
Falshback...
Waktu ketika Kerenza kembali dari acara ulang tahun rekan kerjanya yang membuat dia bertemu dengan wanita misterius itu.
Kerenza yang berjalan memasuki kamarnya tapi kembali berhenti karena ingin menagatakan pada Caroline untuk membuatkanya teh hangat, tapi niatnya urung saat mendapati gerak gerik Croline yang mecurigakan terlebih lagi saat dia mengirimkan sesuatu melalui ponselnya seperti orang yang sedang melaporkan sesuatu.
" Siapa yang di hubungi Caroline." batin Kerenza.
Kerenza awalnya acuh tidak mau mempedulikanya tapi lagi lagi pembicaraan Caroline dan Hiebert membuat dia semakin tertarik ingin mengetahui siapa mereka dan apa yang mereka sembunyikan.
"Untuk siapa kau bekerja."
" Tentu saja Pengabdianku masih untuk mendiang Tuhan Bryan Wate."
" Jangan menipuku nyonya! kau tau kalau aku tidak akan segan kepada siapa pun yang berani menghianati nona muda aku ."
"Kau pikir aku menghianatinya? sepertinya anda salah sasaran tuan, lebih baik perhatikan lagi siapa sebenanrnya yang berhianat. Dan kau sendiri sebenarnya setia pada siapa? nona Alana atau pada seseorang."
Kerenza bisa melihat ada ketegangan di antara keduanya, saling menantang jelas seklai terlihat.
" Siapa mereka? apa benar ada penghianatan di sini." lagi lagi Kerenza membatin menerka nerka apa yang terjadi.
Kerenza memilih berjalan kembali menuju kamarnya untuk mebersihkan dirinya sebentar sebelun nanti dia akan menanyakan langsung kepada Hiebert arti dari percakapannya dengan Caroline, dia harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang sudah berhianat sebenarnya pada dia.
Kerenza berjalan keluar dari kamarnya setelah selesai dengan kegiatan membersihkan dirinya, ia ingin menuju kamar yang ber Pertanyaan langsung tentang semua yang menjanggal di dalam bendanya.
Tapi lagi-lagi kakinya terhenti saat mendengar percakapan Hiebert melalui telepon.
" Kami sudah dirumah."
.....
" Baik , akan saya pantau terus. kau tidak usah khawatir karena saya akan terus melaporkanya."
" Baiklah akan saya cari tau, dan saya akan terus mengawasinya."
"tidak usah khawatir akan hal itu."
" Baiklah sampai jumpa."
Kerenza kembali terpaku mendengar percakapan Hiebert, yang seolah bersikap menjadi mata mata.
Tapi meski begitu Kerenza tetap memasang telinganya untuk mendengarnya dan berharap Hiebert akan mengatakan atau menyebut siapa yang sedang menelponya.
Tapi Kerezan tidak mendapatkan petunjuk karena percakapan Hiebert sudah terputus dan dia segera menghampiri Hiebert dengan tatapan penuh selidik.
__ADS_1
" Siapa yang kau hubungi Hiebert."
" Saya sedang berbicara dengan miguel Keren, dia menanyakan keberadaan kita."
Hiebert mejawab penuh dengan ketenangan, tidak memperlihatkan kegugupan atau ketegangan sama sekali.
" Kau yakin bicara dengan Miguel?? Alis Kerenza terangkat naik ke atas.
" Tentu saja."
" Berikan ponselmu." pinta Kerenza.
" Ini ambilah."
" Baiklah aku percaya. Dan maaf jika aku mencurigaimu." sesal Kerenza.
" Tidak apa Kerenza, aku tau kau melakukan ini karena ada alasannya dan aku tidak masalah akan hal itu."
" Baiklah aku pergi ke kamar ku lagi. Oh ya besok kita ke markas saja membahas masalah wanita itu.
Kerenza setelah memasuki kamarnya yang mengambil ponsel miliknya dan menelpon Miguel orang kepercayaannya yang berada di Paris.
" Miguele apa Hiebert ada menghubungimu?"
" Tidak Keren, dia tidak menghubungiku. Memanganya ada apa?" tanya Miguel
" Tidak ada, aku hanya bertanya."
" Baiklah jika begitu aku tutup telolponnya."
Kerenz menutup ponselnya, raut wajahnya berubah muram memikirkan Hiebert yang membohonginya. Tidak habis pikir jika pengikutnya ada yang mulai tidak setia.
"Aku pasti akan mengetahui siapa kalian dan apda siapa kau bekerja." gumam Kerenza
Tengah malam, saat dia dan Brillo tidur bersama Kerenza bangun dan memasuki ruang kerjanya mengambil alat penyadap yang dia simpan disana dan mulai melakukan pekerjaanya sendiri.
Kerenza berjalan lebih dulu menuju kamar Caroline dan memasukinya kemudian meletakkan alat penyadap yang sama sekali tidak terlihat bahkan jika disentuh sekalipun di pakaian seragam Caroline dan satu lagi letakan di kamar itu.
Selesai dengan itu Kerenza kembali bejalan menuju parkiran untuk menempelkan play penyadap di kendaraan Hiebert dan Kaisar, dan kali ini tujuannya adalah untuk mengetahui Kemana saja mobil itu membawa pemiliknya.
Berlanjut pada Mattew, Kerenza melakukan hal yang sama menempelkan alat penyadap tapi kali ini memilih untuk menempelkan nya di bagian tubuh Mattew agar sewaktu-waktu dia bisa mengetahui apa saja yang berkaitan dengannya mengingat pria itu selalu berada disampingnya setiap saat.
Dan hasil yang ditemui dari usahanya waktu itu adalah Caroline yang berniat untuk membunuhnya, terlihat jelas sekali gerakan Caroline saat menuangkan racun di dalam sandwich milik Kerenza.
Walau sebenarnya Kerenza sangat marah, tapi dia tidak mau bertindak gegabah, dia harus menahan diri untuk tidak menghabisi Caroline dan akhrinya dia mengikuti permainan pelayan itu.
__ADS_1
Flashback off...
" Jadi kau sudah paham maksudku bukan." ucap Kerenza yang langsung pergi meninggalkan Caroline tanpa mempedulikan reaksi dari pelayan itu.
Sementara Caroline segera pergi meninggalkan ruang tamu dan menuju kamarnya untuk melaporkannya pada tuannya.
" Tuan, saya sepertinya masih berada di situasi yang terpojok."
........
" Baik tuan saya akan lebih berhati hati lagi, dan untuk sementara saya harus menghentikan rencana kita kita dulu."
.........
" Baik tuan saya akan lebih berhati hati lagi.
Caroline berbicata dengan gamblangnya kepada tuannya tanla tau jika seseorang sudah mendengar semua percakapannya.
Kerenza tersenyum di tengah langkahnya saat mendengar Caroline yang sedang berbicara.
" Ck, dasar bo**h! mau licik tapi tanggung." gumam Kerenza yang terus melangkahkan kakinya.
Kerenza memutar knop pintu kamarnya, dan mendorongnya agar bisa terbuka dan disana ada pemandangan indah memanjakan mata.
Kerenza melihat Brillo sedang merebahkan dirinya dikasur miliknya, terlentang dengan tangan yang dilipat dan di taruhkannya di kening dan sebelah kaki kananya di lipat hingga menjulang ke atas.
" Kenapa cara dia tidur sama seperti Erland." batin Kerenza.
Kerenza terus mendekat dan mendekat hingga langkahnya terhenti tepat di kaki ranjang samping Brillo.
" Kenapa aku baru memperhatikan kalau wajahnya sedikit mirip dengan Erland." gumam Kerenza.
Kerenza terus saja memperhatikan Brillo dengan seksama dan sibuk dengan pikirannya menerka nerka serta memberi perbandingan hingga tak sadar jika yang dia perhatikan sudah terbangun dari tidurnya.
Brillo membuka matanya dan melihat Kerenza yang sedang terpaku di sampingnya dan tidak menyadari dirinya yang sudah terbangun, sepertinya kekasih hatinya iti sedang berpikir keras.
Brillo bangun dan mengubah posisinya menjadi duduk berpikir dengan begitu Kerenza akan merasakan pergerakannya, tapi ternyata Kerenza tetap tidak bergeming dengan pergerakan Brillo.
Brillo merengkuh tubuh Kerenza hingga wanita itu tersentak dan duduk di pangkuan Brillo, mulai mencium kening, kedua mata dan pipi dan berakhir di bibir Kerenza tapi hanya sekedar kecupan " Love you my angel." ucap Brillo tepat di telinga Kerenza.
Kebiasan yang dulu dilakukan Erland jika sedang bersama kekasihnya, dan jujur itu membuat Kerenza tersentak dan menyadari ssuatu yang membuat dia spontan menyebut satu nama.
" Erland."
TBC
__ADS_1