
"Sudah aku katakan untuk kau jangan berani melawanku, dan sekarang kau belum mau menyerah" ucap Kerenza dan membalas serangan Caroline.
Prangggg
Pedang yang berada dalam genggaman Caroline terjatuh saat kaki panjang Kerenza menendang lengannya membuat wanita itu tersungkur dan akhinya pedangnya terjatuh.
"Ambil lagi, tidak puas rasanya jika di tubuhmu baru satu"
Tanpa membuabg waktu Caroline meraih pedangnya dan menyerang Kerenza tapi sayang sekali langkah yang di ambil benar benar merugikannya karena justru dirinyalah yang mengalami serangan dan perutaya terlukan karena sebetan pedang Kerenza untuk kedua kalinya, dan Caroline hanya bisa meringis menahan perutnya yang mulai mengeluarkan darah.
Tidak berhenti disitu, Kerenza kembali mengayunkan pedangnya dan memotong lengan Caroline, sebelah kiri tampa ampun apalagi takut membuat wanita tua itu menjerit kesakitan kerna lengannya yang sudah trllmpar dan jatuh di lantai.
"Akhhh....! dasar putri ja**ng...beraninya kau memotong lenganku!" teriak Caroline di tengah rintihannya.
"Bukan cuma lenganmu, bahkan tubuhmu bisa aku mutilasi saat ini juga dan melepaskan kepalamu untuk aku jadikan umpan agar kekuatanmu keluar dan menghampiriku langsung agar aku bisa melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan padamu!" ucap Kerenza penuh keyakinan.
"Kau tidak akan bisa melakukannya jika kau tau siapa pelaku yang sebenarnya" jawab Caroline dengan nafas yang mulai terengah.
"Love, kau sudah mengambil bagianmu sekarang biarkan Gilmax yang meneruskan pekerjaanmj dan jadilah penonton yang baik!" seru Brillo dari temptatnya.
Kerenza membuang pedangnya ke sembarang arah, dia berbalik meebelakangi Caroline dan berjalan dengan santai menuju Brillo sedangkan Gilmax sudah melangkah maju menggantikan posisi Kerenza, tapi Caroline yang belum mau menyerah kembali meraih pedangnya dengan tangan kananya.
Dia ingin menyerang Kerenza karena di pikir wanita muda itu sedang lengah tanpa mempedulikan jika ada banyak mata yang menyaksikan aksinya dan pastinya akan menyelamatkan Kerenza dari serangannya.
Dorrr
"Akhhhh...!"
Gilmax melepaskan pelurunya dan melesatkannya pada lengan Caroline yang sesangn menggenggam pedang membuat pedang itu kembali terjatuh ke lantai, sedangkan Kerenza berbalik melihat apa yang terjadi dan alisnya terangkat melihat keadaan itu.
"Kau benar benar wanita yang tidak perlu di ampuni, bahkan sudah sekaratpun kau masih berniat menghabisiku di saat aku lengah tanpa berpikir jika ada banyak mata yang mengawasimu!" decak Kerenza kemudian kembali berbalik berjalan menuju tempat Brillo.
"Kau puas love?" tanya Brillo.
Dia mengambil tissu untuk membersihkan keringat dan darah yang terciprat di wajah Kerenza sementara Kerenza menerimannya dengan diam.
"Sebenarnya belum, tapi aku sudah berjanji pada Gilmax bukan jika aku akan memberi bagainya" jawab Kerenza acuh.
Sementara di arena tarung, Gilmax menatap Caroline yang sedang kesusahan menghentikan tetesan darahnya yang terus mengalir dengan tatapan laparnya, kali ini dia tidak akan melepaskan Caroline kali ini.
Gilmax sudah bersumpah akan membuat penderitaan pada Caroline yang akan di ingat bahkan jika Caroline sudah berada di neraka sekalipun.
"Aku tidak bisa menantangmu bertarung karena kau sudah lelah karena melayani nona mudaku, jadi kali ini aku akan memberikan permainan yang jauh lebih menarik dari ini" ucap Gilmax dengam senyum iblisnya.
"Jangan berani menyentuhku anak muda atau kau akan ikut tiada bersama mereka nanti jika tuanku tau hal ini" ancam Caroline.
"Aku dengan senang hati menunggunya nyonya" kekeh Gilmax.
"Micke, kau sudah menyipkannya?" tanya Gilmax.
"Tentu saja, sesuai keinginanmu tuan" jawab Micke dan kemudian menambil meja kecil yang sudab terpasang borgol berukuran kecil yang hanya cukup untuk pergelangan tangan saja dan itu pun sangat pasa membuat tangan siapa pun tidak bisa bergerak.
"Hei kau mau apa ha..!" teriak Carolin saat tangannya yang satu di masukan dalam borgol di meja kecil itu.
"Aku akan memong jari jarimu yang sudah berani mengurung Anna ku di gudang itu" ucap Gilmax.
"Jadi perempuan bodoh itu sudah di temukan!" kekeh Caroline.
__ADS_1
Plak
Akhirnya Gilmax mengenai tangannya di tubuh Caroline mendengar kekasihnya di katakan bodoh oleh wanita tua itu dan tanpa ampun lagi Gilmax mengangkat pedangnya dan matanya pedangnya di atas meja dan.
"Akhhhh.....!!!!"
Caroline berteriak kesakitan merasakan jari jari nya berserakan di lantai akibat pedang Gilmax yang sangat licin itu.
"Hahahaha.....! ini akibat karena kau sudah berani mengusik kekasihku bahkan menyikasnya dan kini kau akan merasakannya" ucap Gilmax, "Micke masih ada alat permainan yang lain.?" tanya Gilmax yang menjadikan ini sebagai pernainan.
"Tertu saja, dan aku yakin jika permainan berikutnya akan jauh lebih menyenangkan mendengar jeritannya" jawab Hiebert dan langsung bergerak mengambilkan lava panas dal wadah dan di taruhkanya di hadapan Gilmax.
"Anak buahmu menyeramkan juga" kekeh Kerenza yang merasa seru dengan permainan yang di lakukan oleh Gilmax.
"Tentu saja kerena itu menurun pada kedua majikannya, sehingga dia terbiasa akan hal itu" jawab Brillo yang juga ikut terkekeh.
"Baiklah kau siap untuk permainan berikutnya nyonya?" tanya Gilmax.
"Lepaskan dan pegang tangannya!" titah Gilmax
Wadah yang berisi lawa emas itu di bawa semakin mendekat pada Caroline sedangkan yang beberapa yang lainnya memegang tubuhnya dengan kuat agar tidak memberontak, dan Tangnnya mulai di celupkan ke dalam.
"Akhhhhh......! sakit sialannnn....!"
Rintihan kesakitan dan rasa panas Caroline memenuhi arena pertarungan dan itu berlangsung selama beberapa menit, dan kemudian di angkat menyisakan tulang lengannya sementara dagingnya sudah ikut melebur bersama lava panas itu.
Caroline yang melihat lenganya menjerit histeris, tidak bisa menerima kenyataan tangana kedua duanya tidak bisa di fungsikan lagi, "tidakkk.....!"
"Masih mau merasakannya? jika ya, maka aku bisa memasukan anggota tubuhmu yang lain!"
"Hahahaha....! aku tidak akan menghentikannya" jawab Gilmax, "Micke! siram di tubuhnya tapi sisakan kepalanya untuk aku jadikan pajangan!" titah Gilmax dan kemudian Micke langsung melakukan apa yang di katakan Gilmax.
"Akhhh..... bunuh saja aku, cepat bunuh aku bajingan!"
Caroline tidak bisa lagi menahan rasa sakit dan panas serta perih dalam tubuhnya saat lava panas menyiram membuat tubunnya seketikan mereh dan melepuh.
Brillo yang sudah merasa bosan, langsung bangkit berdiri, meraih pedang kemudian berjalan medekat pada Caroline dan...
Srettttt
Kepala wanita tua itu terjatuh dan berguling bebas di atas lantai akibat ulah Brillo yang hanya sekali sekali tebas saja, dan semua diam tidak ada yang berbicara, bahkan Gilmax sempat kecewa dengan tindakan tuannya.
"Aku bosan dan kupingku capek mendengar teriakannya, terlalu tua untuk dia terus berteriak" ucap Brillo kemudia melempar pedangnya dan kembali berjalan menuji Kerenza dan mengajaknya untuk pulang ke rumah.
Mereka keluar dari sana tanpa beban sama sekali, seolah tidak terjadi apa apa dan tidak ada yang mereka lakukan apapun, "kita langsung pulang kerumah!" titah Brillo.
"Love, bisakah aku minta sesuatu?" uca Brillo menatap lekat wajah kekasihnya.
"apa yang kau inginkan?" tanya Kerenza ikut menatal suaminya.
"Jangan pernah membunuh lagi" pinta Brillo dengan lembut
Kerenza diam, dia belum bisa menjawab mengiayakan keinginan suaminya karena masalah mereka belum selesai, musuh belum tiada jadi Kerenza belum bisa tenang saat ini.
"Musuh kita belum di temukan dan aku tidak bisa tenang apalagi jika mereka menyakiti keluargaku lagi" jawab Kerenza.
"Aku! aku yang akan membalasnya" jawab Brillo, "aku mengijinkamu hari karena semua berkaitan dengan orang tuamu tapi tidak lain kali walau mereka menyakiti keluargamu, aku yang akan tetap membalasnya" ucap Brillo.
__ADS_1
"Tapi.-"
"Aku mohon Love, jangan membantahku!" pinta Brillo dengan lembut tapi penuh penegasan.
"Baiklah, tapi aku akan membunuh jika membahayakan keadaanku" jawab Kerenza yang di angguki Brillo.
Sampai di rumah ternyata Cloe sudah menunggu kedatangan mereka di depan pintu dengan tatapan kesedihan bercampur kecewa yang di tujukan pada Kerenza.
Kerenza yang melihat itu mengerutkan keninya, apa kah terjadi sesuatu pada ibunya sehingga ekspresinya seperti itu atau ada kesalahan yang di lakukannya sehingga Cloe menatapnya dengan tatapan kecewanya.
"What happen mom?" tanya Kerenza setelah tiba di hadapan Cloe.
"Kau masih putriku bukan?"
"Yes, aku putrimu dan tidak akan ada yang bisa merubah itu" jawab Kerenza semakin tidak mengerti.
Plak
Tangan Cloe melayang dan mendarat di pipi mulus Kerenza membuat semua yang ada disana terkejut bahkam Brillo mengepalkan tanganya melihat wanita asing yang angkat istrinya justru berani mengangkat tangan pada Kerenza.
Brillo hendak maju tapi dengan cepar Kerenza menghentikan suaminya dan kepalanya menggeleng membuat Brillo mengusap wajahnya dengan kasar untul melampiaskan kekesalannya.
"Jika kau adalah putriku lalu kenapa kau sembunyikan keadaan putriku lainya, kau ingin dia tiadak begitu!" bentak Cloe.
Kerenza menapat kedua pelayang yang sudah dia beru perintah sedangkan yang di tatap hanya menundukan kepalanya tidak berani menatap nona mudan mereka.
"Jangan menatap mereka, karena ini semaa aku yang memaksa mereka mengatakan padaku" ucap Cloe yang melihat Kerenza menatap Elsa dan Maydeline.
"Katakan kenapa ibuku bisa mengetahui hal ini!" tanya Kerenza dengan tegas tanpa menghiraukan perkataan ibunya
"Ampun nona muda, tapi Nyonya besar mengancam akan menghabisi dirinya jika kami tidak mengatakannya" jawab Elsa.
Kerenza menghela napasnya dengan kasar mendengat perkataan anak buahnya, ternyaga benar dugaanya tidak mungkin ibunya mengetahui hal ini jika tidak membuat drama terlebih dahulu.
"Mari bicara di dalam mom" ucap Kerenza.
"Jawab pertanyaan wanita tuan ini Keren!"
"Iya, aku akan mengatakaj semuanya tapi ayo kita bicara di dalam.
Cloe sudah duduk di sampinga Kerenza, siap mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh putri angkatnya.
"Katakan nak jika kau mesih putriku"
"Mom aku tidak mau kau kecewa jika mendengar ceritaku, jadi lebih baik mommy tidak mendengarkannya"
"Berarti kau lebih memilih jasatku Kerenza"
"Apa yang mommy katakan!" sentak Kerenza.
"Maka katakan!" tegas Kerenza.
Dengan berat akhirnya Kerenza mengatakan semuanya tanpa terlewat sedikipun pada ibu angkatnya.
.
TBC
__ADS_1