BERMULA DIHARI PERNIKAHAN

BERMULA DIHARI PERNIKAHAN
Chapter 13


__ADS_3

"Baik, aku terima."


"Bagus! Itu pilihan yang tepat."


"Sekarang lepaskan aku" pinta Kerenza.


Baru saja Kerenza terlepas, mencoba untk kembali menyerang, tapi naas, lagi lagi gerakkannya terbaca oleh lawan.


Kali ini posisi Kerenza kembali di kunci kebelakang dan dipelintir, tapi kali ini Kerenza saling berhadapan denag lawan, hingga bagian depan dadanya bertabrakan dan menemel dengan pria itu.


Deg....


Jantung berpacu dengan sangat cepat di antara keduanya, tapi dengan perasaan yang berbeda, jika pria itu merasa bahagia bisa memeluk wanitanya dengan alibi pertempuran berbeda dengan Kerenza yang merasakan ada desiran aneh dalam dirinya saat tubuh mereka saling bersentuhan.


"Kenapa rasanya ini sama dengan saat aku dengan nya dulu."


"Sekian lama aku bisa memelukmu lagi sayang."


Mereka sama membatin dalam hati tapi dengan alasana yang berbeda.


"Lepasakn aku!" pinta Kerenza saat topenya hendak dibuka. "Jangan berani membuka topengku bren**ek." teriaknya


Tapi tidak di indahkan tangannya terus saja berherak untuk membuka topeng itu, dan memandang wajah wanita cantik yang sangat ia cintai.


"Auhkkkh." terdengar ringisan saat Kerenza mbenturkan Kepalanya ke wajah lawan, tapj bukan lawan yang merasa sakit, melainkan Kerenza lah yang merasakan kesakitan karna topeng yang sedikit keras itu.


"Jangan bertingkah nona jika tidak mau sakit."


Sempurna, topeng yang dikenakan Kerenza sudah terbuka sempurna, menpakan wajah manis nan cantik mulus itu.


Kerenza memalingkan wajahnya ke arah samping tepat di arah Keiji berada


"Alana." sebut Keiji


"Ya aku, Ada apa? kau terkejut." kata kerenza.


Seketikan badannya terelpas dari kukungan dan melihat sebentar ke arah itu kemudian berjalan menuju Keiji mendekat dan sampai tepat di hadapan Keiji.


Anak buah yang berjaga di sana melepasakan tangannya dan membiarkan Kerenza untuk bertindak.


"Ingin kau apakan dia nona."


"Tentu saja menghabisinya."


"Jangan macam macam padaku Alana!" ancam Keiji tapj tidak didengarkan oleh Kerenza.


"Kau bisa melakukan apa pun padanya tapi lakukan di markasku."

__ADS_1


Kerenza melihat sejenak da kemudian mengiayakan perkataan itu, dengan segera mereka semua pergia dari sana.


"Hiebert, bereskan kekacauan ini."


"Gilmax bantu dia untuk membereskannya."


Baik kerenza, baik tuan muda" Gilmax dan Hiebert menjawab bersamaan.


Dalam mobil hanya ada Krenza dan pria asing itu, sesuai permintaannya akhirnya Kerenza mengikuti kemauan dari lelaki itu.


"Bisakah aku tau namamu."


"Brillo. nama ku Brillo Jokson." jawabnya


Ya, ternyata lelaki yang baru saja kembali ke LA itu adalah Brillo Jokson, lelaki yang tampan dengan mata biru nya, rahang yang tegas sesuai ciri khasnya dan kepribadiannya yang tegas.


"Bisakah kau melepaskan topengmu" pinta Kerenza.


Brillo tidak menjawab tapi gerakan tanganya menunjukan kalau ia tidak keberatan dengan hal itu, terbukti saat topengnya sudah terelpas sempurna.


Mata indah yang meneduhkan, tapi mengerikan jika aura gelap sudah menguasai, rahang kokoh dan tegas, alis hitam tebal, hidung mancung.


Sungguh itu merupakan pahatan yang sangat sempurna bagi seorang manusia, sejenak mata itu mengingatkan Kerenza terhadap seseorang tapi secepat kilat ia mengusirnya karna itu sangat tidak mungkin mengingat wajah mereka yang sangat jauh berbeda.


"Kau sudah melihatnya hm." kata Brillo dengan wajah yang sudah dekat didepan Kerenza dan nafasnya jelas terasa di kulit wajah Kerenza.


"Cepatlah jalan! aku sudah tidak sabar sampai disana." kata Kerenza dengan dingin


"Baiklah Alana, kita akan berangkat." jawabnya dengan senyum tipis terukir di sudut bibirnya.


"Jangan memanggilku Alana."


"Kenapa."


"Hanya suami ku yang boleh memanggilku dengan sebutan itu."


"Aku adalah kekasihmu dan aku berhak memanggilmu apa saja" jawab Brilli santai.


"Aku buka kekasihmu." bentaknya


"Apa kau lupa nona kalau kau sudah menerima tawaranku." satu alisnya terangkat ke atasa.


Kerenza terdiam dan tidak lagi berkata.


"cepatlah kita pergi." titahnya dengan nada dinginnya.


Kerenza dan Brillo sudah berada di markas milik lelaki itu, markas yang sangat besar dan luas, cukup untuk menampung ratusan bahkan ribuan orang di aula itu, bahkan falitas sangt lengka.

__ADS_1


Rumah bergaya eropa yang di sulap menjadi markas khusus pasukannya itu, itu tidak kalah bagusnya dari istana miliknya.


Lampu hias menghisi setiap sudut rumah itu dengan satu warna kuning yang menyatu dengan warna dinding markas yang berwarna putih, kolam berenang yang luas terletak di belakang rumah, gajebo yang bisa digunakan untuk sekedar bersantai terletak di dekat kolam berenang, beberapa pohon berdiri tegak sebagai penyejuk di istana yang di jadikan markas itu.


Tapi siapa yang tau kalau di sana juga terdapat penjara dan ruang eksekusi bagi para penjahat yang berani mengusik pemiliknya.


Di balik keindahan dan kenyaman yang dirasakan disana, ketakutan kengerian tak kalah dapat dirasakan disana dan itu berlaku bagi mereka yang berbuat salah dan juga untuk para penghianat.


Sejenak Kerenza di buat terpaku atas keindahan markas itu, memang markas miliknya juga besar dan luas namun tidak seindah milik Brillo Jokson yang bisa memanjakan mata.


"Apa kah menyukai markas milikku." tanya Brillo


"Tentu, aku menyukainya. Ini sangat besar dan indah untuk di jadikan sebuah markas."


"Jika kau menyukainya, kau juga bisa jadikan ini markas mu. kau tenang saja semua anggota mu masih bisa di tampung disini."


"Tidak. Itu tidak perlu, aku lebih suka dengan markasku walau tidak sebesar ini dan aku yakin orang orang ku juga pasti tidak mau."


"Yasudah terserah kau saja, tapi jika kau ingin kemari kapan saja kau mau silahkan saja."


Mereka berjalan bersisian menuju ruang penjara bawah milik Brillo Jokson. Sampai disana, mereka sudah di sambut oleh seluruh anggota, baik dari Kerenza maupun penghuni markas.


Serempak mereka membungkuk hormat, menyambut kedatangan bos dari mereka masing masing.


"Kau tidak apa apa Keren?" tanya Kaisar.


"Iya apa kau baik baik saja keren?" Catline ikut mendekat dan ikuti Mattew dan Hiebert mendekat kearah Kerenza.


"Seperti yang kalian lihat, aku baik baik saja."


"Pria itu tidak menyakitimu, Jika iya maka aku akan menghabisinya." Tanya Kaisar dengan wajah datar dan intonasi penuh ketegasan, menandakan bahwa ia tidak main main dalam ucapannya.


"Tidak. Dia tidak menyakitiku, jadi berhentilah untuk khawatir, dan fokuslah pada buruan kita." kata Kerenza mendadak dingin, wajahnya berubah mengerikan, menatap Keiji dengan tatapan yang memburu seolah siap untuk menerkam mangsanya.


Keiji menatap Kerenza dengan wajah pucat, menelan ludahnya kepayahan, melihat ekspresi Kerenza yang sangat menyeramkan itu, sungguh Alana si wanita manis dan lugu tiga tahun yang lalu kini sudah berubah menjelma menjadi iblis. Ah tidak, lebih tepatnya malaikat cantik pencabut nyawa.


"Kau mau apa Alana" tanya Keiji dengan bokong menyeret tubuhnya untuk menjauhi Kerenza.


"Melakukan apa yang harus aku lakukan."


Brillo hanya tersenyum tipis menyaksikan wanitanya yang seperti iblis tak bersayap, yang sudah sangat siap untuk mencabut nyawa manusia.



TBC


bantu dukung author ya readers tercinta😍😘😘

__ADS_1


LIKE,KOMENT, VOTE, RATE, DAN HADIAH, dan yang penting masukan dalam daftar FAVORIT, Agar tetap dapat notifikasi setiap author up. πŸ™πŸ™


__ADS_2