BERMULA DIHARI PERNIKAHAN

BERMULA DIHARI PERNIKAHAN
Chapter 38


__ADS_3

Brillo sampai di kediaman Kerenza tapi ternyata belum sampai di kediamannya karena ternyata Setelah dari mall dia langsung ke kantor lagi untuk menyelesaikan pekerjaannya.


" Tuan muda Brillo Jokson." sapa Caroline saat dia melewati Ruang tamu ternaya Brillo sudah ada disana."


Brillo tidak menjawab sapaan dari Caroline tetapi matanya menatap tajam kearah pelayan, idak tahu entah apa yang dipikirkannya tetapi yang pastinya sesuatu tentang pelayan Setia kediaman Brayen Wate.


" Kenapa tuan muda Brillo datang kemari? sedangkan nona muda Alana sedang tidak ada di rumah." kata Caroline yang masih terus saja berusaha berbasa-basi.


" Aku tidak butuh anda basa basi dengaku, aku tau kau tidak menyukai kedatanganku bukan."


" Tentu aku menyukainya tuan, tidak mungkin tidak. karena saya tidak berhak melarang seseorang bertemu di kediaman tuanku."


" Ck, kuperingatkan kau untuk tidak melanjutkan rencanamu terhadap Kekasihku, aku membiarkanmu sampai kini karena Alana ku masih baik-baik saja tetapi jika nanti dia terluka nanti maka tidak akan ada ampun untukmu."


Brillo berkata penuh dengan penekanan memperingatkan wanita di depannya untuk tidak melanjutkan rencana bodohnya yang ingin melenyapkan kekasihnya, bukan dia tidak tahu hanya saja masih ingin mencari Siapa dalang dari semua.


Caroline tentu saja kaget mendengar ucapan Brillo terlebih lagi melihat ekspresi Pria yang kini sudah berbeda dari yang sebelumnya, ekspresi yang kini menggelap seperti seekor macan yang siap menerkam buruannya tanpa ampun.


Tetapi seolah Caroline memiliki kekuatan lebih dari Brillo, sehingga dia masih tidak mempedulikan ancaman dari tuan muda yang jelas-jelas dia tahu bagaimana sepak terjang pria itu selama tiga tahun ini.


Mungkin karena dia berpikir bahwa orang yang bekerja sama dengannya adalah seseorang yang memiliki kekuasaan yang tidak kalah dari Brillo ditambah dukungan mereka yang sudah terkenal di dunia hitam jadi ia gelap mata dan merasa yakin jika Brillo tidaklah ada apa-apanya dibandingkan power mereka.


Tapi meskipun begitu dia tetap bersikap tenang seolah tidak tahu apa arti dari pria ucapan yang ada di hadapannya ini.


"Apa maksud dari ucapanmu tuan muda? Saya tidak mengerti "


Carolina berekspresi seolah dia tidak paham pembicaraan Brillo.


Melihat ekspresi wanita itu sungguh memuakkan bagi Brillo, tetapi ia harus bisa menahan dirinya.


Karena dia bukan orang yang sembarang menghukum seseorang jika tidak menyakiti orang-orang nya, tetapi walau seperti itu tetap waspada dan pengawalan ketat terhadap kekasihnya tetap diberikan.


" Ck aku sangat muak melihatmu, Lebih baik kau pikirkan lagi tawaran ku ini semua demi keselamatan nyawa mu."


Usai berkata itu Brillo kemudian pergi meninggalkan ruang tamu dan memasuki kamar kekasihnya Alana.


" Tuan, Brillo Jokson mengetahui semua rencana kita, dan tentang aku yang ingin melenyapkan Alana."

__ADS_1


Sebuah pesan Ceroline kirimkan pada tuannya setelah memastikan Brillo benar benar masik ke dalam kamar Kerenza.


Sementara seseorang yang menerima pesan itu sangat marah, karena Brillo Jokson yang selalu menjadi penghalang dirinya untuk menguasai Kerenza.


" Sia**n..! benar benar sia**n" umpatnya " Dia benar benar ingin aku hancurkan juga rupanya."


Lagi-lagi semua barang yang sempat dibereskan yang ada di dalam ruang kerjanya menjadi berantakan kembali karena jadi pelampiasan kemarahan nya.


Sementara pengikut setianya hanya bisa menahan agar tidak melakukan hal bodoh lagi.


"Tuan tenanglah!" ucapnya


" pikirkan untuk cara menyingkirkannyatapi sepertinya target kita kali ini adalah Brillo Jokson, kita harus menyingkirkan nya lebih dulu baru Setelah itu kita singkirkan Alana." ujarnya sembari menahan kebutuhannya agar tidak menyakiti dirinya.


" Bagaimana cara menyingkirkan dia! sementara ada pengikutnya yang siap melayani dan menjadi temeng keselamtannya."


" Kita pakai cara halus tuan."


" Katakan apa yang harus kita lakukan, jangan membuatku frustasi dengan kedatangan dirinya sebagi kekasih Alana."


"Ku tunggu hasilnya."


Kerenza sudah tiba di kediamannya, beserta Mattew yang menjadi supirnya, dan di ikuti Kaisar di belakanganya dangan mobilbya sendiri.


" Brillo." Gumam Kerenza yang melihat mobil kekasihnya sudah terparkir di sana.


Kerenza berjalan dengan cepat memasuki rumahnya, menyusuri pandangannya di ruang tamu tetapi tidak menemukan Brilo disana.


" Bibi Caroline...! Bibi." Kerenza berteriak memanggil pelayan rumahnya karena tidak menemukan keberadaan Brillo disana."


"Kau sudah datang nona Alana." sapa Caroline


" Dimana Billo." tanya Kerenza masih mengedarkan pandangannya.


"Dia berada di kamar anda nona Alana, aku sudah melarangnya tapi tidak di hiraukan oleh tuan muda, apalaha dayaku yang hanya seorang pelayan ini."


Caroline berkata ingin menari simpati Kerenza berharap Kerenza akan bersimpati dan kasihan padanya, tapi ternyata dialuar dugaannya respon Kerenza malah menyudutkanya.

__ADS_1


" Kenapa kau berani sekali melarang kekasihku memasuki kamarku."


Caroline terkejut melihat ekpresi Kerenza yang seperti marah karena sudah melarang Brillo, walau sebenarnya tidak, dia hanya ingin menarik simpati Kerenza tapi gagal.


" Maaf nona muda, saya hanya berpikir jika kamar nona hanya boleh di masuki oleh tuan Erland."


" Jangan menyebut namanya dengan mulut kotormu Caroline, jika aku mau aku bisa mengusirmu dari sini."


" Jangan nona Alana, aku mohon jangan lakukan itu."


" Jika kau tidak mau aku tendang keluar dari sini maka jaga lah sikapmu, kau ingat! jika kau bisa bertahan disini karena budi pengabdianmu pada Brayen Wate maka aku bisa menendangmu karena kesalahamu kepada Kerenza Alana Wate."


Ya, mungkin mereka tidak tau jika Kerenza sudah mengetahui siapa Caroline bahkan perkaran racun pembunuh saraf yang id campurkan ke dalam sandwich pagi tadi juga di ketahui oleh Kerenza, tapi dia bersikap seolah tidak tau dan mengikuti alur permainan pelayan pribadi keluarganya ini.


Carolien semakin memucat mendengar perktaan Kerenza yang seolah memberinya peringatan untuk tidak lagi melakukan kesalahan fatal yang akan berimbas buruk padanya.


Tapi yang menjadi pertanyaanya apa Kerenza sudah mengetahui siapa dia, dan apa rencananya atau apa Kerenza sudah tau siapa yang menjadi raja dari para pion itu.


Tidak, Caroline tidak tau hal itu tapi satu hal yang pasti dia harus bisa lebih berhati hati jika ingin bertindak atu sebaiknya dia pikirkan lagi ingin meneruskannya atau berhenti saja.


" Apa sebenarnya maksudmu nona Alana.?"


Pertanyaan bodoh yang masih saja di lontarkan oleh Caroline untuk memastikan semuanya, tanpa tau itu akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri jika Kerenza menginginkan membongkar semua kejahatannya maka habislah dia.


" Ku rasa kau lebih tau karena kau yang sudah melakukannya."


Kereza menjawab pertanyaan Caroline dengan tenang namun penuh penekanan di dalamnya, seolah mengatakan untuk tidak lagi berpura pura bodoh dihadapannya.


Kerenza sudah tau semuanya, perihal Caroline sejak awal di mata matai sampai racun yang berniat di berikan padanya.


Namun yang menjadi pertanyaannya dari mana Kerenza mengetahui hal itu, sememtara selama ini dia sibuk dengan pekerjaannya dan sibuk dengan misinya mencari tau siapa yang sudah menghabisi suaminya.


TBC


maaf ya readers tercinta jika ada yang kurang suka dengan kareakter Kerenza, tapi author disini tidak mengatakan kalau Kerenza membentuk geng mafia atau semacamnya, tapi disini author menjelaskan tentang Kerenza yang sedang mencari dalang dari kematian Erland dan Brayen Wate yang di anggap Kerenza memiliki keterkaitan.


jadi sekali lagi maaf jika readers kurang puas ya🙏

__ADS_1


__ADS_2