
Kerenza kembali ke kantornya dan ternyata disana sudah ada Brillo yang duduk santai di sofa yang terdapat disana menunggu kepulangan Kerenza sesuai informasi yang di sampaikan oleh Hiebert padanya.
" Kau! bagaimana bisa kau ada disini."
Kerenza terkejut mendapati Brillo yang sudah berada di ruangannya entah siapa yang sudah mengijinkannya masuk.
" Cristabel...Cristabell."
Kerenza berteriak memanggil sekretaris yang sudah lama mengabdi disana untuk menanyakan kenapa Brillo di beri ijin untuk memasuki ruangannya.
" Iya nona muda, saya ada disini." jawab Criatabel dengan tergopoh gopoh.
" Bagaimana bisa tuan Jokson ada diruangan saya."
Kerenza bertanya dengan nada dinginya di sertai tatapannya yang menusuk menghunus tepat di wanting menurut Cristabel dan hal itu membuat Cristabel menelan ludahnya kepayahan.
" Maafka saya nona muda, tapi saya pikir karena tuan Jokson adalah kekasih anda jadi dia bisa masuk tanpa harus ijin darimu dan lagi tuan Jokson mengatakan kalau ini adalah perintah nona muda yang menyuruhnya untuk istrahat dan menunggu didalam saja." jawab Cristabel dengan wajah yang sudah pucat pasi.
" Apa.! perintahku."
Kerenza mengalihkan pandanganya ke arah Brilli dengan tatapan tajamnya dia menatap pria yang sudah berstatus kekasihnya itu " Kau mengatakan ini perkataanku tuan Jokson."
Brillo hanya tersenyum menanggapi Tatapan Kerenza yang seakan ingin menelannya hidup hidup, menurutnya dia sudah biasa dan lahi dia percaya jika itu bukanlah sika Alana, itu hanya sisi luar yang ia tunjukan agar orang lain tidak menganngap remeh dirinya.
" Oh love come on! Jangan menatapku dengan mata indahmu itu. Kau tau tatapanmu bukan membuatku takut tapi justru membuatku sangat mabuk dan terbuai dengan mata tajammu itu."
Brillo berkata sambil terkekeh, di tambah wajah Alana yang kesal medengar tanggapannya. " Kau sangat menggaskan sayang dalan keadaan apa pun dan akan lebih menggemaskan lagi mungkin jika kau tidak memakai pakaian." lanjut Brillo yang mendapat lemparan vas bumga dari Kerenza yang untungnya dengan cepat Brillo menangkis dan bahkan mengakap vas itu dan meletakannya di atas meja.
" Dasar Pria gi*a." umpat Kerenza.
" Yes my love. Aku gila, dan kau karena apa? itu karena dirimu." ucap Brillo dengan mengibaskan jarinya mengusir Cristabel.
" Hei, sini kau! aku belum selesai bicara." teriak Kerenza.
" Sudahlah love, kau jangan marah padanya, aku yang salah karena memaksa masuk dengan alibi sebagai kekasihmu." kata Brilli yang langsung memeluk pinggang Kerenza
__ADS_1
" Lepasakn Brillo."
Kerenza berusaha memberontak melepasakan diri dari rangkulan Brilllo tapi semua sia sia karena Brillo benar benar erat memeluk pinggangnya.
" Tenanglah love jangan bergerak. Dan kau keluarlah biar aku yang menenangkan macan garang ini." ucap Brillo yang langsung me dapatakn sikutan keras dari Kerenza.
" Ouhh ****." umpat Brillo
Kerenza akhirnya berhasil melepaskan diri, senyum kepuasan terbit di bibirnya " Ini macan garang yang kau sebut tuan Jokson." ucap Kerenza yang berjalan ingin menuju kursi kebesarannya tapi lagi lagi Brillo menarik lengannya dan dengan sekali sentakan Kerenza sudah menimpa tubuh Brillo dan dia berada dalam pelukan Brillo.
" Biarkan seperti ini dulu love." pinta Brillo saat Kerenza ingin melepaskan diri lagi.
Akhrinya Kerenza menurut dan dia diam menikmati pelukan Brillo yang rupanya terasa hangat dia rasakan, degupan jantungnya tiba tiba saja terpompa dengan kencang, wajahnya merona saat Brillo menatapnya dengan lekat dan mengelus pipinya dengan lembut.
" Kau sangat cantik love, dan itu membuat ku benar benar tidak bisa berpaling darimu."
Brillo berkata dengan sangat lembut tepat di depan wajah Kerenz dan hembusan nafasnya sangat terasa menyentuh permukaan kulit wajahnya.
Kerenza memejamkan matanya meresapi belaian dan kehangatan nafas Brillo yang membuar dia sama saja memberi kesempatan pada Brillo untuk melakukan hal yang lebih.
Kerenza yang merasa terkejut dengan sikap Brillo semakin geram karena Brillo yang tidak mau melepaskan dirinya dan bahkan semakin gencar mel**at bibirnya walau tidak ada balasan dari Kerenza.
Brillo akhirnya melepaskan pelukannya da membenamkan wajah Kerenza di lehernya, memeluk dan tidak memberi kesempatan bagi Kerenza untuk protes.
" Biarkan seperti ini dulu love, aku sudah sangat lama menantikan momen yang seperti ini."
" Sudah lama." ulang Kerenza di balik leher Brillo yang mengerang saat hembusan nafas kerenza menyentuh lehernya."
" ****" umpat Brillo, " Jangan bicara Love, aku bisa kehilangan kendali." kata Brillo
" Hei apa maksudmu."
Kerenza berteriak dan memaksa untuk melepaskan diri dari pelukan Brillo, dia butuh penjelasan dari perkataan Brillo.
Brillo membiarkan Kerenza mengangkat wajahnya tapi tidak melepasakan rangkulannya di pinggang Kerenza " Ada apa Love?" tanya Brillo pura pura tidak mengerti.
__ADS_1
" Apa maksudmu mengatakan sudah lama menantikan moment ini? kita bahkan barubsaja mengenal satu sama lain belum genap satu bulan."
" Ya maksudku memang aku sudah menantikan ini sejak lama." jawabnya santai.
" Hei kita bertemu belumlah lama! siapa kau sebenarnya." Kerenza menatap Billo dengn sorot mata penuh selidik tapi Brillo sama sekali tidak membiarkan Kerenza mencari tau hal itu.
" Aku tau itu dan keinginanku ini sejak kita pertama bertemu."
" Ck, sudahlah, kau sangat menyebalkan." ketus Kerenza.
Sedangkan Brillo hanya terkekeh melihat reaksi Kerenza. " Belum waktunya sayang belum waktunya." batin Kerenza memandang wajah Kerenza yang di tekuk.
Cup
Brillo kembali mengecup bibir Kerenza, hanga kecupan bukan seperti yang tadi. " Bekerjalah Love dan aku akan menemanimu."
" Apa kau tidak punya pekerjaan? seorang CEO ternama menganggur dan hanya melakukan pekerjaan menemani kekasihnya." ejek Kerenza.
Brillo terkekeh bukan karena ejekan Kerenza melainkan kata kekasih yang di sematkan Kerenza untuknya, bukankah artinya dia sudah di akui oleh wanitanya sekarang? sungguh ini membuat Brillo sangat senang dan tinngal sebentar lagi dia akan bisa mengambil seluruh hati wanita itu kembali.
" Jadi kau sudah mengakuinya love kalau kita adalah sepasang kekasih.' Brillo menggoda Kerenza dengan sebelah alis terangkat ke atas.
Mendangar hal itu Kerenza menjadi salah tingkah, malu bercampur bahkan kini wajahnya sudah memerah karena kegugupannya yang kemakan omongan sendiri.
" Apa sih. Bukankah kau selalu yang mengatakan jika aku kekasihmu? jadi aku hanya mengikuti permainanmu saja." elak Kerenza.
" Kau benar, aku yang selalu mengatakan itu dan aku senang karena kau menerima baik diriku dan mengakui juga sebagai kekasihmu."
" Ck, percaya diri sekali kau ini."
Kerenza kembali menyibukan dirinya untuk memeriksa laporannya, sebenarnya dia melakukan itu hanya karena agar Brillo tidak mengetahui kalau saat ini wajahnya sudah sangat panas dan yang pastinya memerah.
Sementara Brillo hanya tersenyum simpul melihat tingkah Kerenza, bukan dia tidak tau kalau gadis yang didepannya ini sedang menghindarinya, tapi dia biarkan saja karena tidak mau jika nanti akan berujung perdebatan yang membuat Kerenza kembali tidak menyukinya lagi.
TBC
__ADS_1
LIKE, KOMENT, BERI HADIAH untuk NOVEL author ya semua 🙏👍