BERMULA DIHARI PERNIKAHAN

BERMULA DIHARI PERNIKAHAN
Chapter 37


__ADS_3

" Katakan siapa yang sudah membayarmu."


" Tidak ada."


Begitu santainya wanita yang bernama Livia itu menjawab tidak ada, dia pikir bisa membodohi mereka yang ada di tempata itu.


Apa dia pikir semua yang ada di situ bodoh dan dan tidak tau akan konspirasi seperti yang dilakukan, dengan menjawab tidak ada yang menyurunya maka akan di percaya begitu saja? tentu saja tidak.


" Tuan apa sebaiknya kita beri pemanasan dulu? mungkin dengan begitu dia aliran daranya bisa berjalan pada urat nadi yang semestinya dan dia akan menjawab setiap pertanyaamu."


Gilmax memeberi usulan yang bisa di katakan gila, karena bagiaman bisa seorang yang terkenal dingin bisa membuat lelucon seperti ini.


Tapi permainan apa yang di maksud Gilmax belum ada yang tau bukan, bahkan Livia yang berfikir mungkin Gilamax sedang membual.


" Lelucon macam apa ini tuan? lepaskan aku karena aku tidak punya urusan dengan kalian."


" Ck, wanita ini benar benar menguji kesabaranku tuan."


Hiebert sudah tidak bisa lagi menahan dirinya melihat sikap wanita yang ada dihadapan mereka ini seolah sedang menantang mereka.


"Hei tuan! aku tidak memiliki urusan dengan kalian, jadi lepaskan aku karena aku masih memiliki urusan." teriak Livia.


" Urusan menipu kekasihku begitu."


" Apa maksudmu tuan muda? aku merasa aku tidak mengenal anda dan aku tidak menipu kekasihmu, pasti kau salah orang."


" Aku salah orang? hahahahaa....Kalian dengar dia mengatakan aku salah orang." kata Brillo yang tawanya tidak seperti biasanya.


Berjalan medekat dan berjongkok sedikit kemudian tanganya bergerak meraih pipi wanita itu dan menekanya kuat membuat Livian meringis sakit.


" Sudah cukup aku memberimu waktu untuk bermain! jangan mempermaikanku dan katakan siapa yang sudah membayarmu."


Kali ini suara Brillo terdengar sangat dingin, aura gelap seketika mengambil alih dirinya dan hal itu sukses membuat Livia ketakutan.


" Tidak. aku tidak mengerti apa yang kau maksud tuan." masih bertahan dengan pendiriannya.


" Kau yakin tidak mengerti? katakan siapa yang ingin kau temui siang ini."


" Aku aku mau menemui teman lamaku."


" Teman lama" ulang Brillo yang semakin menekan jarinya pada pipi Livia dan mebuat wanita itu kembalu memekik kesakita.


" Sudah aku katakan jangan menipuku.!" Bentak Brillo.

__ADS_1


" Aku tidak menipumu tuan."


" Kau tau siapa yang ingin kau jebak itu? dia adalah Kerenza Alana Wate kekasih dari seorang pengusaha ternama Brillo Jokson! apa kau tau siapa Brillo Jokson."


Wajah Livia memuncat mendengar kenyataan bahwa wanita yang ingin di habisnya adalah kekasih dari pengusaha ternama Brilo Jokson, sungguh Jika saja dia tahu maka dia tidak akan mau mengambil resiko sebesar itu.


Tidak ada satu orang pun yang tidak mengenal Brilo Jokson di duania bisnis dan bagaimana kepemimpinan dan kepiawaiannya dalam urusan bisnis serta kekejamannya yang tidak memberi ampun kepada seseorang yang mengusiknya.


Begitu pula dengan Livia yang sudah mendengar tentangnya, sungguh Dia sangat sangat menyesal sudah mengusik ketenangan tuan muda yang kejam itu.


Tapi apa yang bisa dilakukan sekarang, menyesal susah tidak berarti dan memohon pengampunan pun belum tentu akan di berikan padanya.


" Kurasa kau pasti mengenal bagaimana keteran diriku bukan."


" Ampun tuan muda. Ampun, saya tidak tau jika dia adalah kekasih anda, mohon maafkan saya tuan muda."


Livia bersimpuh di kaki Brillo memohon pengampunan agar sia dia di beri keringanan oleh Brillo.


" Katakan siapa yang sudah membayarmu."


" Aku tidak bisa mengatakannya tuan muda."


" Jadi kau memilih berakhir dari pada mengakui siapa yang membayarmu."


Livia adalah salah satu anggota mafia yang selalu menerima bayaran untuk menghabisi seseorang atau melakukan pekerjaan yang seperti yang ingin dia lakukan pada Kerenza tapi gagal karena sudaj di ketahui oleh Brillo.


Tapi perihal kesetian, tentu saja Livia memegang teguh kesetian terhadap tuan yang sudah membayar mereka, meski nyawa adalah taruhannya tetap tidak akan membongkar identitas siapa yang membayarnya


Jadi tidak heran jika Livia bersikap seperti itu sekarang ini walau merasa takut pada Brillo tapi kesetiaaan dan sumpahnya jauh lebih penting dan jauh lebih dari nyawanya sendiri.


" Ku beri kesempatan untuk kau katakan siapa dan aku akan mengampunimu."


Livia tetap tidak bergeming saat Brillo memberi penawaran untuknya, tetap dia pada pilihanya rela mati asal tidak membuka mulutnya.


" Gilmax!" teriak Brillo.


" Iya tuan muda."


" Kau tau apa yang harus kau lakukan bukan."


" Tentu tuan muda."


Livia yang mendengar hal itu menjadi sangat takut, jelas dia tau maksud dari perkataan itu sudah pasti dia akan di siksa oleh Gilmax karena dia tidak akan di biarkan begitu saja tanpa siksaan.

__ADS_1


" Jangan.... jangan aku mohon jangan tuan..! jangan lakukan itu padaku ampuni aku tuan."


Livia berteriak meminta ampun pada Gilmax yang sudah membawa cambuk ditangannya dan mendekat ke arah Livia.


" Akhhhhh"


Terdengar teriakan dari Livia untuk pertama kalinya saat tali cambuk mengenai kulit punggung dan lengannya.


" Itu pilihanmu maka nikmatilah dengan baik." ucap Brillo yang masih terus menyaksikan Gilamx mencambuk tubuh Livia.


" Akhhhhh sakitttt...."


Lagi lagi Livia berteriak saat cambukkan yang entah sudah keberapa kali menyentuh kulitnya.


" Masih tidak mau mengaku nona."


" Aku mohon ampuni aku, aku tidak bisa mengatakannya." jawab Livia dengan nafas yang tersengal.


" Gilmax ganti alat permainanya." titah Brillo yang merasa tidak ada gunanya bernegosiasi dengan wanita itu.


" Selesai dengan itu, mutilasi saja tubuhnya dan bagikan di kebun biantangku." lanjut Brillo


" Dengan senang hati tuan muda."


Livia kembali berteriak saat pisau cukur menggores dan me jatuhkan dagingnya dan hal itu lagi lagi pekerjaan Gilamx.


Sementara Brillo pergi meninggalkan tempat itu dan berniat untuk mengunjungi Kerenza yang pasti saat ini sedang merasa sangat kesal karena misinya gagal.


Sementara itu, ruang kerja seseorang sudah sangat berantakan akibat kekesalannya karena rencananya gagal berjalan.


Bruk Bruk


" Sia**n...!!!! jalang itu tidak bisa di andalkan...! kenapa mereka semua tidak bisa di andalkan, Livia tidak berhasil dan malah di tangkap dan Carilone tidak berhasil membujuk Kerenza memakan makanan yang sudah dia racuni itu."


Dia berteriak dan membanting semua barang yang ada di dalam ruang kerjanya melampiaskan amrahnya karena kegagalan orang suruhannya.


" Tenang tuan, aku mohon tenanglah."


" Kau mengatakan aku untuk tenang ha! bagaimana bisa aku tenang, ini sudab kesekian kalinya rencanaku gagal dan itu karena kedatangan si Jokson si**an itu yang menjadi pelindung Alana.'


" Kita pikirkan cara lain tuan, dan itu harus benar benar matang dan lebih baik kita libatkan orang orang yang sudah berpengalaman dalam hal ini agar rencana kali ini bisa berjalan."


" Katakan apa rencanamu."

__ADS_1


TBC


__ADS_2