
Brillo sedang dalam perjalan kembali kerumahnya tapi sepanjang perjalan matanya tidak terlepas dari spion mobilnya, dia merasa seperti ada yang mengikuti tapi setiap dia melihat kebelakang tidak ada yang mecurigakan dam pengendara adalah kebanyakan warga biasa.
"Kau merasa curiga Gimax?"
"Ada apa tuan muda?"
"Aku merasa ada yang mengikuti kita tapi sepertinya tidak ada orang yang menetap kendaraanya saya perhatikan" ujar Brillo memberitahukan apa yang sedari tadi mengganggu fokusnya.
Gilmax ikut memperhatikan lewat kaca spionya dan benar apa yang di katakan Brillo Jokson jika kendaraan disan rata milik masyarakat biasa dan tidak ada kendaraan yang mencurgikan, ada pun yang tidak sampai lima menit berlalu kendaraan yang ada di belakang sudah berganti lagi membuat mereka tidak bisa menetapkan siapa yang mengikuti mereka dan benarkah dugaan mereka.
"Tuan muda, sepertinya kita harus memancing"
"Kau benar dan kau tau harus kemana?"
"Tentu saja, kita akan bersenang senang" seru Gilmax dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih tinggi.
Sementra orang yang mengikutinya terkahir kali mengumpat kesal karena di saat gilirannya mengintai malah seperti ini situasinya dan dia yakin jika kemungkinan pengintaian mereka sudah terbaca oleh Brillo Jokson.
"Sepertinya dia tau pergerakanku, lanjutkan siapa berikutnya larena lima menit lagi dia akan tiba" sambung mata mata memalui earphone yang mereka gunkan untuk saling terhubung.
Dalam sekejap saja semuanya mendengar dan sama sama mengumpati Brillo Jokson yang rupanya sangat jeli walau mereka sudah menggunakan cari, yaitu menginta secera bergantian di tempat tempat tertentu bahkan menggunkan pakaian dan kendaraan seperti masanyarakat lainnya tapi tetap saja Brillo mengetahui pergerakan mereka.
"Hei siapa berikutnya? cepat kejar terus jangan sampai dia lolos tapi tetap jaga jarak darinya" titah seorang mata mata lain.
"Baik!" jawab mata mata lain yang baru akan memulai tugasnya mengintai.
Brillo dan Gilmax berbelok dengan berlawanan arah dari arah kediaman Kerenza, saat ini mereka mengarah pada arah menuju istan Brillo agar lebih mudah bagi mereka mengcoh musuh karena satu mawasan itu adalah miliknya dan jarang bahkan hampir tidak ada kendaraan yang melewati itu kecuali yang berhubungan dengan Brillo dan itu pun harjs melewati tahap pemeriksaan.
Sementara mata mata yang tidak tau kemana arah tujuan mobil Brillo hanya terus mengikuti tanpa sadar jika dirinya akan masuk ke dalam sarang singa.
"Gilmax, hentikam mobilnya dan keluarlah" titah Brillo.
Mereka keluar dan mencari tempat untuk menunggu anggota lainnya dalam melenglapi permainan mereka, dan tak lama para pemain tambahan pun datang dengan menggunkan motor tapi mereka berhenti sedikit jauh dari mobil milik Brillo yang terparkir disana.
__ADS_1
Dan sesuai dugaan Brillo jika mereka di ikuti dan sudah pasti akan berheti jauh dari tempamt mereka agar tidak ketahuan dam Brillo pun bisa menebak jika mereka hanya memata matai bukan untuk menyerang.
Tapi Brillo tida suka itu, tidak suka ada yang memantau pergerakan mereka makanya terpaksa dia harus menghentikan hal ini dan jalan terbaiknya adalah membasmi mereka semua.
"Kau lihat, mereka benar benar ada dan sepertinya mereka mengintai secara bergilir karena sejak dari kantor aku tidak menemukan pengemudi motor model mereka" ucap Brillp mengatakan apa yang ada di pikirannya.
"Anda benar tuan, tapi sepertinya mereka tidak
berani menyerang"
"Kau benar, tugas mereka hanya memantau bukan bagian menyerang"
"Siapa lagi dalangnya kali tuan?"
Brillo tidak menjawab tapi senyum sinis terbit di sudut bibirnya karen dia yakin bukan hanua ini saka yang memantau, bukan dari satu pihal saja yang memata matai tapi ada dua pihak yang saat ini sedang melakukan hal itu tapi yang satu pihak bermain secara halus dam tak terlihat.
"Kau pasti sudah tau bukan?"
"Ck, ada banyak yang saat ini aku tuduhkan tuan"
Brillo mulai melangkah menuju empat dua krang mata mata itu yang memiliki kesibukan sendiri sendiri, yang satu sibuk dengan ponselnya dan yang satu sibuk dengan matanya yang terus memandang ke arah mobil mereka tanpa sadar jika kedua pemilik itu berjalan mendekat ke arah mereka saat ini.
"Jadi kalian yang mengikuti kami!" ucap Brillo dengan nada dingingnya.
Dua orang itu sangat terkejut mendengar bariton yang tidak jauh dari tempat dan sekligaus mereka menoleh dan melihat ternyata yang ada di sana adalah pria yang mereka mata mtainya.
Mengunpat dalam hati kerena tidak mengenali tempat keberadaan diri mereka berdua saat ini yang ternyata kawasan yang sama sekali tidak bebas atau bisa di katakan adalah memiliki pemilik kawasan ini dan sudah bisa di pastikan pemiliknya adalah target mereka.
Masih tidak ada jawaban dari kedua mata mata itu, hanya saling pandang dan sesekali melirik ke arah Brillo Jokson membuat pria itu berdecak sebal karena tak kunjung di respin oleh para orang bo*oh itu
"Hei apa pendengaran kalian tidak baik sehingga tidak mendengar perkataanku!" sentak Brillo.
Keduanya tertawa keras menertawakan Brillo Jokson, entah bo*oh atau tidak tau bagaimana seorang Brillo Jokson tapi sepertinya kedua mata mata itu tidak merasa takut, dan mungkin saja merrka belum maresakan nikmatnya pisu cukur milik Kerenza.
__ADS_1
"Apa yang kalian tertawakan?!"
Suara tegas nan dingin dari mulut Brillo rupanya tidak membuat keduanya merasa takut, malah mereka semakin bertawa keras entah apa sebenarnya yang ada dalam benar mereka sehingga memberi respon demikian.
"Sepertinya mereka ingin menikmati markas kita tuan"
"Ck, aku tidak sudi membuang waktuku menuju markas hanya untuk mereka berdua saja!"
"Baiklah biar saya lumpuhkan dulu baru tuan bisa bermain bersam mereka!" ucap Gilmaz dengan senyum iblisnya.
Perlahan tubuh Gilmax mendekat kedua pria itu yang di sambut dengan senang hati kerena berpikir mereka yang akan memenangkan pertenpuran ini karena dua lawan satu tanpa tau jika puluhan orang pun tidak akan bisa melumpuhkan Gilmax.
Brillo sendir hanya menjadi penonton setia saja, dia hanya ingin hasil akhir dan bermajn di akhiran juga nanti jadi untuk itu dia menunggu Gilmax melumpuhkan keduanya, bukan karena tidak bisa melawan tapi justru karena tidak ingin membuang waktu dengan orang oran lemah, Brillo lebih menyukai berperang denvan orang orang berbahaya yang memiliki kemampuan yang sama dengan dirinya..
"Ingat Gilmax kaki dan tangan saja yang kau lumpuhkan dan nyawa biar aku yang menentukannya!"
"Tenetu saja tuan muda kau yang akan menjadi penentu nasib mereka"
"Akkhh... Jangan banyak bicara! hadapi kami sekarang juga!" teriak salah satunya.
"Dengan senang hati, maka kemarilah mendekat!".
Aura ke ibilasan Gilmax keluar dia tidak mau bemain main, keinginannya hanya ingin melumpuhkan lawanya hanya dengan sekaai gerakan saja agar tidak menyita waktunya.
.
.
TBC
Sambil menunggu up up selanjutnya, mampir juga ya di novel baru author, ceritanya tidak kalah seru kok dari kedua noval author sebelumnya😊😊
Klik profil author saja ya biar mudah carinya...
__ADS_1