
Selepas makan malam, Nara tidak seperti biasanya yang ikut bergabung bersama suami dan mertuanya, Nara malah memilih untuk kembali ke kamar, rasanya dia tidak bisa menatap wajah mama mertuanya karena kejadian didapur beberapa jam yang lalu, dia terlalu malu daj merasa bersalah karena itu.
"Mas...aku langsung ke kamar ya, mau istrahat saja" pamit Nara yang memang tidak seperti biasanya.
Rajesh menatap wajah istrinya dengan lekat sebelum akhinya menangguk mengiyakan pertanyaan istrinya dia tidak mau membuat suasana hati istrinya semakin tidak baik dan dengan begini juga, Rajesh bisa bertanya dengan mama perkara masalah ini.
Sementara Clara yang melihat menantunya seperti itu menjadi semakin merasa bersalah, dia sangat menyesal mempertanyakan hal itu, dia merutuki kebodohannya karena tidak bisa memahami jika hal seperti itu pasti sangat sensitive bagi seorang wanita yang sudah menikah.
Nara bergegas pergi meninggalkan ruang tamu dengan mengajak Radith denhan dalil mengerjakan tugas dan setelah keprgianbya Rajesh langsung menatap mamanya dengan sorot mata yang ingin mencari tau apa permasalahan yang terjadi.
Sementara Clara yang mengerti akan arti tatapan putranya hanya bersikap tenang, dia tau jika saat ini putranya akan bertanya terkait dengan perubahan sikap menantunya dan dia tidak akan keberatan akan hal itu, dia akan menceritakan semuanya.
"Apa Mama tau kenapa istriku seperti itu? tadi siang dia masih baik baik saja" tanya Rajehs pada sang mama.
Heru yang mendengar pertanyaan putranya sontak aja mengerutkan keningnya, dia tidak tau perubahan yang seperti apa yang dimaksud Rajehs, walau dia tau tadi Nara banyak diam rapi Heru berpikir mungkin memang menantunya sedang kelelahan saja dan tidak ada sesuatu yang membuatnya seperti itu.
"Apa maksudmu Rajesh, kenapa bertanya demikian? memangnya ada dengan istrimu? apa yang terjadi padanya? apa yang sudah terjadi?" Heru memberondong Rajesh dengan banyak pertanyaan, dia sudah pasti sangat khawatir dan dia juga akan merasa bersalah nanti pada Anan jika putri dari sahabatnya itu rupanya tidak bahagia dengan Rajehs.
"Aku tidak tau Pa, saat aku kembali pulang dan memasuki kamar, istriku melamun dan menatap kosong ke depan bahkan dia tidak menyadari kehadiranku karena terlalu sibuk dengan pikirannya, sama agar aku bertanya ada apa dia hanya menjawab tidak ada apapun, bahkan aku sempat berpikir mungkin dia kekehan tapi tetap saja jawabannya tidak ada masalah maupun kelelahan" jawab Rajesh disusul dengan helaan napas beratnya.
"Mungkin dia memang tidak ada masalah, mungkin terlalu fokus memandang ke luar jadi tidak menyadari kedatanganmu" ucap Heru yang ingin berpikiran positif dengan putranya.
"Tapi Pa...bukah hanya sampai disitu saja..." Rajehs menghentikan ucapannya membuat Heru dan Clara penasaran.
"Memangnya apa lagi yang kamu lihat?" tanya Heru dan Clara juga memasang telinganya untuk mendengar apa yang terjadi pada menantunya setelah percakapan mereka tadi sore di dapur.
__ADS_1
"Aku melihatnya menangis di kamar Radith" jawab Rajesh dengan berat.
Clara menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dikatakan Rajehs putranya, benarkan apa yang dia dengar, sebegitu lukanyakah menantunya mendengar pertanyaan darinya dan apa sebegitu rapuhnya saatnini hati Nara, sungguh Clara tidak menyangka jika pertanyaannya akan menyakiti menantunya sedalam ini.
"Astaga....Mama tidak menduga pertanyaan Mama begitu melukai hati menantu Mama"pekik Clara.
"Ada Ma? apa maksud Mama, ini semua ada hubungannya dengan istriku?" tanya Rajesh tidak sabar.
"Benar, apa yang sudah kamu katakan dengan menantu kita Ma? tanya Heru juga yang ikut penasaran.
Clara menghela napasnya dengan kasar, dia tidak mungkin berbohong pada anak dan suaminya, karena kenyataannya akibat dari satu pertanyaan itu membuat menantunya hingga kini kepikiran dan merasa tidak baik keadaanya
"Ayo katakan Ma...jangan diam saja" desak Rajesh, dia sudah tidak sabar mendengar apa yang sudah terjadi dibelakangnya.
Clara kembali menghela napasnya sebelu akhirnya membuka suara untuk mengatakan apa yang sudah terjadi, "sebenarnya....tadi mama sesang memasak dengan Nara tapi, kami asyik bercerita hingga tak sengaja Mama bertanya apakah dia sudah ada tanda tanda hamil, tapi nyatanya itu membuatnya bungkam dan akhirnya memilih mengerjakan pekerjaannya dengan cepat dan bergegas kembali ke kamar. Rajesh sungguh... Mama tidak niatan apapun, Mama juga tidak pernah merencanakan bertanya hal seperti itu, semuanya spontan keluar dari mulut Mama, tolong maafkan Mama nak, Mama benar benar menyesal dengan itu" ucap Clara panjang lebar.
Jujur saja, tidak ada yang bisa dipersalahkan dalam hal ini, Clara yang tidak ada rencana untuk memojokan menantunya dan Nara yang saat ini sedang berada dimasa masa sensitivenya karena Nara yang juga sangat menginginkan anak sama seperti Clara yang ingin memiliki cucu.
"Aku tidak bisa menyalahkan siapapun, ini sangat sulit, hanya saja aku mohon Ma... tolong untuk saat ini jangan lagi bertanya hal seperti itu pada istriku karena perasaanya akhir akhir ini sangat sensitive, dia cepat sekali marah bahkan seperti saat ini dia cepat sekali patah semangat dan bersedih karena hal serupa yaitu masalah anak" tutur Rajesh meminta pengertian ayah dan ibunya.
"Maafkan Mama nak, Mama tidak menyangka istrimu sedang dalam keadaan rapuh seperti ini" ucap Clara penuh penyesalan.
"Sudah jangan dipikirkan lagi Ma, besok pasti moodnya akan kembali lagi hanya saja jiak dia susah baik baik saja, tolong jangan bahas masalah ini lagi, jangan minta maaf atau apapun itu agar moodnya baik baik saja, aku mohon pengertian Mama dan Papa terhadap istriku" ucap Rajehs penuh dengan nada permohonan.
"Iya Nak, Mama akan mengikuti apa yang kamu katakan" ucap Clara.
__ADS_1
"Terimakasih Ma, Pa"
"Jangan berterimakasih, atau mungkin lebih baik jika kalian tinggal di Mension mu saja" tawar Heru yang entah kenapa tiba tiba memberi ide yang menurut Clara sangat konyol, tak hanya Clara yang terkejut tapi Rajehs juga demikian, dia tersentak dengan pernyataan ayahnya.
Bukankah mereka yang menahan agar tidak meninggalkan Mension utama? lalu kenapa kini ayahnya malah memberi usulan seperti itu.
"Jangan konyol Papa..!" sentak Clara yang tidak terima jika anak, menantu dan cucunya harus meninggalkan Mension utama.
"Iya, apa maksud Papa?" tanya Rajesh.
Kalau ditanya kini, Rajehs sebenarnya suka jika tinggal mandiri dengan anak dan istrinya, bahkan sudah sejak dulu dia merencanakan hal itu karena dia tau Nara pasti akan menghadapi hal seperti ini walau tidak disengaja tapi pasti akan ada titik dan waktu dimana Nara akan merasa tidak enak hati tinggal bersama dengan mertuanya.
"Papa hanya ingin mengusulkan untuk kalian tinggal di Mension kedua saja" jelas Heru untuk kedua kalinya.
"Papa jangan becanda deh, Mama tidak suka, Mama tidak mau kalau mereka tinggal terpisah dengan kita" tukas Clara yang membantah keras usulan suaminya.
"Ma...dengarkan Papa, apa Mama mau kejadian serupa terulang lagi seperti kejadian sore ini?" tanya Heru yang dijawab anggukan oleh Clara.
"Tentu saja, lagi pula Mama sudah bilang kalau Mama tidak sengaja bertanya seperti itu" jelas Clara.
"Tetap saja, sekarang ini menantu kita sedang tidak enak hati, bukan karena dia marah dengan Mama, tapi justru karena dia tidak enak hati dengan kita merasa tidak baik menjadi menantu makanya dia bersikap demikian, apa Mama tidak tau reaksinya yang enggan menatap kepada Mama? itu semua karena dia yang masih merasa bersalah tidak bisa memberi kabar baik hingga kini" jelas Heru membeberkan semua alasannya mengapa memberi usulusan demikian.
.
.
__ADS_1
Bersambung...