BERMULA DIHARI PERNIKAHAN

BERMULA DIHARI PERNIKAHAN
Chapter 111


__ADS_3

Brillo tanpa takut mendatangi markas Keitaro dengan tenang, kana kiri tangannya memegang pistol yang bisa kapan saja di lesatkan bagi orang yang menghalangi jalannya.


"Hei....Siapa kau!" teriak salah satu pengawal Keitaro


Dor


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Brillo tapi sati tempabkan lepas dan mengenai kepala si lawan cukup membuat sebagai jawaban bagi mereka yang ada disana jika Brillo adalah malaikat maut mereka semua.


"Si**an...! berani sekali kau menerobos masuk"


Dor Dor Dor


Saling tembak timah panas pun terdengar baik dari pihak Keitaro maupun Brillo saling melindungi dan menghabisi terutama anak buah Brillo yang bertugas sebagai sniper berusaha untuk melindungi tuan muda mereka dari serangan arah yang tida di jangkau penglihatan Brillo.


Brillo sendiri tanpa rasa takut terus maju menerobos masuk dan menembaki beberapa orang yang menjadi penghalangnya, dia tidak takut mati karena saat ini yang menjadi priorotas pria tampan itu adalah istrinya segera diselamatkan sebelum terlambat.


Kini Brillo sudah sampai di pintu utama markas sementara Keitaro sudah meradang dalam ruangnya kerena anak buahnya kalah dari anak buah Brillo yang rata rata memiliki keahlian dalam menembak.


"Si**an....! berani sekali pria itu menghabisi anak buahku, aku aku haru menghubungi Robert Hans meminta pasukan" ucapnya du tengah kemarahannya.


"Bos tetap di sini, saya akan mengahalau Brillo masuk tapi tuan kita harus memint bantuan Rbert agar mengirimkan pasukannya untuk kit" ucap Louis yang di anggukanleh Robert yanh sedang sibuk menghubungi Robert.


Robert sendiri saat ini sedang menunggu Kerenza tersadar dari pinsannya, mungkin racun yang di hirup wanita itu sangat banyak membuat daya tahan tubuhnya sangat lemah membuat dia lama bangun dari pingsannya.


"Alex, apa menurutmu Brillo akan tiada di tangan Keitaro?" tanya Robert yang saat ini mereka berada di ruangan kerja Robert di markas.


"Tidak!" jawab Alex singkat.


"Bagaimana kau yakin?"


"Kerena dia akan berusaha untuk menyelamatkan dirinya terus sampai bisa menyelamatkan Alana"


"Ya kau benar, dan aku benci dengan hal itu, tapi tidak masalah juga setidaknya satu sreangga tiada dan aku sudah menyiapkan rencana yang bagus untuk melenyapkan anak muda itu hahahaha...."


"Jadi tuan belum ingin menentukan nasib wanita itu?"


"Belum, aku ingin menunggunya hingga sadar dan aku mau melenyapkannya tepat di hadapan Brillo"


Kring Kring Kring

__ADS_1


Bunyi ponsel milik Robert menghentikan pembicaraan keduanya, alis Robert tertaut dalam mendapai Keitaro yang menghubunginya dan sudah bisa di tebak jika Keitaro anak meminta bantuannya karena kekalahannya.


"Ada apa!"


"Kirimkan anak buahmu untuk melenyapkapkan Brillo Jokson!" tetiak Keitaro yang mulai merasa panik karena kegaduhan semakin terdengar dan banyak anak buahnya yang terluka bahkan tewas.


"Hahahah.... Kenapa aku harus membantumu, adakah kau libatkan aku dalam rencanamu? tidak bukan, jadi kau urus saja musuhmu itu"


Keitaro meradang mendengar jawaban Robert Hans, dia tidak menyangka jika keputusannya tidak mau melibatkam Robert Hans dalam rencananya malah menjadi petaka dan pria itu tidak mau membantunya.


Brakkk


Baru saja Keitaro ingin menjawab pernyataan itu tapi dobrakan pintu mengurungkan niatnya, berganti denganr asa khawatir melihat siapa yang kini berada di hadapannya dan itu adalah Brillo Jokson, di manusia tampan yang menjelma menjadi malaikan maut.


"Ka...Kau.!"


"Katakan dimana istriku!"


Brillo berkata dengan nada penuh ketegasan, di sebelah kiri tangannya ada Louis yang sudah kemah tak berdaya tak dapat melawan Brillo Jokson, darah bercucuran di seluruh wajahnya bahkan beberapa kalau memuntahkan darah dari dalam mulutnya.


"Aku tidak tau! jangan tanyakan padaku!" sentak Keitaro yang masih berusaha untuk menantang Brillo Jokson.


"Aku tidak tau!" jawab Keitaro ikut membentak.


Brillo dengang segala emosinya menembaki kepala Louis membuat pria itu tekapar tak bernyawa lagi sedangkan Keitaro gemetar menyaksikan hal itu di tambah lagi aura Brillo Joksin yang kini sudah sangat mendung dan menggelap melebihi dirinya yang seorang mafia.


"Ap....apa yang...Kau...kau lakukan!" teriak Keitaro di tengah ketakutannya.


"Aku akan melakukan hal yang sama bahkan lebih dari ini jika kamu berani menipuku Keitaro, sekarang katakan dimana istriku!" ujar Brillo dangan suara dingin dan datarnya.


"Tapi aku memang tidak tau"


Brillo tidak mau lagi berbasa basi, tangnnya lurus kedepan hendak melesatkan timah panasnya ke arah Keitaro tapi suara seseorang yang tak lain adalah Gilmax menghentikan gerakanya.


"Jangan lakukan tuan muda, bukan dia yang menculik nona muda...!" teriak Gilmax.


Brillo berbalik melihat Gilmax yang sudah berada di belakangnya, "apa maksudmu? jelas jelas surat itu dari Keitaro yang menantangku untuk menyelamatkan istriku"


"Tapi kenyataanya bukan tuan muda, itu semua perbuatan Robert Hans"

__ADS_1


Brillo Jokson tersentak kaget mendapati pernyataan jika kini istrinya berada di tangan ayah angkatnya, benar benar tidak bisa di percaya sesungguhnya tapi kenyataan membuka mata Brillo.


"Katakan kau tau dari mana Gilmax? kau tau bukan apa akibat jika kau berani berbohong" ucap Brillo Jokson dengan tegas.


"Maka tuan harus ikut saya"


"Aku harus menghabisinya lebih dulu"


"Serahkan pada anak buahku tuan muda, saat ini kita harus segera menyelamatkan nona muda" gegas Gilmax yang langsung di jawab anggukan oleh Brillo Jokson.


Kcepatan mobil yang mereka kendarai bukan lain, kebut kebutan mereka menyalip setiap mobil yang menjadi penghalang bahkan tak jarang mendapat umpatan dari para pengendara lain.


"Katakan dari mana kau tau?" tanya Brillo yang masih penasaran.


"Dari alat penyadap Rebeca dan itu langsubg suara Robert Jokson" jawab Gilmax.


"Baiklah, lebih cepat!"


Di markas, Mattew sudah tersadar, sepertinya dia tidak kalah dengan Kerenza menghirup racun itu membuat mereka pingsan beberapa jam lamanya.


Mattew mengedarkan pandanganya merasakan tangan dan kakinya yaang di ikat dengan kuat, dia melihat Kerenza yang masih belum sadar membuat Mattew berontak ingin melepaskan diri karena merasa kasihan dengan Kerenza.


Mattew yakin jika saat ini Kerenza sangat lemah karena racun itu di tambah lagi karena Kerenza sedang mengandung sudah pasti akan sangat sensitif sekali tubuh nona mudanya itu.


"Nona muda bangun..." teriak Mattew membangunkan Kerenza.


"Nona...Nona muda bangun...!"


Brak...


Mattew terkejut mendengar dobrakan pintu dan kembali lebih terkejut lagi saat tau siapa yang ada di hadapannya kini.


"Kau..."


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2