
"Dia sudah sadar?" tanya Robert pada Keitaro.
Saat ini kedua sekutu itu berada di markas milik Robert karena Keitaro yang belum memiliki markas di Los Angel, akhirnya meminta pada Robert memberikan markasnya untuk di gunakan mengersekusi para semut itu menurutnya.
"Belum"
"Kalian! siram wajahnya!" titah Robert.
Tanpa du perintah dua kali, anak buah Robert menyiram para sandra itu dan membuat keduanya terbangu, kenapa hanya berdus kerena memang hanya tinggal keduanya yabg selamat dari delapan orang penyerang.
Robert bahkan tidak percaya jika Keitaro akan melakukan perlindungan dengan cara seperti itu, untungnya dia menemukan preman jalanan jika saja dia mengerahkan anak buahnya maka sudah bisa di pastikan jika anak buahnya yang akan berada di posisi ini sekarang, perihal mobil itu bukan masalah bagi Robert selama rencananya berhasil maka tidak ada kata perhitungan di kamusnya.
"Aku keluar, uruslah musuhmu" ucap Robert, dan memberi kode pada Alex agar mengikutinya.
Dia sengaja keluar dari sana karena tidak ingin di kenali oleh para preman jalanan itu, jika merka ketahuan maka akan hancur rencana mereka dalam sekejam untuk mengadu domba keduanya dan hal itu tidak akan Robert biarkan setelah banyak perngorbanan yang dua berikan.
"Baiklah, dan tunggu kabar dariku"
"Tentu" jawab Robert kemudian berbalik dan seringai licik terbir di sudut bibirnya tapi hanya sekilas karena dengan cepat dia mengubah ekspresinya tidak ingin anak buah Keitaro apa lagi Louis si pengikut setia Keitaro menaruh curiga padanya.
"Hei lepaskan aku..!" teriak sandra.
"Jangan berharap bisa lepas dari cengkramanku setelah kau berani mengusik ketenanganku!"
"Aku hanya menjalankan perintah, aku hanya di bayar oleh seseorang!" teriaknya lagi.
"Katkan siap yang sudah membayarmu!"
"Brillo! Brillo Jokson yang sudah membayarku untuk melenyapkanmu!" teriak pria itu.
"Beillo Jokson"
"Ya, dia yang sudah membayarku" jawabnya meyakinkan, "sekarang lepaskan aku" pintanya.
"Sayang sekali tidak ada kata bebas bagi seorang tersangka" jawabya dan langsung mengarahkan pistrolnya.
Dor dor
Dua kali tembakan di lesatkan tepar di bagian kepala dan kedua sandra tidak lagi bernyawa, darah mengalir membasahi lantai oleh keduanya.
Keitaro tidak suka bermain main, dia lebih sukan menembak mati dari pada memberikan siksaan terlebih dahulu berbeda dengan Brillo yang lebih sukan bermain.
Keitaro keluar dengan wajah masamnya, dia sangat marah saat mengeyahui siapa yang me jadi dalangnya, dia benar benar tidak menyangka jika kini nyawanya di incar oleh Brillo Jokson, dan jika sudah seperti itu maka dia harus bergerak cepat untuk melenyapkan Brillo Jokson sebelum dirinya sendiri yang akan binasa.
"Siapa?"
"Brillo Jokson!" jawab Keitaro dengan kedua tangan yang terkepal kuat, sementara Robeert hanya tersenyum samar tapi mengandung kemenangan di sana karena umpannya menangkap sasaran yang besar.
"Jadi apa yang akan kau lakukan?"
"Tentu saja menghabisinya lebih dulu sebelum dia yang menghabisiku!"
"Aku akan membantumu membiay rencana tapi tidak ikut menyerang, kau tau bukan jika pekerjaaku adalah seorang pembisnis dan bukan mafia seperti mu?"
"Tidak masalah, anggotaku masih cukup untuk melumpuhkan mereka"
"Baiklah, kita bicara di ruanganku!"
.
Di kediaman Kerenza, Brillo baru saja menginjakan kakinya setelah tadi menguras waktunya karena seekor lalat kini dia tiba agak larut karena setelah dari markas Brillo tidak langsung kembali melainkan pergi untuk menjernihkan pikirannya terlebih dahulu di salah datu clup.
"Love" panggil Brillo setelah tiba di kamar.
__ADS_1
"Kenapa kau baru kembali? apa urusanmu terlalu susah?"
"Bukan susah, hanya saja ada orang yang bermain main denganku"
"What!"
"Yes love, ada yang sedang bermain denganku"
"Siapa dia?"
"Tidak tau, hanya saja dia menggunakan nama Keitaro di pengakuannya"
"Dan kau percaya?"
"Tentu saja tidak, karena aku tidak sebodoh itu dalan membaca situasi siapa sebenarnya musuhku" ucap Brillo kemudian mencium pipi Kerenza dan melesat ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kerenza mengububungi seseorang yang tidak lain adalah Gilmax "siapa yang menyerang suamiku Gilmax?" tanya Kerenza to the poin.
"Maaf nona, saya tidak tau. Silahkan langsung tanyakan pada tuan muda"
"Ck, harusnya aku sudah menduga hal ini! kau tidak bisa ku andalkan!" ketus Kerenza dan langsung memutus panggilannya.
"Bajingan sekali orang itu, beraninya dia tidak mengatakan apa pun padaku"
Kerenza segera keluar tujuannya adalah Esa, karena dalam hal hal seperti ibi selain Mateew Elsa juga dapat di andalkan.
"Retas CCTV perusahaan suamiku!" titah Kerenza setelah tiba di mana Elsa berada.
"Wow nona, ada apa? kenapa kau menyurh kekasihku meretas CCTV perusahaan tuan muda" seru Hibert yang daat itu sedang bersama Elsa kekasihnya.
"Bukan urusanmu! dan kau diam saja jika tidak ingin ku tendang!" sentak Kerenza.
"Wow amazing... Nona semakin garang saja, dari yang dingin sekarang mulutmu juga sangat tajam nona dan tidak segan berkata" gurau Hiebert.
"Lakukan Elsa!"
"Baik nona"
Elsa melakukan apa yang di katakan Kerenza tanpa banyak bertanya apa apa lagi protes seperti yang di lakukan Hiebert karena dia tidak mau jika harus menjadia sasaran kekesalan Kerenza yang akan berakhir seperti Hiebert yang tidak bisa lagi berkata dan diam seperti anak kecil yang di bentak ibunya.
"Tuan muda mengalami penyerangan sewaktu dia keluar dari gedung nona muda" ucap Elsa saat mengamati getakan gambar yang ada di ponselnya.
Kerenza mengambil ponsel itu dan menyerangnya, kemudian mengamati dan kembali berkat " retas CCTV di markas!"
Kembali Elsa meretas CCTV yang ada di markas milik Brillo dan di sana tidak menunjukan hasil apa pun, "Maaf nona sepertinya CCTV nya sudah lebih dulu di kelolah oleh tuan Gilmax"
"Sudah ku duga, dia tidak akan membiarkan aku mengetahui apa yang mereka lakukan disana!" decak Kerenza.
"Jadi bagaimana nona muda?" tanya Elsa.
"Segera menikah lalu punya anak!" jawab Kerenza asal dan berlalu pergi dari sana.
Elsa dan Hiebert hanya melongo mendapati perkataan nona muda mereka yang tidak ada nyambungnya, apa itu bawaan ibu hamil pikir keduanya
"Ada apa Kerenza? kenapa wajahmu masam sekali?" tanya Catline saat Kerenza melewati ruang tengah.
"Ada apa Girl?" tanya Cloe.
"Aku kesal karena suamiku menyembunyikam sesuatu!" kesal Kerenza.
Catlin yang kala itu sudah hampir sembuh saling pandang dengan Cloe, mereka tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Kerenza dan lagi kekesalan Kerenza jauh berbeda dari yang sebelumnya, jika dulu Kerenza marah akan terlihat menyeramkan kini malah terlihat menggemaskan bagi mereka.
"Mom, apa ini sifat orang hamil?" tanya Catline dengan kekehan renyahnya.
__ADS_1
"Mungkin saja! tidak ada yang tau bagaiman emosi ibu hamil" jawab Cloe yang ikut terkekeh.
"Ck kenapa kalian sangat menyebalkan sekali malam ini!"
Kerenza memilih untuk pergi kembali ke kamar, semenrtara Ibu dan anak itu semakin terbahak meliht sikap Kerenza yang benar benar berubah seratus delapan puluh derajat dari kelakuannya yang dulu.
" What happen love?" tanya Brillo dan menyambut Kerenza merangkul pinggang Kerenza dan memluk pipinya dengan mersa.
"Kenapa tidak kau katakan jika ada yang menyerangmu!"
Kerenza menatap Brillo dengan tajam tapi Brillo tidak merasa terintimidasi sama sekali, dia bahkan tersenyum gemas mendapati ekspresi Kerenza yang seperti itu.
"Jangan tertawa seperti itu! apa sekarang auraku tidak ada lagi?"
"Kenapa berkata begiu?"
"Karena sekarang tidak ada yang takut jika melihatku memasanga wajah seperti ini yang ada mereka malah menertawakanku!" ketus Kerenza.
"Jangan memasang wajah seperti itu Love karena tidak baik dengan baby kita"kekeh Kerenza.
"Ck sudahlah aku benci padamu!"
Jangan seperti itu love, nanti anak kita akan menirukanmu'
.
Saat ini Gilmax berada di salah satu kafe terkenal, menunggu Jenn yang sudah membuat janji temu di tempat itu, entah apa tujuan wanita itu tapi tidak masalah bagi Gilmax selama rencananya bisa berjalan maka dia akan mengikuti permainan Jenn.
"Selamat malam tuan Gilmax maaf membuatmu menunggu"
"Tidak masalah nona manis, asal kau bisa datang maka aku aka tetap menunggu.
Jenn merasa tersanjung mendengar sebutan nona manis yang di sematkan Gilmax untuknya, dia kemudian duduk di hadapan Gilmax dengan posisi menantang iman Gilmax dengan pakaiannya.
"Kau mau menemaniku disini nona?"
"Tentu saja tapi bisa kah kau jangan memanggilku nona?"
"Jenn!" panggil Gilmax yang ingin mengikuti permintaan Wanita itu.
"Jika kau mau menemaniku, aku sudah menyiapkan tempat spesaial untuk kita menikmati malam ini" ucap Gilmax dan mengulurkan tangannya yang di sambut baik oleh wanita itu.
Mereka berjalan menyusuri lorong menuju ruangan yang sudah di siapkan oleh Gilmax dengan tangan yang sudah bertengger indah di pinggang Jenn dan sesekali mengelus bokong wanita itu.
Jenn semakin merasa menang karena bisa membuat seorang sekretari pengusaha muda lengket padanya bahkan menikmati tubuhnya walau hanya sekedar elusan saja tapj Jenn yakin jika setelah ini mereka akan berkahir pada pencapaian kenikmatan dan Jenn tidak akan menyia nyiakan kesempatan merasakan bagaimana bercinta dengan pria tampan.
"Silahkan Jenn"
"Terimakasih Gilmax"
Mereka berdua mulai minum bercerita dan berbicar banyak Hal, dan sesekali tangan nakal Gilmax bertengger dan meremas bongkahan milih Jenn membuat wanita mengerang kenikmatan, "Kau suka Jenn?"
"Yes dan aku menginginkan lebih" jawab Jenn yang sudah merasa terbawa arus nafsunya di tambah dengan alkohol yang sudah banyak masuk ke dalam tubuhnya membuat dia kehilangan kendali, sementara Gilmax adalah pria norma, menjajaki tubuh wanita sexy seperti Jenn adalah keinginan para pria tapi tidak dengan Gilmax yang sama sekali tidak tertarik sebenarnya tapi untuk mencapai tujuannya membuat Gilmax harus bergelut menikmati surga dunia bersa ja*lang itu.
"Kau mau memuaskanku Jenn"
"Dengan senang hati Gilmax"
Jenn menukai aksinya mencium Gilmax dengan agresif yabg di balas tidak kalah agresifnya oleh GImax dan kedua tangan mereja saling meraba raba dan Gilmax melakukan itu untuk menempelkan alat penyadap di tengkuk Jenn di balik rambutnya.
.
.
__ADS_1
TBC