pria itu karena harus menumbalkan putrinya.


Tatatapannya menajam menatapa Alex, wajahnya datar tanpa ekpresi, tapi kedua tangannya mengepal kuat, ingin tau perasaan asistennya lebih pada putrinya atau pada pengabdian untuk dirinya.

__ADS_1


" Tentu saja pengabdianku hanya untukmu tuan Robert Hans!" ucap Alex lantang.


TBC


__ADS_2