BERMULA DIHARI PERNIKAHAN

BERMULA DIHARI PERNIKAHAN
Chapter 82


__ADS_3

Keesokan Pagi semua beradad di meja makan tak terkecuali Cloe dan kedia anakkya berada disana, wanita paru baya itu nampaknya agak segan karena banyaknya orang di meja itu, dan hanya secuil yang di kenali olehnya.


"Mom, kenapa kau tidak makan?" tanya Kerenza.


"Ah ya, mom makan" jawab Cloe.


Mereka kembali diam sedangkan Gilmax sudah resah sedari tadi karena pertanyaanya belum terjwab, apa lagi mengingat Anna sekarang berada di hadapannya membuat dia semakin di rundung rasa penasaran akan hal itu semua, mungkin wajar jika Anna tidak mengenali Brillo Jokson karena wajahnya yang kini sangat jauh berbeda tapi Gilmax tidak melakukan operasi lalu kenapa kekasihnya itu tidak mengenalinya.


Gilmax terus bertanya dalam hati sembari matanya menatap lekat Anna yang ada di hadapannya, dia belum menemukan jawabannya, padahak sangat mudah sebenarnya alasanya yaitu karena justru Brillo sudah operasi wajah dan nama yang berubah membuat Anna tidak berpikir jika dia adalah Erland dan Gilmax sendiri pun penampilannya saagat jauh berbeda dan namanya pun berubah, ditambah tidak ada penjelasan sama sekali jadi wajar bukan jika Anna tidak mengenalinya.


"Makan makananmu Gilmax, karena kita akan akan segera berangkat! jangan sampai uangku hilang hanya karena dirimu!" bariton Brillo membuat Gilmax tersadar.


Cloe melihat satu persatu dan dia tidak menemukan Catline disana, mendadak perasaan khawatir merajai hatinya, cemas jika terjadi sesuatu dengan putri sulungnya.


"Girl, dimana Catline? kenapa tidak ikut makan dengan kita?"


Tidak ada yang menjawab membuat Cloe semakin gelisah "hei girl! katakanlah sesuatu!" desak Cloe.


Kerenza menyelesaikan acara makananya kemudian, beralih menatap Cloe dan berkata "mom, aku ingin menyelesaikan pekerjaanku barulah kita bicara jika aku sudah kembali" jawab Kerenza.


Kerenza bangkit berdiri di ikuti Elsa Mattew dan Hiebert "May, kau jaga mommy dan da adikku, jangan biarkan mereka keluar pasti akan ada bahaya yang menunggu mereka, pastikan keadaanya dan hanya dokter itu yang boleh memasuki ruangan!" ucap Kerenza dengan tegas


"Baik nona" jawab Maydeline.


"Dan kau Anna, pastikan kebutuhan keluargaku terpenuhi!"


"Baik nona muda" jawab Anna.


Mereka pergi, di susul dengan Brillo dan Gilmax, keluar dari rumah dan kini Kerenza, Brillo dan Gilmax satu mobil, Gilmax sengaja melakukan hal itu kerena ingin bertanya kembali masalah semalam.


"Ada apa denganmu Gilmax?" tanya Brillo yang menangkap raut gelisah Gilmax, padahal kini dia sedangn sibuk mendusel dusel leher Kerenza dengan mulutnya.


Gilmax melirik tuannya, dia berdecih dan mengumpat dalam hatinya melihat sikap tuannya yang dari dulu tetap sama tidak tau malu mengumbar kemesraan di depan umum, "ck, dasar tidak tau malu!" umpat Gilmax.


"Jangan mengumpatku Gilmax!" seru Brillo dengan suara beratnya.


"Si*l! dia tau kalau aku mengumpatnya!" batin Gilmax lagi.


"Katakan saja yang ingin kau katakan jangan bicara dalan hati seperti orang bodoh begitu" ucap Brillo yang kini sudah melihat lurus kedepan dengan wajah datarnya.


Ragu ragu Gilmax membuka mulutnya, melihat semalan bagaimana ekspresi nona mudanya "em begini nona, bagaimana bisa Annaku ada ada bersama mu lagi?" tanya Gilmax.


"Siapa Anna mu yang kau maksud" tanya Kerenza dengang kening mengerut.


Gilmax mendengus kesal mendengar pertanyaan nona mudanya yang berpura pura tidak mengerti, "tentu saja pelayan pribadi noan itu kekasihku!" rutuk Gilmax.


"Jagan bicaramu Gilmax! bersikap lah yang sopan pada istriku!" sentak Brillo.


"Maafkan aku tuan muda"


"Kenapa kau mengatakan dia kekasihmu? jika kau tidak mencari tau keberadaanya" tanya Kerenza dengan sura beratnya.

__ADS_1


"Aku sudah mengerahkan seluruh pengawal dan tenagaku sendiri untuk mencari keberadaanya tapi tidak aku temukan nona, dan aku sangat kaget setelah aku kembali dari peristiwa naas itu, aku menemukan dirinya tapi dia tidak mengenaliku" ucap Gilmax dengan desahan frustasi.


Kerenza melihat wajah frustasi Gilmax, "katakan padanya siapa dirimu maka dia akan mengenalmu"


"Aki harus mencari tau dulu apa yang terjadi yang tidak aku ketahui tentang kekasihku nona, baru aku akan mengatakan siaoa diriku"


"Tidak perlu, karena kita akan menemui siapa pelakunya" ucap Kerenza, "Caroline mengurung dirinya sekama ini di ruang rahasia miliknya di dalam kediamanku yang sialnya aku tidak pernah mengetahui tempat itu selama ini" lanjut Kerenza mendahului Gilmax yang ingin bersuara.


Gilmax mengepakan tanganga mencekram setir mobil dengan kuat mendengar kenyataan jika selama ini kekasihnya tidak pulang kembali kenegaranya tai di sekap oleh wanita tua yang selama ini selalu bersikap biasa saja seolah tidak melakukan kesalahan.


"Jangan lampiaskan amarahmu di mobilku, lakukan nanti jika kau susah beretmu dengannya" ucap Kerenza membuat Gilmax kembali menormalkan perasaanya setelah sadar akan apa yang di lakukannya.


Sampai di markas Kerenza, semua anggota yang mendiami markas menyambut dengan hormat kedatangan sang bos, mereka sudah bsa menebak akan apa yang terjadi beberap waktu kedepan, kerena mereka sudah terbiasa dengan keadaan yang seperti itu jika ada buronan mendiami ruang eksekusi.


"Selamat datang nona muda, tuan muda" sapa Micke yang menjadi perwakilan dari mereka semua, tapi tidak ada yang menjawab sapaan itu, hanya anggukan kecil yang mereka berikan.


Brillo dengan di dampingi Kerenza dan yang lainnya mengekor dari belakang berjalan menuju ruang tahanan, tidak ada senyum, tisak ekspresi melainkan hanya wajah dingin yang tercetak dari mereka semua, terlebih Gipmax yang sudah tidak sabar ingin membalas perbuatan Caroline pada kekasihnya, dan sepertinya dia yang akan mengambil alih pekerjaan Kerenza menguliti tubuh buruan.


Sampai di depan penjara, pintu di buka oleh penjaga yang ada disitu, dan semuanya masuk ke dalam dan seketika aura dingin nan mencekam dirasakan oleh sekujur tubuh setiap orang yang ada di dalam ruangan itu, walau sudah beberapa kali dan bisa di bilang sudah biasa menyaksikan bos mereka itu melakukan hal hal kejam tapi tetap kekentalan aura itu selalu mampu mencekam diri.


"Aku ingin bertemu dengan si tuan bangka itu!" tegas Kerenza.


Dia berada di tempat yang spesial nona, karena baru dia buruan yang membuatku bertugas beberapa hari" decak Micke.


Kembali tanpa bicara Kerenza menuju ruangannya yang dia maksud Micke, karena memang dia sudah tau dimana tempat spesial itu, "siram dia!" titah Kerenza setelah sampai di ruangan tujuannya.


Micke dengan senang hati melakukan perintah nona mudanya, karena dua sangat antusias ingin menyaksikan hukuman seperti apa yang akan di berikan pada wanita yang sudah kropos tulangnya itu.


Micke menyiram waja Caroline tanpa perasaan bahkan dia mencampurkan air jeruk hingga Caroline memekik perih saat air menyentuh kulitnya yang terluka.


"Ck, susah tua bangka tapi masig saja bermulut pedas!" decak Micke.


"Karena kau harus di beritau cara beretika!" bentak Caroline.


"Oh ya, kau tau tau cara mengajari orang lain beretika?" tanya Kerenza dengan sara beratnya, tatapannya tidak bisa di sembunyikan ketajamannya, menyeramkan dan mengerikan bagi orang biasa jika melihatnya.


"Kau!"


"Ya, apa kabarmu?" tanya Kerenza masih ingin berbasa basi.


"Ck, jangan berbasa basi padaku, cepat lepaskan aku!" bentak Caroline.


Brillo yang melihar istrinya di bentak terbawa emosi, tatapan tajamnya semakin tajam melihat Caroline, ingin sekali rasanya tangannya menyika hingga Carolien meregang nyawa tapi semuanya ia tahan karena ini masalah keluarga Kerenza dan istrinya yang lebih berhak.


Tidak terkecuali Hiebert yang susah sangat marah, tapi dia masuh berusaha menahan dirinya untuk tidak lepas kontrol karena masih ada Kerenza di sana, dan dia sangat berharap agar nona mudanya memberikan hak padanya untuk menentukan hukuman apa yang aka dia berika pada Caroline maka dia akan memebrikan hukuman yang tidak akan pernah di lupakan oleh Caroline bahkan orang yang menyaksikanpun akan mengabadikan dala ingatan mereka.


"Sesuai permintaamu Caroline, aku akan membebaskanmu tapi jika aku mau bersepakat denganku" jawab Kerenza dengan seringai liciknya.


"Jangan bermain teka teki, katakan apa yang kau inginkan! tapi ingat jika kau tidak akan pernah mendapat apa yang kau ingin tau!" teriak Caroline dengan tegas.


"Bararti kau menyerahkan kematianmu padaku!"

__ADS_1


"Jangan bermain Alana, aku tidak akan mengampunimu jika kau berani padaku!" ancam Caroline yang masih memiliki cukup nyali.


"Rupanya kau masih memiliki nyali untuk mengancamku, padahal anak buahkubsaja tidak bisa kau kalahkan, lalu bagaimana bisa kau tidak akan memberku pengampuman?" tanya Kerenza dengan kekehannya.


"Ck, lepaskan aku ja**ng....!" teriak Caroline.


Plak


Satu tamparan keras mendarat di pipi Caroline dan itu berasal dari tangan sang suami yang tak lain adalah Brillo Jokson hingga membuat sudut bibir Caroline robek dan mengeluarkan darah serta pipinya yanv membiru seketika akibat tamparan Brillo Jokson.


"Jangan pernah mengatakan istriku dengan sebutan itu, atau aku akan membuatmu merasakn lebih dari ini" tegas Brillo seraya menjambak rambut belakang Carolie membuat wanita tua itu menengadah melihat dirinya.


Cuihh


Caroline meludahi wajah Brillo dengan penih kesombongan, rupanya tamparan itu belum bisa membuatnya lumpuh sehingga dia masih berani menantang malaikan maut itu dengan meludahi wajahnya dan alhasil lagi lagi Brillo menamparnya di sisi lainya.


Plak


"Jangan bertingkah sombong jika kau tidak ingin menjerit kesakitan karena tindakanku" ancap Brillo dan kemudian kembali pada posisi semula.


"Aku tidak takut dan tidak akan pernah takut!"


"Sudalah katakan kenapa kau menghabisi ibuku?" tanya Kerenza dengan suara datarnya.


"Hahahaha....Ja**ng itu pantas mati!" teriak Caroline dengan keras.


Kerenza yang mendengar ibunya di katakan Ja**ng sangat tidak terima, dengan segera tangnya menjambak kuat rambut Caroline membuat wanita itu bertetiak.


"Lepaskan tangan kotormu daru rambutku Ja**ng...! kau sama seperti ibumu sama sama ja**ng murahan!" teriak Caroline membuat Kerenza malah semakin mengencangkan tangannya.


"Lepaskan tanganmu....!"


"Ini karena kau sudah berani menghina ibuku dan ini, untuk mulutmu yang harus ku didik!" ucap Kerenza menjepit kuat pipi Caroline membuat kuku kukunya menancap di pipi wanita itu.


"Le..le..Paskan hmmmm" Caroline tidak bisa berkata karena pipinya yang sudah menutup mulutnya membuat dia kesusahan mengeluarkan suara.


"Katakan kenapa kau menghabisi ibuku!" bentak Kerenza kemuian melepaskan tanganya untuk mendengar jawaban.


"Aku sudah bilang dia pantas mati.!"


"Si**an..!"


Plak


Tangan kembli melayang dan mendarat di pipi Carolien membuat kedua pipi wanita itu lebam dan membiru, "sudah ku katakan, beri tau apa alasanmu tapi kau terus memberiku jawaban yang membuatmu mendapat perlakuan seperti ini dari ku"


"Karena hanya itu yanga akan menjadi jawabanku sampai kapan pun!"


"Ck, sepertinya aku harus meruntuhkan keangkuhanmu" decak Kerenza.


"Hiebert!" panggil Kerenza yang kini sudah berubah suaranya menjadi sangat berat dan dingin.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2