
Nara langsung melangkah dengan cepat menyambut putrnya yang turun dari mobil Vivi teman kerja sekaligus sahabatnya.
"Maaf sayang, Mommy terlambat menjemputmu" ucap Nara memeluk tubuh putranya.
"Kanapa Mommy terlambat? apa Daddy baru pergi?" tanya Radith.
"Tidak sayang, Mommy tadi mengunggu bahan makanan yang kurang karena Mommy ingin membuatkan kamu makan siang terlebih dahulu tapi malah terlambat menjemputmu" sesal Nara.
"Tidak masalah Mom, asalkan makan siangku ada dan itu alasan Mommy terlambat, Radith tidak akan marah" ucap Radith dengan senyum manisnya.
Ya, Radtih tidak marah karena sudah ada yang membuatnya jauh lebih senang, yaitu mendengarkan ibunya memasak makan siang untuknya dan itu sangat membuatnya bahagia.
"Sungguh kamu tidak marah pada Mommymu ini nak?" tanya Rajesh.
"Tidak Mom, karena aku juga sudah sampai diantar sama Ma.Vivi" jelas Rajesh.
"Haiii Ra...." sapa Vivi yang baru saja tiba dihadapan Nara setelah memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
"Terimakasih ya Vi, kamu sudah mengantar putraku" ucap Nara dengan senyum manisnya.
"Sama sama Vi, kebeteluan tinggal Radith yang belum dijemput dan aku juga sudah mau pergi tadi jadi sekalian saja aku antarkan kemari" jawab Vivi seadanya.
"Yasudah, kamu tidak terburu buru kan? ayo kita masuk dulu, aku tidak ada teman disini" pinta Nara.
"Tapi...."
"Ayo Ms.Vivi, temani Mommy karena Daddy tidak ada dan aku tidak bisa menemani Mommy karena aku juga harus belajar dan tidur siang, iyakan Mom?" tanya Rajehs pada Nara diakhir kalimatnya.
"Iya Vi, suamiku tidak ada di rumah...jadi temani aku ya disini" pinta Nara lagi dengan wajah memelasnya.
"Baiklah, tapi aku tidak punya pakaian ganti Nara, kamu taukan aku tidak ada rencana tinggal" keluh Vivi.
"Pakaianku banyak yang belum terpakai kan Vi, jadi kamu bisa pake salah satunya" jawab Nara memberi solusi dari keluhan Vivi.
"Sudahlah Ma.Vivi, mau saja dengan ajakan Momnyku...aku janji jika Ms.Vivi mau maka aku akan bersikap baik dan jadi anak manis untukmu" ucap Radith membuat Vivi dan Nara membulatkan matanya.
"Sayang ka u serius mau jadi anak manis?" tanya Nara.
"Tentu Mom, aku akan jadi anak manis untuknya kalau dia mau menemani Mommy disini" jelas Rajesh menjawab kembali untuk meyakinkan Nara.
__ADS_1
"Serius kamu Radith, tidak akan berkata tajam lagi mulutnya" Vivi ikut menimpali.
"Tentu saja..! dan jangan membuat sikap seperti itu padaku karena aku tidak suka, jika ka Ms.Vivi bersikap begini lagi lagi maka ku cabut saja ucapanmu" ketus Radith
"Astaga baru saja berkata ingin menjadi anak manis tapi sekarang ucapannya sudah seperti itu lagi" keluh Vivi.
"Radith, janji harus ditepati sayang" kata Nara.
"Ok Mom, dan dia harus menemani Mommy" tegas Radith.
Hihi tercengang dengan apa yang dia dengar, bagaimana bisa ada seorang anak dengan sikap pemaksa seperti ini, apa benar semua keturunan Fernandese seperti ini? perkataan mereka adalah mutlak yang tidak boleh terbantahkan, Vivi tidak tau akan hal itu tapi yang pasti bocah tampan yang ada dihadapannya ini sudah berhasil membuatnya menganga tak percaya.
Sedangkan Nara sangat terharu dengan kepedualian putranya, dia merasa selalu dinomorsatukan dan yang terutama bagi kedua prianya dan itu sangat membuat Nara bahagia tak terkira karena walau Radith bukan anak kandungnya tapi Radith bersikap seolah Nara adalah ibu kandungnya ibu yang melahirkan dirinya.
"Maaf ya Vi, kamu mungkin kaget, tapi bagai mereka itu hak yang wajar, bagi mereka kebahagiaanku adalah yang utama" ucap Nara dengan bangga sekaligus tidak enak hati dengan Vivi karena diperlakukan seperti itu oleh Radith hanya untuk dirinya.
"Aku tidak percaya semua keluarga Fernandese seperti ini Ra" gumam Vivi.
"Itu hanya dari luar Vivi, tapi sesungguhnya mereka keluarga yang penuh kehangatan, aku sudah merasakannya" saut Nara.
"Beruntung sekali dirimu Nara, sudah terlahir dari keuturunan bangsawan kini diperistri orang kaya juga" ucap Vivi yang memang benar merasa iri dengan kehidupan sempurna sahabatnya tapi bukan berarti Vivi ada niatan buruk untuk Nara, itu hanya sekedar mengungkapkan suara hati dan tidak lebih.
"Mon, ayo masuk" ajak Radith.
"Iya sayang, ayo kita masuk dan kamu langsung tukar baju ya" ucap Nara yang dijawab anggukan oleh Radith.
"Bibi....Bi...." panggil Nara dengan nada suara sedikit kerasa agar bisa sampai dapur.
"Iya Nyonya Muda"
"Astaga Bibi...aku sudah berapa kali bilang untuk tidak memanggilku seperti itu" cebik Nara yang merasa sangat kesal dengan sikap para pembantunya.
"Baiklah Nyonya..eh maksudnya Nona saja ya No " pinta Bibi yang sungguh tidak enak memanggil hanya dengan nama Nara saja.
"Terserah Bibi saja, oh ya tolong siapakan minuman dan makan siangnya ya Bu" titah Nara.
"Baik Non"
"Ayo aku antarkan kamu ke kamar untuk salin baju" ajak Nara.
__ADS_1
Vivi mengikuti langkah Nara dengan mata yang menunjukan binar kekaguman terhadap kediaman Nara yang sangat besar, luas bahkan semua isi perabotannya bukan barang murah, Vivi tau itu karena memang orang kaya tidak akan mau membeli barang murah.
"Rumahmu sangat bagsu Ra...aku sangat kagum, bisa betah aku tinggal disini jadi pembantu juga tak apa.
Nara menjitak kening Vivi, "kamu ini ya, mau jadi pemabntu hanya untuk tingga dirumah ini dan melepaskan pekerjaanmu secara tidak langsung, apa kamu pikir pekerjaan disini tidak meleahkan? huh...hanya untuk nyapu lantai saja kami bisa menghabiskan waktu hingga dua jam" ucap Nara karena memang itulah kenyataanya.
"Astaga ....dua jam..?" pekik Vivi.
"Aku tidak jadi mau tinggal disini, biasa remuk semua tulangku"
Nara hany terkekeh melihat ekspresi Vivi sahabatnya yang seperti itu, memang benar apa yang dikatana Vivi karena hany untuk mengelap debu debu saja sudah membuat Nara kelelahan laku apa akabr jika harus menyapu dan mengepel, tidak bisa dibayangkan betapa melelahkannya.
"Masuklah, aku ambilkan pakaian dulu" Nara mengantarkan Vivi disalah satu kamar yang pastinya bukan kamar dirinya dan Rajehs ataupun kamar putranya.
"Makasih Nara"
Nara mengambilkan pakaian dan setelah memberikannya pada Vivi, wanita cantik yang sudah menyandang gelar istri sekaligus ibu langsung menuju kamar putranya dan ternyata Radirh masih belum selesai bertukar pakaian.
"Sayang..." panggil Nara dengan lembut.
"Sini Mommy bantu" tawar Nara.
"Terimakasih Mom"
"Lekaslah mandi sayang, Mommy akan munggumu" titah Nara.
"Ok Mom"
Radith memasuk kamar mandi dan kini Nara sedang mengambilkan pakaian untuk Radith tapi gerakannya terhenti kala bunyi ponsel dalam saku bajunya terdengar.
"Mas Rajesh" gumam Nara.
"Hallo Mas..." sapa Nara dengan senyum manis dan suara lembut khas dirinya sekali.
Nara tersenyum mendengar perkataan suaminya dari sebrang sana, tidak ada habisnya Rajesh selalu mengucapkan kata manis padanya, bahkan melalui sambungan telepon pria tampan itu masih mengucapkan kata manis untuk Nara, membuat kekhawatiran Nara yang sempat menghinggapi kini berganti dan menguap entah kemana dan berganti dengan hati yang berbunga bunga dan keyakinan penuh terhadap Rajehs kini diberikan pada suaminya.
.
.
__ADS_1
Bersambung...