BERMULA DIHARI PERNIKAHAN

BERMULA DIHARI PERNIKAHAN
Chapter 36


__ADS_3

" Apa katamu! CCTV mall sebesar ini tidak berfungsi? bagaimana bisa.!


Kerenza membentak palayanan yang mengantar surat itu dengan menarik kerah seragam yang digunakan pelayan itu dan hasilnya perhatian pengunjung lainnya teralihkan pada mereka.


Sementara pelaya itu tidak bergeming sama sekali, tidak ada rasa gentar ataupun takut seperti orang lain yang akan merasa ketakutan jika melihat kemarahan Kerenza.


" Apa yang bisa saya lakukan nona jika kenyataan CCTV kamu memang sedang dalam perbaikan.


Benar benar menguji kesabaran Kerenza sikap pelayana yang tidak memiliki rasa takut itu.


" Apa kau tidak sayang dengan hidupmu sehingga kau berani bertingkah seperti ini di hadapanku."


Kerenza mengangkat alisnya dan mencoba meredakan emosinya agar tidak melimpahkan kekesalannya pada pelayan yang ada dihadapannya ini walau tangannya tetap mencekap kerah seragam pelayan itu.


" Aku sangat sayang dengan nyawaku nona tapi bukan berarti anda bisa seenaknya bertindak padaku sebagai seorang pelayan ini bukan."


Semakin membuat Kerenza tersulut emosi atas sikap pelayan yang begitu tenang, membuat Kerenza berpikir mungkin pelayan ini bukanlah orang sembarangan.


" Keren ada apa ini."


Hiebert yabg mengetahui anak buahnya yang menyamar sengai seorang pelayan ternyata terlibat adu mulut dengan Kerenza dan segera ia melerai hal itu dan di susul dengan Kisar Catline dan beberapa anggotanya yang berada tidak jauh dari sana.


Pantas bukan jika pelayan itu bersikap santai dan tidak takut pada Kerenza karena ternyata dia adalah salah satu anggota Hiebert yang artinya memiliki tuan yang sama yaitu Brillo.


" Dia membuatku kesal dengan sikapnya Hiebert."


Kerenza sudah benar benar tidak bisa lagi mengontrol ketahanan dirinya untuk tidak melampiaskan emosinya hingga membawa pada pelayan yang tidak mereka tau kalau itu adalah suruhan Hiebert untuk menyanpaikan pesan atas nama wanita incaran Kerenza itu.


" Sudah hentikan dan kau pergilah, jangan pernah menampakan dirimu lagi."


Hiebert bertingkah seolah dia sedang memberi peringatan pada pelayan itu agar tidak ada yang mencurigai gerak gerik mereka.


" Lebih baik kita pergi dari sini." ajak Hiebert


" Iya lebih baik kita pergi Keren, aku rasa orang itu tidak akan datang lagi." timpal Kerenza.


Dengan terpaksa Kerenza menyeret langkahnya pergi meninggalkan mall itu untuk kembali ke kediamannya.


" Maaf saya tidak bisa kembali bersama kalian."


Perkataan Hiebert sukses membuat Kerenza dan yang lainnya berhenti melangkah dan menoleh ke arah suara yang tak lain adalah Hiebert.


Dengan penuh kecurigaan dan tatapan menelisik Kerenza menatap Hiebert dan kemudian bertanya.


" Mau kemana kau? apa ada urusan lagi."

__ADS_1


" Tentu Keren, aku harus menyelesaikan masalahku yang satu ini." jawab Hiebert.


" Masalah korban kecelakan itu lagi."


" Tentu Keren, aku harus benar benar benar bertanggung jawab padanya dan hari ini doa akan keluar dari rumah sakit." papar Hieberr.


" Pergilah dan selsaikan masalahmu." usir Kerenza.


"Baiklah kau tenang saja, hari ini pasti akan terselesaikan.'


Mereka pergi meninggalkan parkiran mall, dan Hiebert memacu mobilnya menuju markas Brillo, sebenarnya dia sudah tidak mau lagi kesana tapi rupanya Gilmax tidak akan tenang jika dirnya tidak datang kesana.


Terbukti sekatang panggilan beruntuk terus dari Gilmax dan itu membuat Hiebert benar benar merasa sangat kesal karena terganggu.


" Si*l" umpat Hiebert dan menekan earphonenya dan menjawab" apa apa? apa kau tidak bisa membiarkanku tenang sedikit saja." ketus Hiebert.


Gilmax terkekeh mendengar perkataan Hiebeet yang meminta untuk membiarkannya tenang, pria yang satu itu selalu bisa membuat Gilmax tertawa.


" Cepatlah kemari jangan tuan muda ingin menemuimu." katanya masih dengan kekehannya.


" Ck, kau tau kau sangat menyebalkan! aku sudah dalam perjalan kesana" kata Hiebert " Kau tau? tidak mudah menipu nona mudamu itu." lanjutnya.


Lagi lagi Gilmax terbahak mendengar perkataan Hiebert yang sepertinya sudah muli jengah menghadapi sikap Kerenza yang muali mencurigainya.


" Kau jangan lupa Hiebert jika dia adapah nona mudamu juga, bahkan kau mengabdi padanya sepama dua tahun ini."


"Hahahaha" Tidak tahan dengan itu, walau pembicaraan hanya memalui ponsek tapi Hiebeer sukses membuat Gilmax tidak berhenti tertawa mendenfat gerutuannya.


"Berehntilah tertawa Gilmax atau aku akan memberimu pelajaran." ancam Hiebert


" Baiklah baiklah aku tidak akan tertawa lagi dan cepat kemari, tuan muda sudah menunggumu."


Hiabert tidak lagi menjawab tapi langsung mematikan earphone nya dan kambali fokus pada kemudinya.


Sampai di markas Hiebert langsung masuk ke ruang eksekusi para penjahat dab melihat wanita itu masih betah dalam tidurnya, bukan tidur tapi tepanya dia pingsakb akibat permbuatan Hiebert yang menyerangnya tanpa ampun.


Tidak ada pembicaraan karena semua sibuk pada kegiatan masing masing, hingga langkah sepatu yang terdengar tegas mengalihkan perhatian mereka.


Brillo datang dengan lngkah tegasnya dan duduk di kursi yang sudah di sediakan untuknya.


" Bangunkan dia." titah Brillo.


" Dia pingsan tuan dan tidak mau bangun." jawab salah seorang pengawalnya.


" Ck, bod*h sekali kau ini."

__ADS_1


Sindir Hiebert pada pangawal itu dan langsung bergerak medekati ember yang sudah berisi air dan membawa menyiramkannya pada Wanita itu.


Biuurrrr


" Woww... Kau benar benar sudah tidak punya persaan lagi sekarang." decak Brillo.


" Akhhhhh" teriak wanita itu yang terganggu karena air yang di siramkan padanya.


"Hanya ini cara agar dia bangun tuan muda."


Hiebert menjawab pertanyaan Brillo tanpa mempedulikan teriakan dari wanita itu.


" Iya kau benar sekali dan terbukti dia sudah bangun." jawab Brillo.


" Katakan Siapa dirimu, siapa yang sudah membayar mu untuk berpura-pura menjadi wanita incaran Kekasihku. "


Brillo langsung to the point pada pertanyaannya tanpa mempedulikan keluhan wanita itu yang merasa menggigil kedinginan karena air yang disiramkan kepadanya.


Baginya jawaban dari wanita itu adalah yang terpenting agar dia bisa menyelesaikan masalah ini dankemudian menyelesaikan masalahnya kepada Kerenza setelah itu.


Ti dak ada jawaban yang didapatkan Brillo, wanita itu sibuk dengan urusannya sendiri mengibas-ngibaskan tangannya seolah ingin mengeringkan baju yang basah karena tumpahan air itu


Entah sengaja atau tidak atau memang fokusnya yang tidak kepada Brillo sehingga jawaban dari tuan muda itu tidak Ia berikan.


" Kau berani mengabaikan ku nona."


Kembali Billo bersuara karena lama menunggu dan tidak ada jawabannya.


sepertinya wanita ini memang sengaja tidak berniat menjawab pertanyaan Brillo dan itu membuat pria itu harus bisa menahan kesabaran nya agar tidak lepas kendali kepada seorang wanita.


"Hei jal*ng kau berani mengabaikab pertanyaan tuan muda ku."


Gilmax menghampiri wanita itu dan menarik dengan kasar rambutnya sehingga membuta wanita itu memekik kesakitan.


" Sakit si**an!" teriaknya sembari tannyan berusaha melepaskan tangan Gilmax.


" Jangan berani mengabaikan tuanku jika kau tidak ingin tiada."


" Sudah Gilmax, kenapa kau jadi tidak berpeeasaan juga seperti Hiebert" kekeh Brillo " Dia mungkin ingin main aku menebak siapa dia dan siapa yang sudah menyuruhnya." lanjtanya.


" Katakan siapa kamu."


Kali ini Brillo mengulang pertanyaanya tapi sudah berbeda dari yang sebelumnya, dia menatap wanita itu dengan tatapan gelapnya seolah bisa meneggelamkan orang lain dalan tatapannya.


Tentu saja melihat itu membuat wanita itu sedikit ketakutan tapu tetap saja dia melawan rasa takut itu dan menentang Brillo yanf mungkin dia tidak tau siapa sebenarnya yang ada di hadapannya.

__ADS_1


" Aku Livia."


TBC


__ADS_2