
Pagi pagi sekali Kerenza bangun dari tidurnya, disampingnya juga ada Brillo yang memeluk pinggangnya.
Ya, semalam Kerenza tidur di istana milik Brillo sesuai perjanjian mereka dan Brillo menagihnya saat pesta telah usai. Meski berat sebenarnya bagi Kerenza, tapi mau tidak mau ia harus menepati janjinya.
"Hei tuan bangunlah" kata Kerenza.
Tidak ada pergerakan dari pemilik rumah, masih betah dalam posisinya, bahkan semakin mempererat pelukannya. " Hei kau bangunlah.! jangan menyusahkanku." bentak Kerenza.
"Oh my love. Pagi pagi sekali kau sudah memberiku sarapan dengan omelanmu."
"Makanya kau bangun tuan agar tidak mendengar omelanku."
"Beri aku ciuman love agar aku bisa bangun dengan semangat."
"Jangan bertingkah tuan."
"Baiklah jika kau tidak mau maka jangan salahkan aku jika tidak mau bangun." Brillo kembali tidur dan memeluk Kerenza.
"Brillo Jokson! jangan membuatku marah." kata Kerenza penuh penekanan.
"Dan kau jangan membuatku juga kesal love. Karena aku sama sekali tidak suka jika ditolak."
Memutar bola matanya malas dengan perkataan Brillo. " cup." akhirnya Kerenza memilih untuk mengalah, dan mencium sekilas pipi Brillo.
"Jangan disitu! Aku mau kau mencium yang ini." kata Brillo menunjuk bibirnya.
"Kau sangat menyebalkan Brillo.!" kata Kernza saat sudah mengecup bibir lelaki itu.
"Dan kau sangat menggemaskan love."
" Minggir! aku mau mandi."
"Kau mau mandi bersama love." Kerlingan genit Brillo berikan untuk Kerenza yang di balas tatapan tajam oleh wanita itu.
"Cobalah jika kau tidak menyayangi nyawamu lagi."
"Ohh my love aku sangat menyangi nyawaku tapi aku juga menyangkan bila tidak bisa mandi denganmu." terdengar kekehan renyah dari mulu lelaki itu.
"Dasar gila!" umpat Kerenza.
Tidak ada sahutan dari Brillo, karena dirinya kembali merebahkan dirinya di ranjang miliknya, tapi bibirnya tidak berhenti tersenyum. Senyum kemenangan lebih tepatnya.
"Kau mandilah Brillo." kata Kerenza setelah Lima belas menit berada di kamar mandi.
"Baiklah my love, dan kau pilihlah baju di lemari sebelah kiri. Semua sudah tersedia disana."
"Untuk siapa semua pakaian ini Brillo." tanya Kerenza setelah membuka pintu lemari.
"Tentu saja untuk kekasihku. dan dia adalah kau love."
"Jadi kau menyediakan ini untukku.?"
"Tentu saja love."
"Untuk apa Brillo.?"
"Bukankah kau akan tinggal bersamaku love.? tentu saja aku harus menyiapkan semua kebutuhan wanitaku dan mengusahakan kenyamananmu."
"Aku bisa menggunakan pakaian yang aku miliki Brillo.
"No. Aku tidak mau menjadi lelaki yang tidak bertanggung jawab terhadap wanitaku."
"Tapi tidak harus begini."
"Bantahan tidak diterima love. sudahlah segera bersiap."
Mereka kini sudah berada di meja makan, sebelum berangkat terlebih dahulu, menyantap sarapan untuk asupan dalam beraktifitas bagi ini.
"Selamat pagi tuan muda, selamat pagi nona." Sapa Gilmax.
"Ada apa.?" tanya Brillo yang sudah sangat hafal watak asistennya, jika Gilmax sudah berani mengganggu waktunya itu berarti ada hal yang sangat penting.
Kerenza sendiri menatap Gilmax tanpa berkedi, entah kenapa ada rasa tidak rela jika kenyataan mengatakan Kalau Gilmax bukanlah adam.
"Jangan menatap saya seperti itu nona. Saya masih menyayangi nyawaku."
Brillo menoleh memandang kearah Kerenza, dan benar kalau kerenza saat inu sedang memperhatikan Kerenza.
"Jangan menatapnya begitu love, atau aku akan mengahabisinya." Tekan Brillo yang tertangkap adanya kecemburuan.
"Kau berani melakukan hal itu pada pengikut setiamu."
"Tentu saja. Jika dia berani mengusik milikku maka aku tidak akan segan menghabisinya."
Kerenza sedikit terkejut mendengar pernyataan Brillo. Bagaimana mungkin dia akan menghabisi orangnya demi dirinya yang baru saja dikenal.
"Kurasa kau sedang membual."
__ADS_1
"Aku tidak membual, tapi ini adalah pernyataanku atas kepemilikan dirimu. Jadi jangan mencoba untuk berselingkuh dariku love jika kau tidak mau nyawa orang lain tiada."
"Katakan ada apa Gilmax."
"Sepertinya kita harus kembali ke Spanyol tuan."
"Kenapa?"
"Sedikit ada masalah dan salah satu klien kita ingin bertemu langsung dengan anda."
"Kau tau hari ini adalah hari pertamaku memimpin perusahaan cabang. Tidak bisa pergi begitu saja."
"Saya tau tuan muda."
"Kalau begitu kau pastinya tau apa yang harus kau lakukan."
"Tentu tuan. Saya akan menghandle semuanya."
"Bagus. Urus dengan baik tapi jika memang mengharuskan aku datang maka kau hubungi saja aku."
"Baik tuan muda."
"Segerahlah berangkat."
"Baik tuan muda."
Kring kring kring
Bunyi ponsel milik Kerenza mengalihkan perhatian mereka, Gilmax sendiri memilih untuk memgundurkan diri.
"Ada apa."
....
"Baikalah. Saya akan segera datang."
Percakapan berakhir dan Kerenza memilih mengakhiri sarapannya, Bergegas bersiri dan hendak melangkah namun tertahan.
"Kenapa buru buru love."
"Ada tamu di kantor.
"Baiklah kita berangkat bersama. "
"Apa aku tidak merepotkanmu Brillo. "
"Baiklah."
Mereka memasuki mobil milik Brillo dengan supir sudah menunggu didalam. Mobil langsung berjalan menuju tujuan sang yang berkuasa.
"What do you mind my love?" Brillo bertanya karena sepanjang perjalanan Kerenza hanya diam dan fokus matanya hanya tertuju pada jalanan.
"Nothing. Nothing I think about" jawab Kereza menggeleng.
"Sungguh.?"
" Sungguh."
Tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka, Brillo pun memilih untuk bungkam hingga, beberapa menit kemudian mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di halaman gedung perkantoran milik Brayen Group.
"Terima kasih Brillo."
"No problem love, berhati-hatilah.!"
"Baiklah kau juga hati-hati."
mobil kembali melaju, kalau ini tujuannya adalah kantor milik Brollo. Sedangkan kerenza sendiri sudah berjalan memasuki gedung miliknya.
Semua karyawan yang berpapasan membungkuk hormat pada Kerenza yang hnay dibalas anggukan kecil darinya.
"Max."
"Hai Alana."
"Ada apa kau kemari."
"Apa aku tidak bisa menemuimu.?"
"Bukan begitu. Hanya saja bukankah kau harus mengurus perusahaan daddy? lalu kenapa kau malah disini.
"Apa kau lupa Meeting pagi ini Alana? "
"Oh jadi kamu yang akan menjadi perwakilan dari perusahaan Daddy.? "
"Iya tepat sekali. Aku yang akan mewakili Daddy."
"Oh baiklah. Silahkan tunggu diruang rapat saja Max. Aku masih ada urusan."
__ADS_1
"Ada apa denganmu Alana? kenapa kau sangat berubah? apa karena kak Erland sudah tiada sehingga kau tidak menganggap kami lagi sebagai keluargamu."
"Aku tidak begitu Max."
"Jika bukan lalu apa ini.?"
"Sudahlah Max jangan mengada ngada kamu. Lebih bail kau tunggu saja di ruang meeting."
"Baiklah, tapi kau harus makan siang denganku nanti."
"Apa? makan siang? maaf Max aku tidak bisa."
"Tunjukan kalau kamu tidak berubah Alana. Maka temani aku makan siang."
"Baiklah jika itu maumu."
Max dengan senang hati pergi menuju ruang rapat, sedangkan Kerenza melanjutakn kegiatan dan tak lama Hiebert datang dengan membawa berkas.
"Maaf nona Kerenza."
"Bagaimana?"
"Ini berkasnya nona."
"Gilmax memang berasal dari Spanyol, dan sudah mengabdi pada tuan Brillo sejak lima tahun yang lalu, soal keaslian identitas memang benar itu asli tanpa rekayasa atau perubahan data. Kalau menurut saya hanya wajah mereka saja yang memang mirip tapi tidak dengan identitas.
"Tapi bukankah perusahaan ** Corp baru tiga tahun ini melejit."
"Benar nona, soal perusahaan memang baru go internasional tiga tahun terkahir ini, tapi beberapa tahun sebelumnya mereka sudah merintis perusahaan tapi masih berskala kecil saja."
"Kamu benar benar tidak merasakan kecurigaan Hiebert."
"Tidak sama sekali nona."
"Bagaimana kau menyakinkan hal itu."
"Karena orang orangmu adalah anggota yang selalu bisa diandalkan dan yang pastinya tidak akan membuatmu kecewa Keren." kata Hiebert penuh keyakinan dan ketegasan.
"Baiklah. Aku percaya padamu, dan kau suruh Mattew mempersiapakn meeting pagi ini."
"Semua sudah beres setengah jam yang lalu nona."
"Baiklah terimakasih. Kalian memang selalu bisa aku andalkan."
"Itu sudah tanggung jawab kami sebagai wujut balas budi kami untukmu."
"Sudahlah. Jangan kau katakan itu lagi, karena aku ikhlas membantu kalian semua."
"Kami tau itu. Maka kami juga ikhlas menjadi pengikutmu."
"Aishhh kau ini. sudahlah aku mau meeting."
Waktu sudah menunjukan waktu siang hari yang berarti sudah waktunya makan siang. Krenza dan Max sudah berada di sebuah restorqn malah dan elit sesuai janji mereka yang akan makan siang bersama.
Sedangkan Brillo, siang ini dia berjalan penuh gesa menuju mobilnya bahkan mengemudikan mobilnya dengan cepat. notifikasi pemberitahuan keberadaan kekasihnya direstoran ditambah lagi laporan anak buahnya yang selalu mengawal Kerenza dari jauh mengatakan kalau wanitanya sedang makan siang dengan pria lain.
"Berani sekali kau makan siang dengan pria lain love, aku akan memberimu pelajaran nanti."
Masih dalam perjalanan menunu restoran, pikirannya hanya tertuju pada Kerezna dan hukuman apa yang akan diberikannya, dan tak lama setelah itu mobilnya sampai juga di parkiran restoran.
"Love, kau disini rupanya." kata Brillo saat sudah sampai di tempat Kerenza dan Max duduk, meraih pinggang Kerenza dan kemudian mencium dan menghisap kecil bibir itu.
"Apa yang kau lakukan." Teriakan Kerenza dan Max secara bersamaan.
"Tentu saja mencium wanitaku, memangnya apa lagi."
"Alana wanitamu." tanya Max.
"Iya dia wanitaku."
"Katakan Alana apa kau wanita Tuan Brillo?"
"Kau sudah tau, jadi aku tidak perlu lagi menutupinya."
" Tapi bagaimana dengan kak Erland."
"Bukankah kakakmu sudah tiada."
"Tapi bukan berarti kau dengan mudah mencari lelaki lain Alana, kau lupa kalau kau sudah mengucapkan janji suci bersama kak Erland."
"Aku ingat. Lalu apa aku harus menunggu orang yang sudah tiada."
Perdebatan masih terus berlanjut antara Kerenza, Brillo dengan Max yang terkejut dengan kenyataan tanpa tau kalau tidak jauh dari mereka ada yang sedang mangawasi mereka dengan pakaian seperti orang kalangan bawah.
"Jangan biarkan masalah perusahaanya selesai dengan mudah hingga pimpinannya yang langsung turun tangan. Jika sudah begitu maka target sesungguhnya akan mudah kita tangkap." ucap seseorang
"Baik tuan. Anda tidak perlu khawatir soal itu. Aku pastikan semua berjalan sesuai rencana anda."
__ADS_1
TBC