
Catline berada di dalam kamarnya dengan pemikiran yang berkecamuk, sungguh sebenarnya dia tidak ingin melakukan itu tapi keadaan memaksakan dirinya.
"Maafkan aku Keren, aku harus melakukan ini padamu" gumam Catline dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Aku harap kelak aku bisa memafkan semua kesalahan yang sangat terpaksa aku lakukan ini, aku harap kau tidak kecewa terhadapku" gumamnya ditengah tangisnya.
Catline terus menangis tanpa menyadari jika ada orang lain yang mendengar semua yang ia katakan.
Tetapi orang itu hanya memilih diam dan memandang tepat di arah Catline, raut wajahnya tidak bisa di tebak.
Terus berada disana hingga beberapa waktu dan kemudian memutuskan untuk pergi dari sana dan menunggu apa yang akan di lakukan Catlien.
Kali ini dia akan terus mengawasi gerak gerik wanita itu, agar kebingungannya terjawabkan dan dia juga bisa tau apa yang akan dia lakukan, membela atau menghakimi Catline nantinya.
"Siapa sebenarnya musuh Tuan muda Brillo,? kenapa dia sangat mudah menguasai orang orang yang mengabdi pada Kerenza?" gumamnya yang terus berada tidak jauh dari kamar Catline tapi tersembunyi untuk mengawasi Catline.
Lama dia berada disana tapi belum ada pergerakan yang mencurigakan dari Catline bahkan wanita itu tidak keluar dari dalam karnya.
Wantu sudah menujuka larut malam, dan sampai kini Catline belum saja muncul dan hal itu membuta orang itu mengumpat marah karena penyelidikannya tidak membuahakan hasil.
Akhirnya dia memutuskan pergi dari sana menuju kamarnya untuk beristrahat dantidur dengan nyenyak mungkin.
Sementara Catline baru saja keluar dari dalam kamar, dia sengaja baru keluar karena dia tau ada yang, mengawasinya.
Informasi itu dia dapat dari Caroline yang menyuruhya untuk tidak keluar karena ada yang sedang mengawasinya.
Akhirnya Catlien menurut dan menunggu semua orang benar benar tertidur dan barulah dia beraksi.
Catline keluar dengan penuh perlahan, berjalan mengendap melewati setiap ruang, sesekali ia mengedarkan pandanganya untuk memastikan keadaan sekitarnya.
Terus berjalan, dan berjalan menuju garasi mobil tempat kendaraan mereka terparkir.
Kali ini Catline hanya menuruti perintah, dia akan memutus rem mobil Kerenza atau Brillo, dan masalah sisanya dia tidak mau tau lagi.
Catline mulai mengerjakan pekerjaanya, dia lebih dulu menghampiri mobil Brillo Jokson, selesai dengan itu kini berganti memutus rem mobil Kerenza.
Catline sudah selesai dan membereskan beberapa alatnya dan dia akan pergi dari sana secepatnya agar tidak ada yang melihatnya.
"Hei siapa kau..! Apa yang kau lakukan." teriak seseorang.
Catline baru saja hendak keluar dari sana tapi suara teriakan seseorang membuatnya sangat terkejut, dengan cepat dia menggunkan penutup wajahnya dan berlari menuju halaman untuk keluar melalui gerbang.
__ADS_1
Catline tidak mau mengambil resiko jika dia laru dan memasuki rumah, itu sama artinya dia mengantar dirinya sendiri untuk di adili oleh Kerenza.
Dan memang rencana ini sudah di susun matang oleh Caroline cara dia melarikan diri jika ketahuan.
Catline terus saja berlari dan kini ia sedang berusaha untuk melewati gerbang yang menjulang tinggi itu.
Catline sudah ada disana, dan berusaha untuk mencapai tanah di luar pagar, tapi ternyata ada seseorang yang sudah menunggunya disana dan memberi punggunya sebagai alat pijakan Catline.
Catline sangat terkejut melihat ada orang yang sudah stay menunggunya disana, yang artinya rencananya ini sudah ada yang ketahui.
Catline terdiam tidak lagi melanjutak usahanya untuk turun, dia bingung dan menerka nerka siapa gerangan orang yang dengan senang hati mau menolongnya, apakah dia juga orang yang sudah disiapkan oleh Caroline? itulah yang ada dalam pikiran Catline saat ini.
"Jangan diam saja, cepat turun jika kau tidak mau tertangkap" ucap Seseorang itu.
Catline kembali terpaku mendengar suara yang tidak asing di pendengarannya, dia merasa sangat mengenalinya, tapi tidak mungkin jika orang ini adalah yang ada dalam pikirannya karena hanya dia dan Caroline yang tau rencana serta jalan yang harus dia ambil jika ketahuan seperti ini.
" Hei tunggu..!" teriak penjaga yang masih berusaha meminta bantuan untuk menangkap Catline.
Catline sangat panik karena penjaga semakin dekat dengannya.
"Ayo tunggu apa lagi, jangan sampai kau tertangkap" Seru pria itu.
Tanpa pikir panjang Catline langsung melompat dan menjadikan punggung pria itu sebagai alat dia memijak untuk sampai dengan sempurna kakinya memijak tanah.
"Tunggu!" seru Catlien saat melihat pria itu ingin pergi meninggalkannya.
Tidak mau lagi membuang waktu pria itu lantas menarik tangan Catline dan membawanya lari menuju jalan rahasia yang bisa membawa Catline masuk ke dalam rumah tanpa di ketahui oleh orang lain.
" Cepat kau pergi sebelum ada yang tau jalan rahasia ini" ucap Pria itu setelah mereka samapi pada jalan sempit yang sama sekali tidak terlihat jika itu adalah menuju suatu tempat.
Catlien terdiam, matanya masih fokus memperhatikan gerak pria yang ada di hadapannya ini, memperhatikan dengan teliti postur tubuh dan terlebih mata pria yang menurutnya sering ia lihat.
"Tunggu!" seru Catline yang melihat lagi lagi pria itu hendak meninggalkannya.
"Ada apa?"
" Siapa kau sebenarnya?"
"Aku? anggap saja aku adalah orang yang kebetulan datang menyelamatkanmu dari situasi itu" jawabnya tenang tanpa melihat lawan bicaranya.
"Tapi aku merasa jika kau sudah menungguku disana" ucap Catlien.
__ADS_1
Catline mendekat dan perlahan tangannya memutar tubuh pria itu hingga mereka saling berhadapab dengan sempurna.
Tangan Catline terulur perlahan ingin membuka penutup wajah pria itu, tapi dengan cepat pria itu memalingkan wajahnya dan berkata
"Cepat pergi sebelum orang curiga jika kau tidak ada di kamarmu" ucapnya dan langsung pergi meninggalkan Catline yang terus memanggil dirinya.
Sementara di halaman rumah Kerenza, kehebohan masih terjadi bahkaa kini Hebert, Gilmax, Kerenza dan Brillo yang sudah tertidur lelap karena kelelahan pun terbangun dan ikut bergabung berasama pengawal mencari keberadaan pelakunya.
"Kalian sudah menemukan siapa dia?" tanya Kerenza setelah para pengawalnya kembali berkumpul.
" Tidak nona muda, dia cepat sekali menghilang" Jawab salah seorang dari mereka.
"Ada CCTV sayang?" tanya Brillo.
"Mattew!" teriak Kerenza.
"CCTV nya tidak memperlihatkan gambar siapa pun nona, dari pukuk sepuluh hingga kini" jawab Mattew yang terus memperhatikan tabletnya.
"Bagaimana mungkin!" bentak Brillo.
"Tapi ini benar tuan muda, tidak ada siapa pun yang masuk atau pun keluar sejak jam sepuluh malam" jawab Mattew.
Hiebert mendekat dan mengamati CCTV yang terlihat mencurigakan, CCTVnya tidak bergerak dan hanya fakum pada satu objek yang juga tidak ada pergerakan.
" Arahkan CCTV nya dia halama rumah tempat kita sekarang!" titah Hiebert.
" Tanpa bertanya Mattew langsung mengarahakn kamera tepat di tempat mereka kini, dan tidak terihat mereka yang berdiri disana.
Mattew dan Hiebert saling pandang sebelum akhirnya merrka bergerak mendekati CCTV dan mereka menemukan kaca bening yang sama persis bentuk dan warnanya dengan kaca CCTV.
"Si*!" umpat Hiebert dan mereka mendengar langsung mendekat.
Terjawab sudah kenapa tidak ada siapa pun teryangkap dalam kamera dan terkesan tidak ada apapun karena terhalangi oleh kaca bening tapi mampu mengahalau mata CCTV dan hanya bisa menangkap situsi terakhir kali sebelum di pasangkan pengahalangnya.
Brillo menekuk jemarinya membentuk kepalan karena menahan amarah, rupanya musuh mereka ini benar benar tidak bisa di remehkan.
" Gilmax!"
"Ya tuan muda"
"Temukan pelakunya! seret dia di hadapanku!" teriak Brillo.
__ADS_1
TBC