BERMULA DIHARI PERNIKAHAN

BERMULA DIHARI PERNIKAHAN
Chapter 83


__ADS_3

"Ya nona muda" jawab Hiebert


"Siapkan arena tarung, aku harus meruntuhkan keangkuhannya dengan cara yang sedikit berbeda!" titah Kerenza.


"Nona muda, biasakah kau memberiku kesempatan untuk mengambil alih tugasmu? aku ingin sekali dia merasakan apa yang di rasakan kekasihku!" pinta Gilmax yang sudah tidak tahan ingin sekali menyiksa Caroline.


"Kau tenanglah, kau akan mendapat giliran nanti!" jawab Kerenza.


Gilmax kembali mengatupkan mulutnya, dia percaya pada nona mudanya, walau rasanya sudah tidak sabar tapi dia harus menahan dirinya untuk menunggi giliran.


"Love, jangan membahayakan dirimu" tegur Brillo


Brillo sudah bisa menebak apa yang akan di lakukan oleh istrinya, sebenarnya tidak masalah baginya tapi dia hanya khawatir jika lawan Kerenza akan tangguh terbukti dari otaknya yang licik berarti kekuatan bela dirinya pun pasti tudak bisa du ragukan lagi, itulah yang di pikirkan oleh Brillo tanpa berlogika jika licik belum tentu kuat.


"Aku hanya ingin bermain sayang, jangan khawatirkan itu" jawab Kerenza dengan senyum manisnya.


"Baiklah tapi ingat jangan terluka sedikitpun" peringat Brillo.


"Yes honey"


Brillo tersenyum mendengar jawaban Kerenza, dia yakin jika istrinya bisa menjaga dirinya sementara Kerenza kembali mengarahkan tatapanya yang kini berubah kembali tajam dan mematikan


"Aku tidak akan mengulang pertanyannku dan ini yang terkahir kalinya" ucap Kerenza terlebih dahulu "katakan kenapa kau menghabisi ibuku dan membuat drama seolah dia bunuh diri karena frustasi mendengar ayahku kecelakaan?"


"Hahahahahah....Aku sudah bilang jika dia pantas mati! karena semua gara gara dia, dia darang di kehidupan Brayen membuat prianyang aku cintai itu tidak melihatku sedikitpun!" teriak Caroline.


"Ck, itu karena ayahku tau mana wanita iblis dan mana malaikat!" sinis Kerenza.


"Tidak! ibumu adalah seorang jal**g yang di angkat derajatnya oleh Brayen..!"


Plak


"Jangan pernah menyebutk ibuku dengan sebutan itu, atau kau benar benar akan tiada saat ini juga!" bentak Kerenza.


"Heh...! semua orang tau jika dia pelayan di salah satu bar yang ada di Las Vegas, yang bertemu dengan Brayen dalam keadaan di kejar anak buah pemilik bar karena berani kabur dalam jeratan pemilik bar, dan Brayen dengan bodohnya menyelamatkan jal**g itu dan membawanya ke Los Angel dan tinggal bersama!" jelas Caroline dengan emosi yang meluap luap.


Kerenza semakin tersulut emosi mendengarnya, dia tidak bida menerima kenyataan jika ibunya seorang wanita malam, karena selama yang dia tau ibunya adalah sosok wanita lembut dan mulia yang tidak tercacat sedikitpun di mata Kerenza.


"Sudah ku bilang jangan menghina ibuku....!" bentak Kerenza dan tanganya kembali menjambak rambut Caroline daru belakanh membuat wanita tua itu kembali meringis sakit merasakan kulit kepalanya perih.


"Itu kenyataan dan kau tidak akan pernah bisa mengubur sejarah ibumu, jika kau masih ingin bukti maka kau datangi saja bar itu dan tanyakan siapa ibumu, aku yakin jika mereka pasti akan mengenal ibumu yang menjadi bintang bar itu hahaha" jawab Caroline.


Kerenza terdiam mendengar penuturan Caroline, dia tidak pernah menyangka jika kenyataan tentang ibunya terungkan kini, sesutau yang tidak pernah dia ketahui walau hanya ujung cerita kini dengan mudahnya di mendengar semuan secara detail dari wanita yang memiliki dendam pada ibunya.


Brillo mendekat pada istrinya merangkul bahu Kerenza dengan sayang, dan membawanya tenggelam dalam pelukannya karena sesungguhnya dia pum syok akan kenyataan ini yang baru pertama kalinya dia dengar.


Jika dia sendiri saja syok, apa lagi dengan istrinya yang memiliki hubungan dengan ibu mertunya, karena memang dia sependapat dengan Kerenza jika selama ini ibu mertuanya tidak pernat tercacat sedikitpun, dua bagailan malaikat dalam keluarga Brayen Wate lalu bagaimana kini kenyataan mengatakak jika dia hanya wanita malam dulunya.

__ADS_1


"Kenapa? kau tidak bisa menerima kenyataan? percuma karena kau tidak akan bisa menghindari hal itu!" ejek Caroline.


Kerenza kembali pada kesadarannya, dadanya bergemuruh hebat karena amarah melihat Caroline yang tertawa puas karena sudah membongkar aib ibunya dan merasa menanh akan hal itu "walau ibuku seorang wanita malam bahkan nara pidana sekalipun, aku tidak peduli kerena bagiku dia tetap lah malaikatku!" ucap Kerenza penuh penekanan.


"Hahahah....! memanganya apa lagi yang bisa kau katakan untuk menghibur hatimu yang terlukan itu, selain kata kata itu saja"


"Jangan memancinga marahku, dan sekarang jawab siapa yang berada di belakangmu..!"


"Ck, kai pintar juga rupanya! walau aku sudah mengatakan alasaku menghabisi ibumu tapi kau masih saja jeli dan tau jika ada seseorang yang menjamin diriku" ejek Caroline.


"Katakan siapa ada di belakangmu!" bentak Kerenza.


"Cih, mana mungkin aku mengatakan jika kau sajaasih hidup, dan dia harus memenuhi keinginanku dulu untuk menghabisi keturuan ja**ng itu" jawab Caroline.


"Jadi kau tidak mau mengatakannya dan memilih untuk tiada?" tanya Kerenza dengan alis yang terangkat naik ke atas.


"Ya, saya lebih memilih tiada asal dia bisa menghabisi dirimu!" jawab Caroline dengan yakin.


"Baikalh tidak masalah, tapi ku ingatkan untuk kau tidak menyesalinya nanti karena aku pastikan kematian mu akan aku kenang seumur hidupmu di alam neraka.!


"Aku tidak masalah, hanya saja aku meragukanya, kau menghabisi seseorang dengan keadaan yang tidak berdaya seperti ini" pancing Caroline yang ingin kembali menggunakan cara licik untuk bisa membebaskan diri dan melenyapkan Kerenza sendiri dengan tanganya.


Kerenza tersenyum sinis mendengar perkaraan Carolien yang seolah mengejeknya "kau tenang saja, aku bukan orang yang suka menyiksa orang tuan dengan keadaan tak berdaya apa lagi jika orang itu bersikap angkuh padaku maka aku akan memberikan kematian yang menyenangkan untuknya" jawab Kerenza dengan senyul devil nya.


"Hiebert! kau sudah menyiapkannya!" tanya Kerenza dengan lembut tapi justru terdengar mengerikan di telinga para bawahanya, bahkan ada yang merinding di antara mereka.


"Tentu saja, karena dia adalah buruan yang spesial maka tempatnya pun harus spesial"


"Bagus! silahkan giring dia dan perlakukan dengan hormat sebelum neraka menjadi tempatnya"


"Tentu saja nona, saya akan memperlakukannya dengan baik, karena selama ini sudah memenuhi kebutuhan saya selama beberapa bulan terakhir ini" jawab Hiebert dengam kekehan renyahnya.


"Kau tidak ingin menyaksikannya Gilmax?"


"Tentu nona, tapi sisakan bagianku" jawab Hilmax kemudian pergi menyusul langkah Kerenza yanga sudah lebih dulu melanglah bersama Brillo.


"Ck, semua jelmaan iblis" decak Micke detelah semuanya pergi.


Sementara Hiebert terkekeh mendengar hal itu, memang benar jila semuanya bisa di katakan jelmaan iblis karena tidak ada satu pun dari mereka yang berusaha mencegah dan memberi kematian dengan satu kali tembakam saja.


"Karena semua memiliki masa lalu dan dendam sendiri, jadi tidak heran jika semua berubah menjadi iblis" kekeh Hiebert, "Sudahlah kau bawa nyonya Caroline dan ingat jangan kasar padanya" lanjut Hiebert dengan.


Micke hanya bisa menggerutu mendapati jika dirinya lagi yanh harus direpotkan pada waita tuan itu, tidak tau kah mereka jika Micke sudah susah mencari keberadaan wanita tulang kropos itu karena selali lolos beberapa kali dari genggamannya.


"Mari nyonya bertulang kropos nikamati waktu mu yang tidak lama lagi"ucap Micke.


Di arena tarung, Kerenza sudah mengganti pakaianya dengan pakaian yang biasa dia gunakan saat bertarung, tapi tidak dengan atasanya yang hanya menggunakan tangtop saja agar lebih leluasa dalam bergerak.

__ADS_1


Brillo sendiri berada di sudut ruangan duduk dengan kaki yang berislang, siap untuk menyaksikan aksi istrinya dalm bertarung yang bisa di katakan ini kali kedua dia akan melihat kemampuan dan kelincahan Kerenza, "love ingat aku tidak akan melihat melihat ada luka!" ucap Brillo dengam suara yang sedikit nyaring.


"Tenanglah dan saksikan saja aksi istrimu ini" balas Kerenza.


"Caroline datang dan kini tangannya sudah tidak di borgol lagi, dia masuk dan melangkah mendekat ke arah Kerenza dengan sorot mata tajam seperti singa yang ingin menerkam mangsanya tanpa tau jika singan yang sesungguhnya adalah orang yang dia anggap sebagai target.


"Kau siap menyambut ajal nyonya?" tanya Kerenza dengan begitu ringanya.


"Cuih, kau yang akan masuk neraka"


"Baiklah dan tangkap ini!" seru Kerenza dan melemparkan pedang ke arah Caroline yang dengan sigam di tangkap oleh wanita tua itu.


Mereka kini berada dalam jaran kisaran tiga meter, saling memasang pertahanan dan membuat ancang penyerangan, pedang sudah berada di tangan keduanya, saling mengambil posisi yang tepat dalam menggenggam pedang itu, pandangan mereka sama sama tajam dan mempersiapkan langkah awal untuk menyerang.


Setelah beberapa saat saling menatap dan mengelilingi arena untuk memulai pertarungan kini mereka berdua sama sama maju dan mengayunkan pedang.


Teng Ting Teng


Suara pedang yang saling bertabrakan terdengar, saat keduanya saling menyerang dan mengelak membuat suara pedang yang bertabrakan terdengar nyaring bagi orang orang yang menyaksikan pertarungan itu, dan sekali lagi terdengar suara pedang...


Teng


Pedang bersentugan membentuk salip dengan pedang Caroline yang vertikal dan posisi pedang Kerenza yang mengarah horizontal, itu terjadi karena Caroline menyerang dari arah yang lurus sedangkam Kerezan menahan dengan gaya datar lurusnya.


Mata mereka saling terkunci, jika pasangan mungkin tatapannya adalah tatapn cinta tapi berbeda dengan tatapan kedua ini, tatapan merkea adalah tatapan kelaparan untuk menerkam lawan.


"Kau tidak akan bisa menyentuhku tua bangka karena tenagamu tidak lah seberapa" ucap Kerenza kemudian mendorong kuat Caroline membuat wanita itu mundur beberapa langkah kebelakang.


"Si**an...!" Carolien kembali menyerang dan pertarungan kembali merajut..


Teng teng teng


Pedang yang saling bertabrakan hingga akhirnya terdengar suara teriakan kesakitan dari salah satunya dan itu sudah bisa di pastikan adalah Caroline.


"Akhhhh....!"


Kerenza menyebetkan pedangnya di puggung Caroline saat wanita itu lengah dan membelakanginnya sehingga Kerenza mengambil kesempatan.


"Masih mau bertarung nyonya?" tanya Kerenza dengan seny devilnya.


"Aku tidak akan menyerah sebelum mengirimmu ke neraka!" teriak Carolien dan kembali lagi melakukan perlawanan setelah dia berhasil menguasai kesadarannya dan membuat keseimbangannya kembali.


.


TBC


Jeng jeng jeng..

__ADS_1


nanti lagi yaa kalau sempat😂😂


__ADS_2