
Robert Hans sangat marah setelah dia sampai di kediamannya, semua isi dalam kamarnya jadi berantakan berantakan karena perbuatannya.
Bagaimana tidak marah, jika rencananya kembali gagal dan tidak memberi hasil yang memuaskan dirinya.
Masih ingat sekali dia saat acara makan malam dengan Kernza dan ternyata semua yang ada disitu baik baik saja tidak terjadi sesuai denvan keinginannya.
Flashback...
"Makananya sudah siap nona Alana" ucap Elsa
Dia menghidangkan makanan yang tak lain adalah makanan yang di dapat dari paket itu, dan dengan senang hati Robert melihatnya.
Bahkan dia tidak memakan makannya karena menunggui Kerenza memasukan ke dalam mukutnya makanan yang dia kirim melalui kurir.
"Kenapa daddy tidak makan?" tanya Kerenza.
"Iya, ini daddy mau makan" jawabnya dan memasukan daging dalam mulutnya dengan gerakan pelan.
Sementara Kerenza makan dengan lahap, dan Brillo beserta Gilmax, dan Hiebert makan dengan tenang karena mereka sudah percaya jika dua wanita yang menjadi mata mata itu tidak akan menyajikan makanan itu jika tidak di periksan lebih dulu.
Dan hingga acara makan malam berakhir Kerenza tidak ada tanda tanda keracunan, bahkan Robert yang masih saja tidak puas mencari alasan agar bisa lebih lama lagi berada disana.
"Bagaimana perusahaan girl? maaf jika daddy jarang mengunjungimu"
Mereka saat ini sudah berada di ruang keluarga dan mata Robert tetap fokus pada gerak gerik Kerenza, untuk melihat adanya perubahan pada diri Kerenza
"Tidak masalah dad, aku mengerti! lagi pula ada tuan Jokson yang membantu ku"
"Tentu, itulah alasan daddy sudah tenang meninggalkan kamu dan daddy fokus pada perusahaan dan juga membimbing Max mengelola perusahaa".
"Kau terlalu berlebihan tuan Robert, padahal jika kau mau kau bisa terus datang mengunjungi Alana" saut Brillo
"Tidak, aku sudah percaya padamu dan aku tidak mungkin salah"
Robert terus mengulur waktu agar bisa berlama lama disana, sehingga dia bisa memantau langsung perkembangan racun yang dia berikan.
Namun hingga waktu sudah menunjukan larut malam, tidak ada hasil dari penantian Robert dan itu benar benar membuat sangat marah.
Dengan menahan nafasnya yang memburu dia berkata " daddy harus kembali girl, ini sudah sangat larut".
"Baiklah daddy hati hati"
"Tentu!" jawab Robert dan langsung pergi dari sana.
Robert pergi dengan langkah tegas dan cepat, dia ingin segera melampiaskan kemarahanya dan setelah sampai, benar saja seisi kamar yang menjadi sasarannya.
__ADS_1
"Sia**n!" umpatnya "Alex...! Alex!" teiak Robert
"Ya tuan."
"Apa kau sudah bosan hidup!"
"Ampun tuan! saya juga tidak mengerti kenapa racun itu tidak bereaksi sama sekali"
"Seret kurir itu dan habisi dia! karena sudah membuat rencanaku gaga!" bentak Robert
"Baik tuan"
"Apa yang kau lakukan Elsa?"
"Sedang meneliti apa yang ada dalam makanan ini"
"Oh ya?"
Gilmax dan Hiebert mendekat melihat kucing yang menjadi kelinci percobaan Elsa, dan tak lama setelah itu, mereka menyaksikan bulu kucing itu mulai rontok dan tubuhnya mengering, tapi dengan proses yang lama.
"****!" umpat Gilamx dan Hiebert bersamaan.
"Mereka mau meracuni nona Alana dengan racun ini!" seru Elsa.
"Itu tidak aka lernah bisa di lakukan!" sentak Gilmax.
"Kau dan Maydeline tetapalah awasi nona muda, apa pun itu harus kalian amati jangan sampai kecolongan sedikitpun terutaman untuk makanan nona Alana!" tidak Gilmax.
"Baik tuan Gilmax" jawab mereka bersamaan.
Gilamax dan Hiebert sudah berada di hadapan Brillo dengan Kerenza yang berasa di pangkuannya, walau jengah dengan sikap bos mereka tapi mau bagaimana lagi mereka harus bisa manahan diri.
"Katakan!"
Brillo selalu bisa menebak kedua orang kepercayaannya ini, jika sudah langsung menghadap dirinya maka ada insformasi penting yang wajib ia ketahui.
"Ada racun dalam makanan yang tadi di kirim oleh kurir itu, dan racunya berpotensi untuk merontokan fusngi kerja tubuh, sehingga akan mengalami rontok dan kulit yang keriput, walau butuh proses tapi tidak akan bisa di hentikan jika sudah mengenai tubuh"
Kerenza terkejut mendengar penuturan Gilmax, karena dia awalnya berpikir jika makanan itu adalah pesana salah satu dari mereka bertiga dan lagi sikap santai mereka membuat dia tidak menaruh curiga sedikitpun.
"Bagaimana mungkin itu terjadi?"
Kerenz hendak bangkit dari pangkuan Brillo tapi di cehah oleh cekalan tangan Brillo "tetap di tempat love"
"Elsa dan Maydaline sudah mencobanya dan kucing yang memakan makanan itu mengalami rontok bulu dan tubuhnya mulai mengering dam keriput.
__ADS_1
"Tapi bukankah makanan yang kami makan sa dengan yang dia antar kurir tadi?"
"Tentu! karena Elsa kebetulan memasak makanan yang sama, dan dia pun memilih lebih menyajikan apa yang sudah dia sediakan dan menyimpan yang di antar oleh kurir yang ternyata beracun".
"Cari kurir itu sampai ketemu, dan paksa dia membuka mulutnya untuk mengatakan siapa yang menyuruhnya mengantarkannya kemari!" tegas Brillo.
"Baik tuan muda"
"Love kau harus berhati hati dimana pun posisi dirimu, karena aku tidak akan bisa selalu bersamu"
Brillo dan Kerenza kembali berbincang setelah kepergian kedua asistennya, tangannya mengelus lembut pipi Kerenza dan kemudoan menciumnya.
"Aku tidak tau kenapa akhir akhir ini aku selalu terlihat santai dan meremehkan masalah ini"
"Karena sudah ada aku yang mengurus semuanya" jawab Brillo dengan senyumnya.
"Tapi aku tidak ingin mengandalkanmu di setiao saat Brillo"
"Tapi aku menginginkan hal itu" jawab Brillo "sudahlah tidak perlu memikirkan banyak hal, yang paling penting adalah kau harus bisa lebih teliti lagi"
"Baiklah terimakasih"
Kerenza mencium pipi Brillo, dan kemudian mengusapnya dengab senyum menggoda terbit dari bibirnya.
"Oh my Angel, tidak cukup jika hanya seperti ini"
Brillo langsung menyerang bibir Kerenza dengan rakus, dan Kerenza dengan senang hati membalas serangan Brillo tak kalah ganasnya.
Penyatuab cinta antara keduanya kembali terulang, dan rasanya Brillo tidak puas jika hanya dengan sekali saja dan Kerenza harus pasrah dengan semua keinginan dan kemauan suaminya.
"Bagaimana jika aku hamil Brillo?"
Saat ini kegiatan panas sudah selesai dan mereka masih memiliki tenaga untuk berbincang di atas ranjang milik mereka.
Pertanyaa Kerenza sukses membungkam mulut Brillo, dia senang jika istrinya hamil, tapi dia juga khawatir jika Kerezan hamil dalam keadaan situasi yang belum baik di takut jika akan membahayakan calon anak mereka nanti.
"Kenapa kamu diam?"
Kerenza berbalik untuk bisa menatap Brillo, posisinya kini menyamping dan tangannya di gunakan sebagai bantal, sehingga kini mereka sudah saling berhadapanan.
"Tentu saja aku senang, dan itu sudah aku nantikan" kilah Brillo.
"Sungguh"
"Tentu. dan kita harus lebih giat lagi membuatnya"
__ADS_1
Selesai berkata begitu, Billo kembali lagi memulai kegiatan mereka yang selalu di sambut baik oleh Kerenza karena dia juga menginginkannya.
TBC